Bijak Dalam Pemberian Obat

Jika Anda sudah punya anak (atau tinggal bersama keponakan mungkin?), perlengkapan paling penting di musim hujan eh pancaroba eh hujan…err…di musim seperti sekarang ini lah (mulai gak jelas kapan musim hujannya sih) adalah obat-obatan. Pada dasarnya, saya enggan menyimpan obat untuk Igo, kenapa? Karena saya sebenarnya ingin sekali menerapkan RUM alias Rational Use of Medicine dimana pemberian obat harus sesuai dengan kebutuhan klinis, dengan dosis yang sesuai dengan individu yang membutuhkan obat tersebut, diberikan hanya dalam jangka waktu yang diperlukan dan tak lupa, ringan di kantung (nope, this is not about the money. Kesehatan adalah prioritas utama tapi kita seringkali lupa bahwa obat terbaik kadang bukanlah yang paling mahal). Atas dasar pertimbangan RUM tadi saya jadi ragu menyimpan obat khusus Igo di rumah. Tetapi kakak ipar meyakinkan saya kalau hal tersebut (menyediakan obat tertentu di rumah) wajar dilakukan. But since I rarely get the chance to go out, this plan was postponed.

Dua minggu lalu Igo mulai batuk bertepatan dengan jadwal konsultasi bulanannya, jadi sekalianlah kami berdiskusi dengan DSA-nya mengenai obat. Dan berikut adalah obat yang disarankan DSA Igo untuk selalu tersedia di rumah:

  • Untuk demam atau panas: Sanmol, Tempra
  • Untuk pilek: Nipe
  • Untuk batuk berdahak: Mucopect
  • Untuk diare: Lacto-B dan Pedialyte (semacam Oralit untuk anak-anak)
  • Transpulmin
  • Bioplacenton

Namun, DSA Igo mengingatkan agar kami bijaksana dalam memberikan beragam obat tersebut. Untuk batuk berdahak kemarin, Igo hanya disarankan untuk memperbanyak asupan air putih dan juga buah. Jika dahaknya belum ‘pecah’ juga dan Igo terlihat sulit mengeluarkannya, baru Mucopect beraksi. Itu pun harus berhati-hati karena tidak semua anak cocok dengan obat ini. Saya memilih malam hari untuk memberikan obat tersebut karena setelah itu Igo bisa langsung beristirahat ketika obat mulai bekerja. And it worked. Igo lebih mudah mengeluarkan dahaknya, good boy!

Ternyata musim tidak jelas ini membuat diare dan infeksi saluran pencernaan menjadi ‘wabah’. Tiba-tiba saja Igo pup lebih dari 2 kali (frekuensi standar dia) dengan tekstur yang lama kelamaan menjadi lebih cair. Nennanya panik dan heboh menyuruh kami menelepon Pak DSA yang pastinya sedang menghabiskan waktu libur bersama keluarganya itu. Untung Pak DSA mau menerima konsultasi mendadak, jadilah kami pergi ke rumah orangtua beliau (yang kebetulan juga seorang DSA) malam itu juga. Diagnosanya:

  1. Bisa jadi Igo hanya ‘salah’ makan alias jorse karena usianya masuk dalam fase semua-ingin-dimasukan-ke-dalam-mulut. Jika ini benar terjadi maka diare diharapkan hanya terjadi 1-2 hari.
  2. Setelah mendengar suara dalam perut Igo dengan stetoskop, ada kemungkinan terkena infeksi pencernaan karena pergerakan usus lebih cepat dari biasanya. Solusinya? Bisa saja Pak DSA memberikan obat yang langsung menghentikan diare tetapi beliau menjelaskan bahwa hal ini bukanlah yang terbaik untuk balita. Sebaiknya anak dibiarkan diare karena dengan ini kuman terbawa keluar sampai habis, perkiraan masa harus tega ini adalah 2-3 hari. Tugas utama orangtua adalah menjaga agar si anak tidak dehidrasi. Melihat bibir Igo yang agak kering, Pak DSA kemudian menyuruh kami untuk memberikan Pedialyte selama 3 jam berturut-turut (dan tiap kali habis buang air besar yang cair) agar terhindar dari dehidrasi.

Syukur Alhamdulillah hari ini Igo mulai membaik dan kembali aktif (setelah kemarin lesu seharian ditambah ruam popok yang membuatnya rewel). Makan, seperti yang disarankan DSA hanya diberikan bubur polos dan susu, doyan banget padahal Lacto-B saya campur di dalam buburnya. Susu juga seperti biasa. Alhamdulillah deh!

Sedia payung sebelum hujan tak ada salahnya. Tetapi jangan lupa untuk mencari info lebih banyak lagi mengenai diagnosa dokter dan bijaksanalah dalam memberikan obat kepada anak (atau diri Anda serta anggota keluarga lain).

PS: Waktu Pak DSA menulis resep sembari menjelaskan obat yang diberikan, saya sibuk menggendong Igo dan perut keroncongan jadi pendengaran kurang maksimal (ga mau dibilang budek saja sih ini :D). Ketika beliau berkata, “Lacto-B ya, Bu…boleh dicampur di susu atau bubur kok”, saya membalasnya dengan, “Ok, Dok…narkobi ya? Ya ya”. Bok, lo kate narkoba tapi pere? Narkobiiiiii…. (-_-)’

4 thoughts on “Bijak Dalam Pemberian Obat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s