Think Before You Open Your Mouth (or Type)

Dulu, saya dan suami sering dipusingkan dengan pertanyaan khas basa basi di Indonesia. Apalagi kalau bukan, “Kapan nikah? Kan sudah lama pacarannya?” Dan ketika akhirnya pertanyaan itu tak perlu kami jawab ternyata muncul rentetan pertanyaan (juga komentar) TIDAK PENTING lainnya seperti: “Kok belum hamil?”, “Kok hamilnya kecil amat?”, “Gila, hamil jadi gendut banget lo ya!” (of course you moron). Saya masih bisa mentolerir pertanyaan dan/atau komentar yang ditujukan kepada saya pribadi tetapi jika komentar itu ditujukan kepada Igo, mommyzilla will kick you in the ass. Bukan, saya bukan tipe ibu yang selalu membanggakan anaknya kepada orang lain atau dengan PD-nya men-tag foto anak  ke semua akun FB teman atau bahkan (God forbid) membicarakannya non stop kepada semua orang, saya cuma tidak suka anak saya dibandingkan dengan anak lain. Igo ya Igo bukan si A atau si B.

Salah satu hal yang membuat saya akhirnya hanya menjadi silent reader forum atau milis “ibu-ibu” adalah karena ujung-ujungnya saya merasa terganggu dengan pembahasan yang ngalor ngidul tidak tepat sasaran plus pasti di tiap bahasan para ibu itu tidak lupa mencantumkan kelebihan anak masing-masing. Jadi ingat pengalaman lebaran lalu, seorang kakak ipar (yang baru sekali melihat Igo, don’t ask why :D) bertanya kepada saya, “Anakmu itu umur berapa ya?” ketika saya menjawab enam bulan lantas ia berkomentar, “Oh, ternyata lebih tua dari Akbar (anak dari keponakan suami yg usianya waktu itu 3 bulan) ya. Kok lebih gemuk si Akbar sih?” Sepertinya masa pacaran saya dan suami yang sekian tahun itu tidak membuat dia paham peringai saya, gyahahaha. Langsung saya balas, “Jelas aja, Akbar tingginya berapa? Igo lebih tua artinya tinggi dan beratnya pun berbeda dengan Akbar. Lagipula untuk anak yang penting bukan gemuk atau tidak. Gemuk tidak berarti sehat.” Kesel deh bok dengernya!

Catatan #1: Untuk dikatakan SEHAT, anak tak harus GEMUK!

Itu baru bahasan soal BB, bahasan soal kemampuan anak beda lagi urusannya. “Oh, anak saya usia sekian sudah bisa bla bla endeskrei endebrei”. Kalimat itu pamungkas banget kalau ada perkumpulan ibu-ibu. Plis deh, perkembangan anak sesuai usia memang ada patokannya tetapi tidak melulu harus dijadikan kiblat dan dijadikan bahan pamer jika kemampuan anak kebetulan telah melampaui his age mark. Jangan pernah lupa bahwa anak adalah seorang individu yang tentunya tidak bisa disamakan dengan individu lainnya. Apa Anda sebagai orangtua mau jika disamakan dengan orangtua lainnya?

Catatan #2: There’s a very thin line between proud of your kids and being a complete as*hol*.

Pertanyaan lain yang sering dilontarkan dan menurut saya mengganggu adalah yang menyangkut soal susu dan makanan anak. Karena Igo full susu formula jadi pertanyaan atau komentar selanjutnya setelah, “Ga ASI ya? Susu formulanya apa?” dan biasanya ini kelanjutannya setelah mendengar jawaban saya,  “Kok cuma minum SG* sih? Cari yang murah ya, jangan pelitlah sama perkembangan anak…belikan susu yang mahalan, yang ada AHA-DHA”. ZzZzzzZ. FYI, kandungan susu bayi semua sama (kecuali beberapa jenis yang khusus untuk bayi sensitif laktosa atau alergi) yang membedakan adalah reaksi si anak terhadap susu tersebut. Buat apa mengambil risiko anak tidak cocok dengan susu yang JAUH lebih mahal jika jelas-jelas ia sudah cocok dengan merek tertentu yang mungkin lebih murah tetapi memiliki kandungan yang sama? Soal mainan juga begitu, siapa sih yang mau memberikan anaknya sesuatu yang tidak berguna? Percayalah, orangtua (yang waras) ingin yang terbaik untuk anaknya jadi apapun yang diberikan kepada anaknya tidak perlu dipertanyakanlah (please bear in mind that I’ve stated “yang waras” on the beginning of this sentence). Keputusan itu diambil kan setelah melalui bermacam proses.

Catatan #3: Do your research before opening your mouth and stop being a wise ass.

Saya rasa sudah waktunya mengubah pertanyaan atau komentar basa-basi yang sering dilontarkan saat bertemu teman atau keluarga. Jika Anda tak punya bahasan yang cukup baik dan netral, lebih baik tutup mulut dan senyum manis saja. Karena Anda tak pernah tahu impact dari basa-basi yang basi banget itu.

6 thoughts on “Think Before You Open Your Mouth (or Type)

  1. Hai Mbak,
    Salam kenal ya.
    I totally agree with you. Bener banget! Soalnya point-point yang diceritain di atas tadi pernah aku alamin sendiri.
    Annoying banget! Kadang mereka merasa cuma komen atau statement basa-basi, tapi mereka gak sadar kalo itu ternyata itu menyakiti orang lain.

    • Hello..salam kenal juga. Basa basi itu kan ada aturan juga..kl ga pake aturan namanya asal jeplak😀 hehehe. Gue link ya ke blog lo…suka baca juga sih…hohoho…

  2. Bok, anak lo montok gitu masi dibilang kurus? Apa kabar anak gw! Heuheu..yah bgitulah emang komentar2 itu akan selalu ada ampe anak kita kawin nanti acara kawinannya jg dikomentarin, ampe liang kubur juga masi dikomenin, susah emang hehehe..

  3. gyaaa,bener banget man…kalo gw biasanya dapet komen langganan gini : gemuk ya anaknya…oooo…dikasi formula juga sih ya? pantes gemuk…ati-ati lho, anak formula suka banyak yang obesitas.

    gw biasanya nyengir aja. oiya, sama gw juga suka males mampir ke forum” ibu”…niatnya mau cari pengetahuan, dapetnya malah kedongkolan, hehehe…mendingan google website yang netral” aja dey.

    • Yg bikin dongkol sebenernya yg komen jg pengetahuannya blm tentu lebih baik dari kita😀 tp sotoy.

      Soal forum, gue akhirnya banyak jadi silent reader aja. Hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s