Enjoying Pre-Motherhood Time

Melihat Igo tidur nyenyak saya jadi ingin menulis soal pengalaman untuk “mendapatkan” anak. Syukur Alhamdulillah saya dan suami diberikan waktu berduaan yang cukup oleh Yang Di Atas, satu tahun. Masalah kapan mau punya anak tidak pernah kami bahas secara serius tetapi sesekali muncul dalam percakapan sebelum menikah dulu. Jujur, saya yang ingin “menunda” dengan alasan yang sangat manusia banget:

1. Secara mental saya merasa belum siap jadi ibu. Tanggung jawabnya seumur hidup lho. Tidak cuma asal hamil lalu brojolin.

2. Kurang percaya diri akan kondisi finansial kami. Ya, terkadang saya memang terlalu logis sampai lupa memasrahkan diri.

3. Walaupun kami melalui masa pacaran delapan tahun, saya yakin sekali dalam memasuki “dunia baru” nanti akan ada masalah-masalah kecil yang timbul karena harus beradaptasi dan saya ingin hal ini tuntas sebelum si kecil datang.

Untungnya suami sependapat dengan saya terutama alasan nomor dua. Memang benar apa yang dikatakan banyak orang mengenai ucapan adalah doa. Selama setahun itu saya tak sekalipun ‘telat’ padahal tidak memakai alat kontrasepsi apapun. Menunda kok tidak pakai alat kontrasepsi? Di sinilah Libranya saya (malah menyalahkan zodiak), ingin menunda tapi juga tak ingin mendahului Yang Di Atas. Ya, kalau dikasih Alhamdulillah berarti waktu terbaik untuk kami punya anak adalah saat itu. Kalau belum, Alhamdulillah juga karena masih ada waktu menabung dan berduaan.

Februari 2008 saya dan suami mengalami kecelakaan motor di depan rumah teman. Kami ditabrak dari belakang oleh pengendara motor lain ketika hendak belok masuk ke rumah teman padahal suami sudah memberikan tanda ingin belok (baik lampu maupun tangan). Singkat cerita, untuk merawat tangan suami yang “katanya” retak, seorang teman memberikan nomor telepon seseorang yang dulu pernah merawatnya setelah mengalami kecelakaan motor. Saat pemijat itu datang ke rumah, kami baru tahu kalau beliau tak hanya bisa merawat hal yang berkaitan dengan tulang tetapi juga hal lain salah satunya adalah susah punya anak. Beliau menawarkan diri untuk memijat saya. Saya sih mau saja karena memang maniak pijat. Haha. Menurut diagnosa beliau produksi telur saya kurang maksimal (whatever that means) dan prediksinya Insya Allah saya akan hamil tidak lama setelah sesi pijat selesai (disarankan pijat empat kali berturut-turut). Oh, bapak itu juga berkata sambil lalu kalau anak pertama kami laki-laki.

Tiga bulan setelah selesai sesi saya telat datang bulan. Tak mau terlalu excited saya berusaha cuek. Tetapi teman-teman dari milis tercinta menyemangati untuk membeli test pack, alasannya sederhana, sehari-hari saya menggunakan sepeda motor dan bus sebagai alat transportasi. Kalau hasil tes positif, saya bisa segera ke dokter untuk kemudian mendapatkan vitamin (jika diperlukan, obat penguat kandungan). Okay, reasonable enough. Jadilah saya mampir ke apotek dalam perjalanan pulang, suami lembur jadi kami tidak pulang bersama. Dan besok paginya saya langsung tes, hasilnya dua garis. I felt so excited and jittery. Mama yang sedang menikmati kopi paginya kaget ketika saya sodorkan hasil tes tersebut, bukan kaget karena dua garis lho tapi karena beliau bingung. “Apa sih artinya?”, tanya mama yang notabene adalah seorang dokter. Jiah! Mungkin beda jaman kali ya. Selesai menjelaskan, baru deh beliau memberikan selamat. Dan saya pun membangunkan suami untuk mengabarkan berita ini.

