Si Upik Abu

Kembali soal ART. Pasukan ART di rumah (nenek) saya ini ada empat orang, sounds a lot but the chores really need this amount of help: Dwi (tugas utama menjaga nenek dan tugas sampingan melakukan pekerjaan rumah tangga), Ida (tugas utama menjadi komandan dapur dan bebersih, tugas sampingan tandem menjaga Igo dengan Siti), Sri (tugas utama membantu Bu Komandan Ida) dan Siti, yang tentu saja tugas utamanya menjaga Igo selama saya dan suami bekerja. Ida dan Sri tidak menginap di rumah alias ART pulang hari karena mereka sudah berkeluarga, Sri bahkan sedang mengandung 6 bulan.

Sebenarnya saya merasa kurang cocok dengan pemikiran nenek dijaga oleh ART biasa bukan perawat jompo karena beliau butuh atensi 100 persen bukan 50-50 seperti yang selama ini terjadi. Tapi apa boleh buat, beliau memaksa agar ia ‘ditemani’ ART biasa dengan pertimbangan gaji ART lebih murah dan bisa diminta mengerjakan bantu-bantu ART lain mengerjakan tugas rumah tangga. Ketika saya mencari ART khusus untuk Igo, Ida sudah sounding bahwa ia akan cuti cukup lama setelah selesai memberikan panduan pada nanny baru Igo. Ah, ada-ada saja. Memang sih alasannya cukup masuk akal, dia ingin istirahat setelah bekerja 6 tahun di keluarga kami. Siapa tahu saat cuti dia dan suami diberkahi kehamilan, ya mereka sudah berumah tangga hampir tiga tahun tetapi belum kunjung hamil.

Seperti yang sudah direncanakan (Ida bukan kami), setelah Siti terbiasa dengan lingkungan dan tugasnya menjaga Igo, Ida pun cuti. Dua bulan! Atau paling tidak sampai Sri berhenti bekerja. Sri memang keukeuh ingin terus bekerja hingga usia kehamilannya menginjak tujuh bulan. Kontan situasi ini membawa perubahan pada pekerjaan sehari-hari ART di rumah (nenek) kami. Sri memang sanggup menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik tetapi tidak bisa ditambah load-nya karena kondisi kehamilan yang semakin membesar, Dwi merasa ia sudah cukup kewalahan (apalagi suka nyambi teleponan sama pacar kan? huh) dan Siti tidak bisa diganggu gugat karena tanggung jawab utamanya sudah cukup berat. Jadi pos Ida cukup terbengkalai dan tebak siapa yang harus meluangkan waktu istirahat untuk ekstra bebersih? Saya.

Saya memang bukan tipe mentang-mentang-ada-ART-lantas-tidak-beberes-rumah-sendiri tapi batasan itu ada. Batas dimana saya harus stop membantu ART dan membiarkan mereka mengerjakan apa yang sudah menjadi tanggung jawab mereka. Di rumah (nenek) ini, saya menempati err…katakanlah satu ‘blok’ yang terdiri dari dua ruang kamar (kamar tidur dan kamar lemari) serta satu kamar mandi. I took full responsibility of it. Setiap hari saya merapikan dua kamar itu juga menjaga agar kamar mandi tetap rapi dan bersih, ngosek yang detail sih seminggu sekali cukup. Tak peduli betapa capeknya saya di hari kerja, tapi rutinitas bebersih selalu saya lakukan termasuk menyapu dan mengepel. Maklum neat freak. Pekerjaan rumah juga tidak berhenti sampai di situ, saya seringkali merapikan di ruang publik seperti ruang makan, ruang keluarga, pantry dan dapur. Paling tidak tahan kalau melihat ada area rumah yang berantakan dan kelemahan ini selalu dimanfaatkan para ART (dan juga si mama serta adik-adik). Huh. Lalu bagaimana dengan adik-adik, bukannya mereka bisa dikerahkan untuk bantu-bantu? Not in my world. Ya bisa dikatakan mereka tidak dibiasakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga oleh si mama. Emang derita gue deh kalo bagian ini mah, tiap Lebaran juga begitu.

Saya tidak bisa menyalahkan Sri untuk mau mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya menjelang waktunya melahirkan. Saya pun pernah berada di posisinya, punya anak bukan perkara murah dan mudah. Tapi jujur saja, dari segi pihak yang memperkerjakan, kami merasa bersalah. Bagaimana tidak, kerja ART itu kan fisik semua…walaupun Sri terlihat mampu mengerjakan semua yang menjadi tanggung jawabnya, saya, mama, dan nenek kan pernah hamil…kita tahulah betapa remuknya rasa badan yang ‘dipaksa’ kerja saat hamil. Kami memilih untuk membuka pintu garasi dan pagar sendiri di saat hujan ketimbang harus melihat Sri yang membukakannya untuk kami. Kenapa bukan ART lain yang melakukannya? Karena biasanya hanya Sri yang available di waktu tertentu.

Mudah-mudahan cuti dua bulan Ida cepat berakhir…saya sudah capek hati dan fisik membersihkan dan merapikan (seluruh) rumah. Huhu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s