Safe For Your Own Good

Dibesarkan di tengah keluarga (besar) yang (Alhamdulillah) bisa mencukupi kebutuhan saya termasuk kendaraan roda empat, saya tidak pernah membayangkan saat memasuki usia dewasa, saya harus pergi kemana-mana naik motor. Lho kenapa berubah? Yeah well, yang saya manfaatkan itu adalah fasilitas keluarga besar bukan milik pribadi. Saya dan suami (waktu itu masih calon) biasa mobile dengan menggunakan transportasi umum tapi lama kelamaan kami berpikir alangkah lebih baik jika anggaran itu kami alokasikan untuk membeli kendaraan sendiri karena ongkos naik bus itu lumayan banget lho. Yang sesuai dengan anggaran kami adalah motor. Setelah melalui ‘perdebatan’ pro dan kontra memiliki motor dengan keluarga (besar) saya termasuk alm. kakek, akhirnya kami ‘diperbolehkan’ membelinya. Alm. kakek saya sempat keukeuh kalau naik motor itu berbahaya. Motor dan mobil sama bahayanya bukan, semua tergantung pengendaranya. Dan lagi, yang kami mampu beli sendiri adalah motor jadi ya..suka atau tidak, harus motor.

Setelah memiliki motor, saya harus melalui proses adaptasi yang cukup lama. Sebut saja; cuaca, perlengkapan berkendara, emosi, semuanya butuh penyesuaian. Dari awal, suami membiasakan saya dengan prinsip safety riding. Dia membuat aturan bahwa tiap kali mengendarai motor, saya harus memakai celana panjang (bahkan legging pun dilarangnya) agar kaki lebih terlindungi dari sinar matahari dan (God forbid) benturan, half face helmet, jaket, dan sepatu. Dasar perempuan, saya masih saja menawar aturan celana panjang itu…”Kalau aku lagi ingin pakai legging gimana?” Suami menjawab, “Boleh saja. Tapi di luarnya kamu harus memakai celana pasangan jas hujan, deal?” ZzZzzZ…baiklah. Untuk helm, saya tidak punya keberatan apapun. Saya cinta kepala saya, LOL. Akhirnya kami membeli sepasang helm Givi kembar di Motomart. Mahal? Relatif. Masa iya bisa beli motor tapi untuk beli barang yang akan melindungi kepala hanya mau mengeluarkan uang 15 ribu? It doesn’t make any sense.

Selain bawel soal apapun perlengkapan berkendara, suami juga (sangat) taat peraturan lalu lintas; tidak pernah menerobos lampu merah, naik trotoar, seenaknya mengambil jalur arah berlawanan demi menyalip kendaraan di depan. Ya prinsipnya “naik motor sudah memangkas waktu tempuh cukup banyak dibandingkan mobil jadi tak perlulah ugal-ugalan seperti kebelet buang air besar”. Kami pun membeli boks untuk menyimpan barang-barang seperti tas saya, jas hujan, dan tool kit. Tak peduli ejekan atau cemoohan motor kami terlihat seperti motor pesan antar restoran. Yang penting kami berkendara dengan aman dan nyaman.

Masalah timbul saat saya harus menggunakan jasa ojek untuk pulang dari kantor. Suami salah satu ART di rumah berprofesi sebagai tukang ojek jadi otomatis saya memakai jasanya. Nah, abang ojek ini berkendara semaunya sendiri (baca: tidak menaati peraturan lalin). Tiap ada celah, masuk. Tiap kali terlihat ada antrian walaupun sedikit, naik trotoar. Mepet sana, mepet sini. HADEH. Dan saya sudah berusaha membagi ‘ilmu’ keamanan berkendara tapi ya begitulah, tidak nyantol sama sekali. Kalau suami bilang sih pasti tidak bisa berubah karena pola pikirnya berbeda. I guess he’s right. Tapi karena saya membutuhkan jasanya, saya terpaksa harus ‘menerima’ kondisi tersebut. Biasanya saya akan lebih waspada (tidak seperti berkendara dengan suami yang tinggal duduk, hehe) alias menjadi spion tambahan si abang ojek dan memberitahukannya jika keadaan tidak aman untuk menyalip, belok, dll.

Suamiiiii, bisa-bisain dong jemput istrinyaaaaaa….atau beli mobil deh *lho*.

6 thoughts on “Safe For Your Own Good

  1. di Jakarta ini memang enakan pake motor man, karena macet dan emang gue ama ican mentalnya suburban, gak tahan macet. hehe.. gue bisa loh nyetir motor dari SMP. Bisa nabrak maxudnya..

    • Kl masih berdua sih ga masalah hanya ada motor. Masalah datang kl sudah ada anak, huhuhu..kudu pinjem sana-sini soalnya kl naik taksi buset harganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s