You Don’t Have To Like My Writing

Saya ini super bawel. Tanya saja suami, teman, dan keluarga saya. Tak cukup bawel di dunia nyata, saya merambah dunia maya. Sayangnya saya sudah tidak ingat kapan pertama kali membuat blog. Mungkin sudah enam atau tujuh tahun lalu. Dan melalui blog tersebut saya mendapat banyak teman baru. Bahkan kemampuan saya menulis serta menyunting kalimat (menurut (mantan) kolega yang dulu menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah lisensi) meningkat karena rajin mengisi blog dan siapa sangka dari sekedar iseng ternyata membuka ladang pekerjaan baru.

Motivasi saya menulis blog selain menyalurkan kebawelan adalah untuk berbagi pengalaman (entah baik atau buruk, LOL). Nah, berbagi pengalaman itu termasuk memberikan informasi mengenai hal tertentu yang sedang terlintas di pikiran atau sedang saya alami sendiri. Saya sengaja (mencoba) menggunakan bahasa Indonesia baik dan benar. Selain untuk mengasah kemampuan, saya juga ingin agar mereka yang telah meluangkan waktu mampir dan membaca menjadi tergerak untuk menggunakannya juga.

Tak hanya menulis, saya pun doyan sekali menyambangi blog milik orang lain alias blog walking. Kalau di dunia nyata ada tipe orang yang kurang cocok perangainya dengan saya, begitu pula dunia maya. Ada jenis-jenis blog yang tidak ‘sepaham’ dengan saya. Entah karena tema yang diusung atau cara penyampaian yang digunakan. Biasanya saya tidak akan kembali mengunjungi blog yang saya rasa kurang cocok selera itu. Tetapi ada pengecualian, seperti yang pernah disinggung sebelumnya, saya punya barisan blog yang terus menerus saya baca karena saya senang mencacinya. Mungkin karena saya iri dengan pencapaian si empunya blog (hey, I’m only human) atau bisa jadi karena saya kasihan karena si empunya blog seperti cari perhatian dengan mengumbar apa yang ia miliki. Barisan blog itu adalah guilty pleasure saya.

Tapi kalau ditanya apakah tiap blog yang memasang harga atau merek barang (dan/atau jasa) termasuk kategori pamer atau tidak. Saya akan menjawab tidak. Semua itu kembali lagi pada cara penuturannya. Menurut saya, kita bisa kok membedakan mana cara tutur yang pamer dan tidak. Tidak perlu saya jabarkan panjang lebarlah. Tapi, saya tidak pernah meninggalkan jejak alias berkomentar di blog-blog guilty pleasure itu. Mau komentar gimana wong mereka menulis di ‘rumahnya’ sendiri. Kalau memang dirasa terlalu uhm..tidak sejalan, ya sudah…tutup saja. Namun, perlu disadari juga oleh para “blogger” kalau di luar sana, pengguna internet datang dengan bermacam latar; pendidikan, sosial, pemahaman, toleransi. Kita tidak bisa memiliki ekspetasi tinggi kalau yang membaca tulisan kita sama pola pikir dan toleransinya. Semua hal yang berbau merek dan harga pasti akan mengundang pro kontra. Jadi berhati-hatilah dalam menulis tapi jangan juga cacian menyurutkan niat blogging.

6 thoughts on “You Don’t Have To Like My Writing

    • Haha, thank you.
      Same here..gue juga silent reader blog lo. Padahal ngakunya bawel ya..harusnya bawel reader. LOL.
      Marilah berkomen2…hihihi. Penasaran deh rumah lo bakal seperti apa setelah renovasi.

    • Heh..nama gue “Manda” bukan “Mama Igo”. Tampar ye.
      Jadi Mama Michiko ini gila atau baca blog gue ya? Kok cekikikan sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s