Ganda Campuran: Ibu dan Pekerja

Oh rindunya saya menulis di sini *lebayatun*

Mulai 7 Desember lalu saya resmi menjadi pasukan ibu bekerja kantoran (harus ada “kantoran” karena IRT pun sebenarnya adalah ibu bekerja, ya kan?). Kerja dimanakah saya? Di kantor baru tapi lama, lho kok bisa? Karena dulu, dua tahun lalu, saya pernah tercatat menjadi karyawan di kantor tersebut. Pulang kandang istilahnya. Bedanya sekarang saya menduduki posisi yang lebih “tinggi” (dengan tanggung jawab JAUH lebih banyak) dari sebelumnya. Alasan kembali bekerja? Sederhana: kebutuhan.

Seorang teman pernah berkata pada saya, “Man, hari gini ibu kerja kantoran itu sih bukan karena pilihan saja tapi juga karena kebutuhan”. Dan ya, keluarga kecil kami termasuk dalam kategori membutuhkan dua pemasukan agar bisa berjalan dengan baik. Jangan salah, sejak beberapa bulan lalu kami sudah mengencangkan ikat pinggang. Prioritas nomor satu adalah Igo, kebutuhan ayah dan ibu nomor bontot. Tak perlu saya rinci pos mana saja yang dipangkas, yang pasti beberapa bulan terakhir saya jadi semakin akrab dengan ipar-ipar. Haha secara tiap akhir minggu kami pasti berkunjung ke sana supaya menghindari mal. Yeah, I think you understand my point.

Jika ditanya mana yang lebih saya sukai; menjadi FTM (full time mom) atau ibu bekerja kantoran, jawaban saya adalah yang pertama. Saya bukan tipe perempuan yang butuh pekerjaan sebagai wujud eksistensi diri atau sekedar mengisi waktu, saya bekerja untuk mencari (tambahan) nafkah, titik. Jadi, selama kebutuhan menuntut saya untuk bekerja, terpaksa hal itu saya jalani (dengan ikhlas tentunya).

Dengan resminya saya bergabung kembali dengan pasukan lama artinya saya juga menjadi bagian dari kelompok ibu-pusing-soal-ART-karena-beragam-alasan. Selama ini Igo saya urus sendiri dengan bantuan dari ART paruh hari yang telah enam tahun ikut keluarga kami, Ida. Biasanya si Mbak ‘megang’ Igo ketika saya mandi, makan atau mengerjakan pekerjaan freelance. Karena ia masih mempunyai kewajiban lain yaitu memasak dan sedikit beberes membantu ART lainnya, kami pun memutuskan untuk mencari FTM(k) alias “Full Time Mbak”.

Ternyata krisis ART sedang terjadi dimana-mana, kami yang lebih menyukai mendapatkan SDM dari orang terpercaya pun kelimpungan. Masuk minggu kedua saya bekerja, FTM(k) belum juga nongol. Rencana darurat pun dilakukan, Mbak Ida sekarang hanya bertugas untuk masak dan ‘megang’ Igo. Kegiatan masak dilakukan saat Igo tidur siang, jika tidak memungkinkan, ART lain akan mengawasi Igo hingga masak selesai. Downside dari kondisi ini adalah Mbak Ida harus datang lebih pagi dan tenaganya lebih terkuras. Kami pun sepakat akan memberikan tambahan untuknya mulai bulan ini hingga nanti menemukan FTM(k) yang cocok. Plus side? Saya tak perlu (terlalu) was-was meninggalkan Igo karena saya sudah percaya dengan Mbak Ida. Igo pun tak perlu beradaptasi lagi.

Beruntung kantor saya berlokasi di Kemang, hanya berjarak tempuh 30-45 menit (dengan motor) dari tempat tinggal kami di Pondok Labu. Jam kantor dimulai pada pukul 08.00 dan berakhir pada pukul 17.00. Saya berangkat bersama suami, biasanya melambaikan tangan ke Igo pukul 07.15 dan pulang bersama ojek langganan (suami Mbak Ida), disambut oleh senyuman Igo (karena antusias lihat motor ojek bukan saya, red (-_-)’) sekitar pukul 17.30. Not bad kan? Selama saya ada di rumah (sebelum berangkat kerja, pulang kerja dan akhir minggu), semua kebutuhan Igo saya yang layani termasuk cuci botol, peralatan makan, mandi, dan bermain sampai-sampai suami tidak perlu lagi membantu (please notice that this is a very sarcastic line). Ya, saya tak mau menjadi ibu bekerja kantoran yang kemudian dengan tidak sadar menempatkan anak di posisi ke sekian karena alasan capek. Itulah risikonya.

Setelah hampir dua minggu menjalani peran dobel, saya semakin hormat pada sesama ibu, IRT dan juga ibu bekerja kantoran. Karena masing-masing profesi membutuhkan stamina dan mental yang kuat. IRT bekerja tak kenal waktu (dan gaji), ibu bekerja kantoran pun sama. Pulang kantor langsung beralih peran menjadi ibu “murni”. Dan saya bersyukur, saya bisa menjalankan kedua peran ini dengan dukungan penuh dari suami.

4 thoughts on “Ganda Campuran: Ibu dan Pekerja

  1. harharahara iri! bisa sampe rumah jam setengah 6! tapi gw bisa berangkat jam 9 lebih (setelah menyiapkan makanan, mandiin, memberi makan dan meninabobokan)..jadi yaa plus minus deh :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s