Father Issue

“Untung keluargamu juga mirip kondisinya dengan keluarga kita,” kata kakak ipar pada saya sesaat setelah acara lamaran saya dan suami selesai. Satu hal yang tidak pernah terlintas di pikiran saya selama sekian tahun membina hubungan dengan suami. Ya, saya tahu betul seluk beluk keluarga suami sebagaimana ia juga tahu setiap ‘tikungan’ keluarga saya. Suami datang dari keluarga broken home, orangtuanya resmi bercerai ketika suami duduk di kelas 6 SD. Bapak mertua adalah suami kedua dari ibu mertua. Sebelumnya, ibu mertua pernah menikah dan suami pertamanya meninggal. Dari pernikahan pertama, ibu mertua memiliki tujuh orang anak. Hahaha, subur ye. Sedangkan saya, walaupun datang dari keluarga berjumlah anak standar (tiga) tetapi perjalanan hidup pernikahan orangtua tidak bisa dikatakan standar dan berakhir dengan perceraian beberapa tahun lalu.

Tidak pernah terbersit sedikit pun di otak saya untuk mencari pasangan hidup yang “senasib” dengan dalih pasti akan lebih mengerti kondisi keluarga saya. Semua berjalan apa adanya. Dan mungkin saja saya lantas menjadi lebih nyaman bercerita soal keluarga kepada suami (saat masih berstatus calon) karena suami berasal dari akar yang kurang lebihnya sama. Harus saya akui hubungan saya dengan ayah saya memang tidak baik, hubungan suami dengan ayahnya pun sama saja. Kami punya alasan kuat mengapa hubungan itu tidak cepat-cepat diperbaiki. Tetapi bukan berarti kami tidak berusaha sama sekali.

Tak ada orang yang akan bisa mengerti apa yang telah kami lalui dengan sosok ayah masing-masing kecuali orang tersebut pernah mengalami hal yang sama persis. Kami punya satu aturan: kami harus ingat bahwa apapun yang pernah terjadi tidak boleh memengaruhi kami dalam menunaikan kewajiban sebagai anak. As much as I hate going to my grandparents’ house to see my dad, we still visited him there every eid and the same thing goes to my husband too. Mama saya bersikeras Igo tidak boleh dibawa dan diperkenalkan ke keluarga ayah saya. Terdengar egois tapi saya mengerti alasannya. Tapi saya mengingatkan beliau, apapun, keluarga ayah adalah keluarga Igo juga. Dan menjaga tali silaturahmi dengan mereka adalah kewajiban saya dan suami sebagai anak.

Bisa terbayang kan sibuknya kami saat Idul Fitri tiba? Lebaran lalu adalah kali pertama Igo dibawa ke keluarga para ayah. Jujur, sebenarnya saya sedikit lega dengan kehadiran Igo, bukan apa…artinya pamit pulang bisa dilakukan lebih cepat dari biasanya, hihihi. Igo juga jadi ice breaker di saat topik pembicaraan mulai basi😀. Seperti kata Desmond Tutu, “You don’t choose your family, they’re God’s gift to you as you are to them.

2 thoughts on “Father Issue

  1. Jadi inget seorang teman cowok yang dipaksa putus oleh ortunya dengan alasan, pacarnya produk broken home. Yang nyebelin, temen gue ini manut aja, padahal he’s almost 40 dan udah kebelet banget untuk segera menikah. Oh well, life’s not that simple I guess. Masih banyak orang yang berpikiran picik ternyata (-_-‘)

    • Gue sama laki gue ga pernah mikir soal label “broken home” itu..tapi setelah menjalani masa pacaran sekian tahun..jadi ngeh..lah napa keluarga sama2 blangsaknya ya? LOL. Walaupun keluarga kami berdua tidak pernah mempermasalahkan background keluarga tp harus diakui..punya pasangan dng background sama itu lebih gampang nerimanya. Plus kita juga bisa saling mengingatkan satu sama lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s