Category Archives: Ready to Bite Someone's Head Off
Good Parenting Starts From Setting Good Examples
Menurut saya, perbuatan atau memberikan contoh adalah cara mendidik anak paling ampuh. Kita bisa saja sampai berbusa menerangkan mana yang baik dan mana yang buruk tapi anak tetap akan meniru perbuatan orangtuanya (yang kadang bertolak belakang dengan apa yang diajarkan). Ini adalah salah satu tantangan besar menjadi orangtua.
Semalam kami pergi jalan-jalan ke PIM dan terjadi sebuah insiden cukup bikin saya ‘panas’. Saat kejadian, Igo digendong oleh Febri dan posisi saya kira-kira 2-3 meter di depan mereka. Entah kenapa saya merasa harus menoleh ke belakang. Ketika saya menuruti perasaan itu, DHUENG, Febri sedang telentang sembari melindungi kepala Igo di depan salon Rud* H. Ternyata saat Febri jalan melewati salon tersebut, ada anak kira-kira berusia 4-5 tahun lari melesat ke dalam salon. Karena tak sempat mengelak, Febri (dan Igo) pun terjatuh. Read the rest of this entry
Bukan Karena Dipakai Sembarangan dan Bukan Pula Anak Sapi
#1 Minggu lalu seorang menteri habis dicerca oleh publik di dunia maya karena membuat pernyataan (yang dianggap) bodoh karena main seenaknya memuat istilah yang dilontarkan mantan menteri kesehatan.
#2 Dua hari lalu istilah “anak sapi” kembali mencuat entah siapa yang memicu (malas cari tahu).
Apa kesamaan dari kedua kasus di atas? Menurut saya, kedua kasus di atas menunjukkan betapa orang Indonesia masih sering cuek bebek terhadap perasaan sesamanya. Memang sih jika ditilik maksud kedua kasus di atas itu ada baiknya. Pak Menteri (mungkin) mau memperingatkan publik soal penyakit tertentu yang salah satu penyebarannya melalui seks bebas tapi dia kurang peka. Orang yang menggunakan istilah “anak sapi” (mungkin) hanya ingin mengampanyekan ASI eksklusif tapi lagi-lagi dia kurang peka.
Kurang peka pada siapa sih? Haloooo…ada kelompok lain lho di luar sasaran mereka. Kasus #1 tentu saja menyinggung publik terutama mereka yang memang memiliki kondisi HIV positif bukan disebabkan oleh seks bebas (atau perbuatan melanggar norma lainnya). Kecaman datang dari sana sini. Kasihan Pak Menteri. Makanya, pak…lain kali jangan asal ketik. Kasus #2 membuat kelompok ibu-ibu geram…terutama ibu yang tidak bisa memberikan ASI eksklusif, termasuk saya. Jangan salah, saya mendukung gerakan ASIX (dengan asyik tentunya). Saya paham sekali rasa bangga yang dirasakan para ibu yang berhasil lulus S1-S2 ASI…gini-gini saya juga pernah merasakan jatuh bangunnya memberikan ASI pada anak, ngerti kok kalau bisa lulus S1 saja rasanya seperti surga dunia. Tapi saya tidak habis pikir jika kondisi positif tersebut yang harusnya bisa memotivasi lingkungan malah dijadikan bahan jumawa. Apalagi sampai bisa mengeluarkan pernyataan “..karena anak saya bukan anak sapi”. Lah, kalau si anak ASIX yang diperkenalkan bukan anak sapi itu lantas doyan keju, yogurt lalu minum susu UHT…sapi juga kan jadinya? [Eh, kalau keju atau yogurt dari susu kambing jadinya kambing sih bukan sapi...eeeaaaaa!] Saya tidak pernah bertanya pada teman atau keluarga soal minum susu apa anak mereka. Itu bukan urusan saya. Saya lebih senang mengampanyekan ASIX (atau hal lain yang berkaitan dengan parenting) dengan cara berbagi pengalaman.
Dunia nyata dan dunia maya memiliki kesamaan, kita kudu pakai otak sebelum membuka mulut. Apalagi di Twitter tuh…140 karakter tok. Tantangan banget bagi orang Indonesia yang menulis panjang lebar di blog saja masih suka belepotan menerangkan sesuatu.
It’s Not Us, It’s You
Salah satu hal yang amat sangat ingin kami cegah dirasakan oleh Igo adalah perasaan punya utang budi. Mudah-mudahan hal tersebut berhenti pada kami saja. Amin.