Langkah berikut yang kami ambil adalah membahas rencana konsul dan persalinan. Suami ingin sekali saya melahirkan di RS Asih dengan alasan di sana masuk wilayah Jakarta jadi nanti anak akan terdata sebagai warga Jakarta bukan Depok. Gyahahaha. Pemikiran lucu. Sedangkan saya ingin konsul dan melahirkan di RS Puri Cinere saja, dekat dan mudah dicapai, jaraknya hanya 2 km dari rumah. Konsul pertama kami pergi ke RS Asih ingin menemui seorang dokter yang cukup ternama (beliau juga praktik di RS Puri Cinere, just in case saya harus konsul sendiri saya bisa ke RSPC saja karena dekat). Ketika tiba di RS Asih, saya mendapat urutan pertama untuk dokter tersebut. Which is odd karena dokter ini laku banget. Benar saja, ternyata beliau sore itu tidak praktik. Akhirnya karena ini baru konsul pertama, kami memutuskan untuk konsul kepada dokter penggantinya. Ternyata usia kehamilan saya waktu itu adalah 4 minggu dan 4 hari.

Jujur saya merasa kurang sreg dengan dokter ini, oleh karenanya saya mencari tahu melalui teman, dokter kandungan mana sih yang mereka rekomendasikan. Seorang teman yang cukup selektif memilih apapun menyarankan agar saya konsul ke Dr. Aswin Sastrowardoyo (yes, he’s Dian Sastro’s uncle. He is also a band player, owns both Facebook and Twitter account) dengan pertimbangan beliau ini sangat detil dalam menerangkan perkembangan janin dan telaten menjawab pertanyaan pasien. Sepertinya sudah takdir saya harus melahirkan di RS Puri Cinere. Karena Dr. Aswin praktik di sana dan dari segi biaya, RS Asih dan RS Puri Cinere terpaut jauh sekali.

Ternyata benar, saya dan suami merasa cocok sekali dengan Dr. Aswin. Sabar dan telaten. Hal lain yang saya suka dari beliau adalah tidak royal memberikan vitamin atau obat. Bahkan obat penguat kandungan yang diresepkan dokter pertama dihentikan olehnya karena saya dianggap cukup kuat tanpa obat tersebut. Vitamin yang diberikan juga tidak mahal (ini kemudian berlaku pula pada pil KB yang ia sarankan untuk kontrasepsi saya).

Masa kehamilan dilalui saya dengan cukup mudah. Tidak ada rasa mual yang berlebihan atau menurunnya nafsu makan. Soal ngidam, entah yang saya rasakan itu ngidam atau tidak tapi saya selalu ingin makan daging kambing. Rasa ingin itu muncul pada jam-jam normal tidak seperti banyak cerita dimana si ibu hamil tiba-tiba ingin makan gudeg (misalnya) saat tengah malam. Saya berusaha memiliki pola makan lebih seimbang, toh hamil atau tidak kita memang diharuskan makan 4 sehat 5 sempurna kan? Lebih sering mengonsumsi sayur dari sebelumnya, berusaha keras makan buah dan menegak susu lebih banyak dari biasanya. Susu yang saya minum juga bukan susu khusus, Dr. Aswin bilang semua kandungan susu khusus itu sudah ada di dalam vitamin yang ia berikan jadi buat apa memberatkan kerja ginjal lebih jauh lagi. Favorit saya adalah susu Ultra coklat serta Indomilk plain dan coklat. Bagaimana dengan kopi? Saya memang bukan termasuk penggila kopi hitam tetapi tiap hari saya selalu memulai aktivitas dengan menyeduh kopi instan berkrim. Biasa minum segelas, saat hamil saya memotong jatah itu hingga separuhnya. Bukan apa, walaupun masih banyak hasil penelitian soal kafein dan ibu hamil bertentangan, lebih baik saya batasi karena dalam keadaan tidak hamil pun kafein membawa efek diuretik, jantung berdebar dan insomnia. Apalagi kalau hamil? Plus, kegilaan saya akan Teh Botol Sosro belum sirna, jadi saya harus antisipasi asupan kafein dari sini (jika kebetulan hari itu bandel saya kumat dan memesannya).

Pregnancy is indeed a magical time. The excitement of having a human formed inside you, the attention you get, the first kick (or punch, how could one knows?). For all of you mom-to-be just relax, don’t get too paranoid. Let nature take its course and enjoy the ride!


PS: Cerita pengalaman melahirkan akan saya copy-paste dari blog saya yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s