Safety Riding Or Else

Siapa yang benci pengendara motor ugal-ugalan? Wuih, yang mengacungkan tangan ada 12.367.897 orang..hihihi. Dan saya termasuk di dalamnya. Bagi pengendara motor yang kebetulan sedang blog walking jangan langsung kirim komentar pedas ke saya lho. Saya (dan suami) juga memakai sepeda motor untuk beraktivitas tetapi kami berdua selalu berusaha menaati peraturan yang ada. Dimulai dari perlengkapan diri; helm (bukan jenis helm topi atau helm sepeda pula), jaket, sepatu dan celana panjang, hingga tertib berlalu lintas. Tertib lalu lintas itu mudah sekali lho tapi mengapa banyak orang yang cuek bebek ya soal hal ini. Padahal semua untuk kebaikan kita sendiri. Pakai helm misalnya, akan melindungi kepala jika terjadi benturan. Jaket, walaupun membuat kita berkeringat, menghalangi kulit tergesek permukaan kasar jika terjadi kecelakaan. Celana panjang? Sepatu? Kurang lebihnya sama dengan kegunaan jaket.

Rabu minggu lalu suami pulang dan memencet bel serta klakson motor berulang kali. Sampai kesal saya mendengarnya. Ketika saya membuka pintu garasi, suami langsung meminta saya mengambilkan minum untuk seorang ibu paruh baya yang sedang duduk di dekat pagar. Rupanya bunyi “PRAKK” yang 10 menit sebelumnya saya dengar adalah bunyi kecelakaan motor di depan rumah. Dan ibu ini salah satu korbannya. Tanpa pikir panjang saya pun meminta ibu itu untuk duduk di teras saja karena ia nampak syok. Motor yang dikendarai oleh anak perempuannya tak bisa menghindar dari motor lain yang tiba-tiba muncul dari arah dalam komplek, motor itu tidak memakai lampu apalagi sen. Ketika si ibu duduk, ada seorang pria muda bercelana pendek menghampiri beliau dan meminta maaf. Ini dia nih pengendara ugal-ugalan..darah saya pun naik ke ubun-ubun. Saya bertanya kemana helm miliknya dan ketika ia menjawab bahwa ia berkendara tidak memakai helm. Ceramah safety riding pun mengalir deras dari mulut saya, bertambah lagi setelah saya tahu kalau ia berkendara berdua dengan tunangannya yang juga tidak memakai helm dan akibat dari kecelakaan itu, kaki kanannya luka terbuka. “Tunangannya, mas? Kalau tunangan artinya mas ini sayang, cinta sama dia. Lalu tega ya naik motor bodong tanpa kelengkapan begitu?”, cerocos saya. Ia hanya bisa menatap lantai teras. Saya kemudian bercerita soal kecelakaan yang saya dan suami alami tahun lalu, bahwa saya yang sudah memakai perlengkapan cukup memadai saja harus rela menginap sehari di RS untuk observasi karena gegar otak ringan. Mana si penabrak lantas memakai kartu aduh-saya-orang-tidak-punya-bagaimana-ganti-ruginya. CIS!

Setelah berceramah kepada pria muda itu, perhatian saya kembali tertuju kepada si ibu, yang ternyataaaa tidak juga memakai helm. Anaknya? Pakai jaket tapi tidak pakai helm. Oh my God! Ah tapi masa bodoh, mudah-mudahan ibu dan anak itu merasa disentil mendengar ceramah saya. Si ibu kemudian meminta maaf karena anak lelakinya (yang pada saat itu sudah datang setelah ditelepon si kakak perempuan) menghubungi dua adiknya yang menurut si ibu bertemperamen tinggi. Saya pun langsung menjawab sigap, “Jika sampai terjadi keributan, maaf, saya terpaksa menghubungi keamanan komplek”. Benar saja, ketika kami sedang memeriksa kerusakan kedua motor di depan pagar, datang sebuah motor dogol dengan bunyi knalpot (sok) meraung-raung. Kedua pengendaranya tidak memakai helm, bercelana pendek dan belok tanpa menggunakan sen. Oh my God! What is wrong with these peopleeee?!?!?!? Tanpa tedeng aling-aling, salah satu dari mereka menghampiri pria muda tadi dan memukulnya sembari berteriak, “Anak mana lo?”, si ibu kemudian merangkul pria muda itu agar anaknya tak lagi melayangkan bogemnya, tunangan pria muda itu menangis histeris. What the fuck? Tanpa pikir panjang, suami langsung menghadang lelaki kedua yang nampak bersiap masuk dalam “arena pertempuran”. Saya? Entah mendapat keberanian dari mana, saya menarik lengan pria yang memukul si penabrak kemudian membentaknya, “Lo nanya dia anak mana..sekarang gue kasih tau ya, gue anak sini dan apapun ini rumah gue. Kalo ribut di sini, akan gue panggil keamanan biar lo diangkut sekalian.” Eh omelan emak-emak ini ampuh juga. Semua jadi tenang Hahaha.

Akhirnya, mereka mencapai kesepakatan soal ganti rugi, entah apa..saya dan suami tidak mau tahu. Ketika makan malam, saya dan suami ngobrol lagi soal kejadian tadi. Suami menyayangkan tidak ada orang yang sigap menolong kedua motor itu, hanya dia yang langsung berhenti dan membantu, yang lain hanya lewat sembari….apa lagi kalau bukan menonton. Sebenarnya kalau mau menuruti ego, saya dan suami pun malas membantu motor dogol kecelakaan. Biar jadi pembelajaran. Tapi dari sisi manusiawi, tetap saja kita punya kewajiban menolong, ya kan? Aduh, sudahlah para pengendara..motor, mobil, angkutan umum…taati saja peraturan yang ada, apa sih susahnya. Jalan raya kan milik bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s