Yang Tak Terprediksi

Satu hal yang luput dari pemikiran saya ketika masa pencarian FTM(k) alias “Full Time Mbak” berakhir adalah penyabotasean (tak disengaja) masa adaptasi FTM(k). Walaupun Siti sebelumnya sudah pernah bekerja menjadi sitter tetap saja harus melalui masa orientasi di rumah kami, peraturan dan kebiasaan kami pasti berbeda kan dengan keluarga tempat ia bekerja dulu. Saya menjelaskan dan juga memeragakan semua yang ia perlu ketahui soal Igo kecuali mencuci botol susu (saya tidak mempercayakan hal ini pada ART). Dan esok harinya, Mbak Ida bertugas untuk menjadi mata saya di rumah. Ia juga saya amanatkan untuk melatih Siti agar cepat mendapat selah Igo. And of course, I call the house every three hours, LOL.

Selama beberapa hari laporan Mbak Ida berisikan hal yang sama; “Igo ga mau main sama Siti”, “Igo ga mau makan kalau disuapi Siti” atau “Kalau aku lagi di dapur, Igo suka merangkak mencari aku lho”.  Dua hari pertama saya masih menganggapnya SANGAT wajar. Igo sudah 9 bulan, usia dimana ia sudah sangat mengenali lingkungan dan orang-orang yang seringkali berada di sisinya dan sitter lamanya masih tetap bekerja di rumah (which made the process harder), tentu saja Igo butuh waktu lebih untuk klik dengan sitter barunya. Awalnya saya bergurau dan berkata pada Ida, “Kamu ga ikhlas sih, Da. Jadi Igo susah adaptasinya” but in the end it was kinda the reason why Igo’s having trouble adjusting (and also Siti).

Ida menikah satu bulan sebelum saya dengan kakak dari mantan ART saya dulu. Cinlok ceritanya. Tapi hingga kini ia belum juga hamil. Ketika saya hamil dan akhirnya melahirkan Igo, ia pun turut larut dalam kesenangan. Akhirnya gajinya saya berikan ekstra sebagai upah membantu saya mengurus Igo di luar tugas utamanya. Hasilnya? Igo cukup dekat dengan Ida dan suaminya. Mereka berdua pun terlihat senang sekali dengan hadirnya Igo di rumah. Anyhoo, saat long weekend pertama Desember kemarinlah saya baru benar-benar bisa mengawasi kerja Siti secara langsung. Apa yang saya ajarkan diterapkan dengan baik olehnya, memang ada waktunya Igo angot dan tidak mau digendong atau diajak main oleh Siti tetapi masih dalam batas kewajaran. Lalu apa laporan Ida palsu? Tidak, hanya sedikit hiperbola. Tentu saja Igo akan mencari Ida, wong lagi asyik main dengan Siti..Ida sesekali lewat sembari menggodanya, “Dagh Igoooo, tinggal yaaa” (-_-)’.

Saya pun menjelaskan ulang situasi ini pada Ida. Tenaga Siti dibutuhkan karena Igo harus selalu diawasi, tidak bisa disambi mengerjakan tugas lainnya seperti dulu apalagi saya sudah kembali bekerja. Tetapi tenaga Ida pun tetap diperlukan sebagai pemain cadangan, bergantian dengan Siti ketika ia hendak ke kamar mandi atau makan plus Ida juga naik pangkat menjadi penyelia alias supervisor. Cukup ampuh, Ida pun perlahan-lahan ‘mundur’ dan membiarkan Siti menjalankan tugasnya. Saya juga menegaskan jika tugas utama Ida sudah selesai, ia bisa bermain dengan Igo.

Bagaimana dengan Siti? Ia cukup gigih beradaptasi dengan Igo di tengah gempuran rasa cemburu Ida. Saya sering melontarkan kalimat-kalimat pendukung padanya, “Wah, Igo pintar ya. Makannya ludes lho sama Mbak Siti” atau “Seru kan, Go main sama Mbak Siti?” Mudah-mudahan dengan begitu rasa percaya diri Siti terdongkrak dan  proses adaptasi berjalan lebih lancar lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s