Occupation: Yummy Mummy & Freelancer

Sedari kecil saya selalu membayangkan jika kelak dewasa, saya ingin menjadi diplomat dan hampir semua orang tahu akan hal ini. Namun, ada satu cita-cita yang saya simpan rapat:  menjadi stay-at home mom, menjalankan tugas sebagai istri dan ibu tetapi juga memiliki aktivitas lain, misalnya mengerjakan sesuatu yang bisa dilakukan paruh waktu dan tentu saja, di rumah. Mengapa saya menyimpannya dalam hati? Karena saya dibesarkan di dalam keluarga besar (bukan hanya keluarga inti) yang mendidik dan mempersiapkan saya untuk menjadi wanita bekerja (saya lebih suka terminasi ini karena bukan termasuk tipe orang  yang mengejar karir). Saya setuju dengan pemikiran keluarga, seorang wanita seharusnya memang dipersiapkan untuk terjun ke dunia kerja, walaupun pada akhirnya keputusan kembali ke individu yang menjalani. Alasannya sederhana, jika terjadi sesuatu pada pencari nafkah utama (God forbid), masa keluarga lantas tak terpenuhi kebutuhannya? Hanya saja situasi dalam keluarga inti saya ‘memaksa’ keluarga besar untuk ekstra menggembleng saya soal dunia kerja. So being a stay-at home mom definitely not the option (then).

Memasuki bulan ke-4 atau 5 kehamilan, satu per satu anggota tim majalah tempat saya (dulu) bekerja “berguguran”. Saya tak punya pilihan lain, saya harus bertahan. Siapa yang mau menerima karyawan yang sedang bunting coba? Plus, kebutuhan juga mengharuskan saya untuk tetap bekerja. Akhirnya, saya jalani masa itu dengan berat, berulang kali keinginan untuk mundur muncul tapi berulang kali pula saya tepis. Selain butuh pendapatan tambahan, saya juga perlu pengalamannya. Tapi memang, kehamilan membuat sedikit “kegagahan” saya luntur, di saat tenggat waktu mendera, sering sekali saya berucap dalam hati..mudah-mudahan Allah memberikan jalan keluar yang terbaik untuk saya ke depannya.

Ucapan adalah doa. Ketika saya mengajukan cuti melahirkan, Pak General Manager punya kejutan lain. Saya tidak diangkat menjadi karyawan tetap (kebetulan kontrak kerja berakhir tepat saat cuti melahirkan diajukan) alasannya bukan karena performa kerja yang kurang bagus tetapi karena mereka berencana untuk menutup majalah itu. Kaget? Pasti! Selain sudah membayangkan gaji buta yang akan diterima selama cuti melahirkan, I also like the fact that I have a job to return to. Di lain sisi, saya juga lega, ini artinya Allah telah memberikan jawaban atas doa saya. Berarti yang terbaik untuk saya (dan keluarga) saat ini adalah menjadi ibu rumah tangga. Lucunya, saya yang biasanya panik jika ada perubahan besar bisa menghadapi situasi tadinya-dua-pendapatan-sekarang-satu-jadi-harus-atur-anggaran-ulang tersebut dengan tenang.

Saya percaya anak adalah pembuka jalan rezeki. Saya pun tak lama-lama berpangku tangan, rupanya perusahaan salah perhitungan dan tidak bisa menutup majalah lisensinya dengan mudah, mereka pun meminta saya menjadi kontributor tetap. Alhamdulillah, rezeki Igo. Dari jaringan teman saya kerap kali mendapat pekerjaan; menulis artikel atau menerjemahkan sesuatu. Memang sih duka menjadi seorang freelancer kerap kali menghantui, apalagi kalau bukan deg-degan menunggu honor. Terbiasa dengan gaji tetap yang masuk ke rekening tiap tanggal 28 membuat saya selalu khawatir dalam mengatur anggaran rumah tangga. Tapi tak lama, saya pun terbiasa.

Tak terasa saya sudah menjadi stay-at home mom selama kurang lebih 7 bulan. Sukanya? Saya bisa melihat perkembangan anak tanpa terikat waktu. Dukanya? Selain harus bergulat dengan menyeimbangkan anggaran dan pendapatan, saya pun harus pintar-pintar memberikan jawaban terhadap pertanyaan keluarga besar, “Kapan kamu akan kembali bekerja?” As if being a mother AND working as a freelancer not a real job. Suami mendukung apapun keputusan saya, selama saya memiliki komitmen penuh terhadap keluarga. Saya sudah mulai mengirimkan CV sejak melahirkan Igo tapi belum ada satu pun yang nyantol, mungkin Allah masih ingin saya di rumah dengan Igo..I believe Allah’s plan is the best there is for me and my family. Rezeki tak akan lari jika kita maksimal berusaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s