Enjoy Your Free Time While You Can

Omongan orangtua memang seringkali baru terasa akibatnya setelah kita beranjak dewasa terutama saat mulai memiliki keluarga kecil sendiri. Dulu, rasanya kok rempong banget orangtua menasihati agar berpikir ulang, lagi dan lagi soal pernikahan. Katanya puaskan dulu diri menikmati masa muda. Ternyata bukan hanya gertak sambal belaka. Saat melepas masa lajang (dan jalang) dua tahun lima bulan lalu (duile segitu apalnya), usia saya dan suami bisa dikatakan cukup  “pas” untuk menikah yaitu 26 tahun. Setelah melalui masa pacaran 8 tahun cocoklah ya kami memutuskan untuk masuk ke jenjang yang lebih serius. Reaksi keluarga? Keluarga besar saya, yang kebetulan lebih strict soal ini karena latar belakang keluarga inti saya dan masa lalu suami (this is a whole other story), bisa menerima rencana kami. Keluarga suami? Bisa terima banget! Haha.

Dari awal rencana itu dibuat, saya sudah wanti-wanti kepada suami kalau saya sebenarnya tak ingin langsung punya anak. It’s a risky statement but I knew I needed more time to prepare myself. Dan ia tidak keberatan. Walaupun sudah berpacaran lama, perubahan status tetap membutuhkan proses adaptasi yang tidak mudah. Bulan berganti bulan, suami tampak ingin sekali cepat dikaruniai anak. Dan akhirnya saya pun berpikir, sampai kapan pun kita tidak akan 100 persen siap menjadi orangtua. Akan selalu ada keraguan baru tiap kali yang lama terjawab. Ucapan memang doa, dulu saya pernah berdoa dalam hati, mohon diberikan waktu berduaan dengan suami paling tidak setahun. Dan memang Allah Maha Tahu, HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) saya ketika itu jatuh satu bulan setelah ulang tahun perkawinan kami yang pertama.

And just like that another new journey has started. Benar saja, saya tak putusnya bersyukur Allah telah memberikan waktu satu tahun untuk kami berbenah diri, masa kehamilan dan awal punya anak benar-benar membutuhkan kerja tim yang solid. Terlepas masa adaptasi berbadan dua, saya menjalani masa kehamilan dengan semangat 45. Saya juga tak mau kehilangan waktu berdua dengan suami karena begitu si bayi lahir, dapat dipastikan waktu itu akan (jauh) berkurang. Dan ini membutuhkan masa adaptasi lagi.

Yup, I was right. Hormon yang naik turun pada saat dan setelah kehamilan seringkali membuat saya merasa down.  Bukan tak senang memiliki anak, tapi saya merasa hidup saya hanya diisi dengan kegiatan seputaran rumah saja; urus anak, urus suami, beberes padahal sebelumnya saya benar-benar bukan tipe rumahan. Belum lagi melihat status FB dan Twitter teman yang bertukar informasi tempat kongkow baru misalnya, ugh rasanya saya ketinggalan jaman sekali! Pada saat itulah saya mengerti apa yang dimaksud orangtua soal puas-puasin masa muda. Bukan lantas saya kurang puas dengan “masa muda” dulu lho. Haha. Yeah, I think you got my point. Just cherish every waking moment alone with your spouse before the stork arrives because you’ll going to miss it for a VERY long time once you become parents.

PS: Baru tersadar, entah sudah berapa lama saya tidak maraton DVD serial TV favorit tanpa gangguan (-_-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s