Tantangan Menjadi Orangtua

Walaupun ada yang bilang sejarah akan terulang kembali. Dan memang sering terjadi, saya dan suami menolak untuk mengikuti sejarah dalam hal mengajarkan pendidikan dasar anak, kecuali yang baik-baik tentu. Hehe. Ada saudara dari pihak suami yang berpikir kami berdua terlalu banyak aturan, lah suka-suka dong…anak yang diatur juga anak kami, bukan anak situ.

Padahal yang kami terapkan itu tidak serempong yang ‘dikeluhkan’ lho.

  • Soal car seat: walaupun kami belum punya mobil pribadi, kami sudah membiasakan Igo untuk duduk sendiri. Memang repot awalnya tapi Alhamdulillah Igo ‘mengerti’ soal konsep car seat ini. Semua demi keamanan dan kenyamanan bersama, hohoho.
  • Soal tanggung jawab: kami membiasakan Igo untuk tidak lempar tanggung jawab. Contoh ketika jarinya terjepit pintu lemari karena dia sedang masanya main buka-tutup pintu, kami tidak akan menyalahkan atau bahkan seolah-olah memukul pintu sebagai hukuman karena pintu menjepit tangan Igo. Cukup diberi pengertian bahwa itu adalah risiko main buka-tutup pintu. Igo pun sudah mulai mengerti kalau urusan beberes kamar, menyiapkan sarapan, dll dikerjakan sendiri oleh saya dengan dibantu suami bukan ART karena jika saya sedang membereskan tempat tidur, dia sering mencoba bantu dengan sok-sokan memukul-mukul kasur dengan sapu lidi. Haha. Harapannya sih supaya Igo tahu fungsi ART itu hanya membantu bukan menjadi pelaku utama.
  • Soal kesopanan dan menghargai orang lain: dimulai dari mengucapkan “terima kasih”, mengajarkan untuk berbagi mainan, mengalah, dan memperbaiki cara kami berinteraksi dengan orang lain misalnya ART di rumah. Yang sedikit sulit dari poin ini adalah saat suami menyetir mobil…haha maklumlah, saya dan suami tipe orang yang panasan kalau ada pengendara lain songong di jalan. But we’re working on it.
  • Berbicara dengan logis. Saya dan suami berpikir anak itu harus diperlakukan secara dewasa sesuai porsi. So we decided we’re not gonna spook or scare our kids in order to get them to understand. Misalnya: kalau Igo tiba-tiba nyelonong ke kamar lemari yang gelap untuk bermain-main, kami tidak akan melarangnya dengan menggunakan alasan yang tidak logis seperti di dalam kamar itu ada setannya atau menakuti-nakutinya soal gelap. Kami juga tidak akan menggunakan seseorang sebagai sosok yang ditakuti, misalnya seorang kakak ipar yang berkumis tebal. Hihi. Anak harus mengerti alasan dia tidak diperbolehkan melakukan sesuatu bukan ditakut-takuti agar tidak melakukan hal yang dilarang.
  • Pelafalan yang benar. Kami membiasakan Igo untuk melafalkan kata-kata dengan benar dengan harapan dia akan bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Jadi kami tidak memakai mimik untuk minum, mamam untuk makan, dll. Yang sering keceplosan itu bobo😀. Hehe. Menurut seorang kakak ipar, anak akan belajar melafalkan kata dengan benar jika sering dinyanyikan lagu. Dan ini berhasil dia terapkan pada ketiga anaknya. Jadi saya mengekor saja.

Sebenarnya apapun aturan yang akan orangtua terapkan pada anak-anaknya kuncinya hanya satu: konsisten dalam kondisi dan situasi apapun. Mudah-mudahan apa yang akan kami terapkan dalam keluarga kecil kami bisa diwujudkan. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s