Singgasana Igo

Dulu waktu kami bersiap-siap menyambut kedatangan Igo (baca: belanja keperluan bayi), saya sudah siap dengan daftarnya…siap coret yang tidak perlu maksudnya. Haha. Yep, kadang saat belanja keperluan bayi rasa “ingin” bisa menimbulkan rasa “butuh” tanpa disadari. Dan ini sangat kami hindari karena jujur saja, anggaran belanja kami cukup pas-pasan. Pas untuk yang penting saja. Ada beberapa kelengkapan tetap dimasukkan ke dalam daftar tetapi prioritasnya tidak dinomorsatukan, salah satunya adalah car seat. Lho kenapa di-pending pembelian barang ini? Sederhana saja, selain masalah dana…kami berpikir bahwa kami masih akan jarang ke luar rumah dengan membawa serta Igo.

Sebenarnya seberapa penting sih car seat ini? Sangat penting. Tapi karena kondisi di Indonesia berbeda dengan negara-negara lain, car seat masih menjadi kebutuhan tersier. Kenapa bisa begitu? Ini hasil pengamatan saya *sok*:

  • Pendapat pasangan muda (biasanya baru memiliki satu anak) biasanya didominasi oleh orangtua mereka alias kakek-nenek si bayi yang merasa justru anak akan lebih aman berada di pangkuan atau gendongan orang dewasa di mobil.
  • Merasa belum perlu karena belum punya mobil pribadi (tapi bisa pinjam mobil milik keluarga). Why waste money for something that you knew would be rarely used? Ya kan?
  • Ruang gerak di mobil jadi terbatas karena otomatis si bayi dihitung sebagai “orang dewasa” karena car seat membutuhkan ruang lebih.

Saya dan suami belum diberi rezeki untuk memiliki mobil pribadi tapi biasanya kami bisa meminjam mobil keluarga untuk bepergian yang akan mengajak Igo. Hasil rembukan akhirnya memutuskan bahwa kami akan membeli infant car seat. Dan beruntung seorang teman sedang ingin melego car seat milik anaknya yang sudah harus beralih ke toddler car seat. Sikat deh. Memang sih beli car seat itu jangan yang bekas karena ternyata barang itu ada masa pemakaiannya. Tapi, lagi-lagi dana bersuara..maaf ya, Igo huhu. Awal penggunaannya, kami mendapat banyak komentar dari keluarga suami. Dari mulai Igo seperti raja saja punya kursi khusus hingga komentar mirip dengan poin ketiga di atas. Kami cuek bebek.

Masalah sangat penting muncul ketika pertama kali mencoba car seat di mobil keluarga: tidak tersedianya seat belt di bagian belakang mobil. Hadeh. Padahal idealnya car seat itu berada di belakang mobil bukan depan. Akhirnya kami menjepit infant car seat dengan kursi penumpang depan untuk mengakalinya (-_-)’, sekali lagi maaf ya, Igo. Selesaikah masalah? Tentu tidak! Ketika harus beralih toddler car seat, taktik kami tadi tak lagi bisa digunakan. Akhirnya kalau kami pergi dengan mobil keluarga terpaksa Igo duduk di kursi depan. Ahuhuhu. Belum lagi kalau kami hendak pergi bersama si mama dan kedua adik saya…ack! Tidak muat! Igo akan berakhir di pangkuan si mama sepanjang jalan.

Walaupun cara kami menjalankan kebiasaan ber-car seat ini masih setengah-setengah tapi kami sadar kok betapa pentingnya barang itu. Mudah-mudahan saja kami diberkahi rezeki lebih hingga dapat membeli mobil pribadi dan car seat yang lebih memenuhi syarat keamanan untuk Igo. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s