If It’s So Easy, Why Don’t You Do It?

Beberapa hari lalu seorang teman RT tweet temannya yang berisi (kurang lebihnya) begini “Menurut teman saya, ibu rumah tangga hanya seonggok daging tak berguna”. Napsu? JELAS! Hahaha. Saya langsung reply RT tersebut, “Kalau temannya teman lo itu laki, gue doain dia ga ada yang mengurus walaupun sudah menikah sekalipun”. Di jaman serba canggih seperti sekarang ini (dan bisa dipastikanlah yang asal buka mulut itu latar belakang pendidikannya tidak seperti ART (Asisten Rumah Tangga)), masih ada orang yang memiliki pemikiran seperti di atas. You’re so shallow and downright stupid.

Bagi mereka yang berpikir pekerjaan IRT (Ibu Rumah Tangga) itu mudah, saya persilakan mencobanya selama dua hari. Walaupun seorang IRT telah dibantu ART bukan lantas pekerjaannya menjadi JAUH lebih ringan. Memangnya mudah mengatur barisan ART? Memangnya ART tidak perlu diawasi? Sama seperti halnya seorang penyelia di perusahaan, IRT yang dibantu ART memang tidak banyak melakukan pekerjaan kasar seperti sebelumnya tetapi tanggung jawabnya lebih besar lagi karena harus terus menerus meneropong agar segala sesuatunya berjalan baik dan benar. Masih segar dalam ingatan tweet dan status Facebook pada libur lebaran lalu, kurang lebihnya semua orang mengeluhkan hal yang sama; rindu keberadaan ART yang pulang kampung. Nah, untuk mereka yang bekerja, pekerjaan rumah itu berhenti ketika mereka hendak pergi ke kantor dan belum tentu juga dilanjutkan kembali ketika pulang ke rumah.

Belum lagi jika IRT membeli sesuatu untuk keperluan dirinya, pasti anggapan “Ngabis-ngabisin uang jerih payah suami saja bisanya” langsung lekat. Pernah tidak terpikir oleh mereka yang saya bilang bodoh di atas, kalau menjadi IRT itu tanggung jawabnya LEBIH BESAR daripada menjadi kepala negara? IRT harus bisa menyeimbangkan perannya sebagai istri, pendamping, rekan satu tim, ibu dan panutan keluarga. Belum lagi menjalankan “jabatan” lainnya seperti (misalnya) menjadi Menteri Keuangan keluarga yang harus pusing mengatur anggaran rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan yang menggunung sedangkan pendapatan masih berupa bukit.

IRT kan enak, di rumah saja..tidak harus pergi ke tempat kerja, tidak harus berkutat dengan macetnya jalanan ibukota. Oh yeah? Seorang IRT harus siap sedia 24 jam sehari, 7 hari seminggu tanpa gaji, bonus dan THR. Cuti? Bah, apa pula itu? Wong sakit saja belum tentu bisa menegak obat lalu tidur dengan tenang. Masih juga berpikiran IRT itu tidak berguna?

One thought on “If It’s So Easy, Why Don’t You Do It?

  1. ih mann bnr bgt!! gue FTM sering bgt dgr omongan kyk gt. dr sodara deket, temen, dll.

    yg plg ga enak tuh ama kel suami. apalagi gue termsk penggila shopping. terlihat gue spt cm bs ngabisin duit suami. disindir?ahh sudah biasa buat gue hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s