Ternyata Kuncinya: “Santai”

Semua orang yang mengenal saya pribadi pasti tahu kalau saya selalu merencanakan segala sesuatu hingga detil dan seringkali bete jika rencana utama gagal atau “hanya” beralih ke rencana cadangan. Oh dan saya cenderung perfeksionis, I want to be the best in everything I do. Belakangan, setelah beberapa bulan menjadi seorang ibu, saya baru menyadari fakta ini: sepertinya perencanaan detil (dan sifat perfeksionis) ini salah satu alasan (yang tak terucap) saya tak ingin langsung hamil setelah menikah. (Menurut saya) perencanaan saat punya anak bayi itu dobel ribetnya belum lagi si bayi tidak (baca: belum) bisa bertoleransi kan?

Ketika tahu soal kehamilan itu, saya pun berjanji pada diri untuk bisa lebih santai menghadapi hidup. Bahwa dalam hidup, rencana itu perlu tetapi tak melulu harus dijadikan kiblat. Saya harus lebih bisa menjalankan prinsip hope for the best, prepare for the worst. Terbukti saya sangat santai menjalani masa kehamilan dan waktunya melahirkan.

Lalu apakah kemudian santai ini berlanjut ketika status berubah menjadi ibu? Ternyata ya. Di saat hampir semua teman saya “takut” memandikan bayi baru lahir, saya langsung terjun praktik di hari pertama pulang dari RS. Modalnya hanya mengingat pengalaman membantu mama mengurus kedua adik yang usianya terpaut cukup jauh dengan saya. Ada sih waktunya saya panik dan biasanya berakhir dengan sumpah serapah, haha, salah satunya adalah saat memakaikan kasa pada pusar Igo tiap kali habis mandi. Bagaimana nggak panik? Tanpa anak nangis saja, kasa beralkohol itu susah sekali ‘diatur’ apalagi ditambah anak jejeritan?

“Anak itu terbentuk dari pembiasaan lingkungan”. Yak, setuju (I know someday this will come back and bite me right on the ass) sekali! Karena ingin anak menjadi seorang yang ‘tahan banting’, saya dan suami sepakat untuk tidak terlalu paranoid soal segala macam hal yang berhubungan dengan anak. Perbanyak informasi, sortir dan serap. Pemilihan susu formula salah satunya, seorang teman menyarankan agar kami mencoba memberikan Igo susu formula berembel “HA” karena menurutnya ini akan meminimalisir risiko ketidakcocokan. Lho memangnya tahu darimana Igo pasti tidak cocok? Setelah membaca tabel nutrisi pada beberapa kemasan, kami pun berkesimpulan bahwa isi susu formula bayi (non HA) itu sama, yang membedakan adalah reaksi penerimaan anak. Alhamdulillah, Igo langsung cocok dengan merek pertama yang kami beli.

Ketika Igo berusia 4 bulan, si mama mulai ribut soal pemberian makanan pendamping. Wajar, beliau kan ‘cetakan’ lama. Saya dengan sabar memberitahu kalau ‘cetakan’ baru itu menyarankan agar makanan pendamping diberikan ketika anak berusia 6 bulan. Karena si mama keukeuh jadilah saya browse sana sini soal makanan pendamping dan juga bertanya pada DSA. Ternyata ada beberapa ‘syarat’ anak boleh diberikan makanan pendamping walaupun usia belum mencapai 6 bulan. Dan Igo memiliki ‘syarat’ tersebut. Plus, DSA juga memberikan lampu hijau karena Igo minum susu formula tanpa campuran ASI.

Kalau kebanyakan ibu (dari yang saya baca saat blogwalking, email di milis dan forum) heboh dengan riset makanan pendamping pertama apa yang sebaiknya diberikan pada anak, saya lagi-lagi menerapkan prinsip “Perbanyak informasi, sortir dan serap” dengan penekanan pada kata “sortir”. Yang penting saya tahu dasarnya, selebihnya? Igo yang memegang kendali, toh yang punya perut kan dia😀. Kalau tidak cocok, ya tinggal ganti. Kalau cocok, keep it dan modifikasi dengan yang cocok lainnya. Saya juga tidak heboh dengan perubahan jadwal pup, tekstur dan warna. Selama dalam kondisi “normal” (tidak cair dan tidak sering), jalan terus..yang saya hebohkan hanyalah perubahan bau. Hahahaha.

Soal perlengkapan anak juga sama. Dulu rasanya mau banget jadi idealis. Harus harus bla bla bla karena endeskrei endebrei. Untung (dasar Jawir!) kondisi finansial kami juga sedang tidak mendukung pembelian mubazir, jadi saya memang benar-benar harus menyortir apa saja yang harus dibeli termasuk merek dan kegunaan. Pokoknya aturan dasarnya adalah aman dan nyaman untuk anak (dan kantung ayah ibu, hihi). Tak perlu brand minded-lah. Untuk anak, biasanya ‘perlengkapan perang’-nya harus bersih ya pemilihan barang berangkat dari poin ini. Ini juga saya tekankan tiap kali saya buka suara di forum tertentu. Bahwa perlengkapan anak tak melulu harus mahal yang penting fungsinya terpenuhi.

Ah, ini mungkin yang dimaksud komentar teman-teman ketika tahu saya akan (kemudian telah) menjadi ibu: “Nggak lo banget deh, Man”. Haha.

2 thoughts on “Ternyata Kuncinya: “Santai”

  1. Emang kebanyak informasi jadi suka distorsi…ga tau aja bingungin,tau banyak lebih bingungin hehehe pada akhirnya ya kita juga yang spt lo bilang nyotir dan aplikasiin sendiri yg mnurut kita paling sesuai utk bayi kite.igo lahap makannya mand?

    • Lagian kadang2 kl kebanyakan teori suka keblinger. Yg penting soal makanan pendamping, kita tau dasar2nya selebihnya trial and error. Alhamdulillah lahap. Ga suka puree2 gitu jd tahap puree ga lama, begitu udah tau ga alergi apa2..langsung tancap tim x) so far so good.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s