Bahkan Yang Terbaik Pun Ada Minusnya

Dari kecil keluarga mempersiapkan saya menjadi seorang wanita bekerja. Tak perlu ngoyo mengejar karir, yang penting saya bisa mandiri alias tidak bergantung dengan siapa pun termasuk suami. Mungkin hal tersebut dipicu oleh situasi orangtua saya. Tak usah saya jelaskan panjang lebar lah, pokoknya ceritanya tidak enak😀. Anyway, saya sepertinya tidak pernah memerhatikan bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan hidup juga, sampai ketika saya “dipaksa” tinggal di rumah,  menjalankan tugas sebagai IRT saat hamil tua dan kontrak kerja tidak diperpanjang oleh kantor lama.

Suami punya pendapat sendiri soal istri bekerja. Dia lebih suka melihat saya punya kegiatan di luar aktivitas mengurus rumah tangga. Dia juga menambahkan kalau dia sadar akan harapan orangtua dan keluarga saya, “Masa kamu susah payah disekolahkan sampai lulus kuliah lalu aku “paksa” jadi IRT?” Saya pernah bertanya bagaimana jika menjadi IRT adalah murni pilihan saya sendiri. Dia bilang dia tetap lebih suka saya punya kegiatan lain, entah itu usaha buka toko online atau menerima pekerjaan terjemah yang biasa saya lakukan. Suami saya berpikir dengan adanya kegiatan tambahan itu kemampuan saya akan terus terasah (tak ada maksud mengecilkan IRT yang tidak memiliki kegiatan di luar aktivitas rumah tangga lho ya).

Kebetulan kondisi finansial kami masih membutuhkan pemasukan (pasti) dari dua sumber, jadi setelah menjadi IRT (dan tenaga kerja paruh waktu) kurang lebih 9 bulan saya pun kembali bekerja di kantor. Menurut saya, menjadi IRT atau wanita bekerja adalah pilihan yang bersangkutan. Jika kondisi finansial kami cukup mapan dengan satu pemasukan pun, saya akan tetap memilih untuk bekerja. Mungkin terdengar egois but I need it for me. Bukan pendapatannya (itu hanya bonus) tapi saya butuh pengaktualisasian diri. Tentu saja saya mengerti risiko yang harus diemban, kodrat sebagai istri serta ibu HARUS tetap dijalani. Dan ini bukan perkara mudah.

Saya rasa menjadi IRT pun memiliki beragam risiko; pendapatan berkurang, jika itu tidak menjadi masalah risiko lain siap menghadang, sebut saja rentetan pertanyaan dari teman dan keluarga yang diiringi nada menyayangkan hal itu terjadi, dicibir jika kemampuan atau kondisi tubuh anak tidak termasuk kategori “normal” banyak orang. It sucks both ways! Tapi ya kembali lagi, itu sudah risiko. Kalau memang kesal karena susah mengatur anggaran rumah tangga dengan dana yang “segitu-gitunya”, ya kerja saja. Khawatir soal anak saat ditinggal kerja? Lagi-lagi itu risiko. Tidak ada yang bilang menjadi wanita itu mudah. Hidup memang penuh dengan situasi di mana kita mau tidak mau harus memilih dari sekian banyak pilihan yang tidak enak. Ingin lebih ringan? Jalani hal itu dengan penuh rasa syukur. Sesekali lihatlah ke bawah…terus menerus menengadah juga pegal kan lehernya?

Tuhan, maaf ya kalau saya banyak mengeluh soal hidup. Selalu ingatkan saya untuk terus bersyukur, apa pun kondisi saya (kami).

10 thoughts on “Bahkan Yang Terbaik Pun Ada Minusnya

  1. Kalo gw harus bekerja demi mempersiapkan masa depan Ganesh juga.Kalo cuma ngandelin uang suami mungkin agak susah merencanakan sesuai yang gw inginkan.
    Nah kalo ada yg bilang rezeki ada yang ngatur,setuju tapi gak cuma do’a juga perlu usaha.Bener banget soal pilihan,Man.Ada yang bilang kok gw bisa kerja 8 jam sehari meninggalkan anak gw tercinta berdua saja dengan helper (ART) padahal mungkin yang didapet ya segitu-segitu aja? *tutup muka*
    Tapi itulah pilihan yang harus gw ambil, dan gw sama sekali gak merasa gw egois.Karena jika dihadapkan pada pilihan then you can take it or leave it.
    Apapun pilihan kita,WM maupun FTM,semoga menjadi pilihan yang terbaik untuk keluarga.Amin

    • Eym. Gue kadang menyayangkan aja sih ada yg sudah memilih jalan tapi tanpa sadar suka melontarkan komen yg malah menunjukkan kl caranya menjalani pilihan itu bukan krn ikhlas. Ya kembali lagi lah itu sudah jadi risiko. Dan sayangnya, yg sering gue denger/baca melontarkan komen2 itu FTM by choice. Padahal di tangan mereka ada pilihan lainnya juga kan.

  2. +1! life is about choices no matter what situation u are in. The choices always (always) in ur hand..what ever u choose there there’s always a risk tailing behind. This include being a mom.

    and yeah, we can strive to have everything, but in realitu no one can really have it,…thats how God intended it to be, so..

    Yeah, pilihan gw sekarang menjadi istri/ibu/semut pekerja/pemimpi/tukang keluh tapi entah ke depannya gimana…rasanya pengen gw pilih untuk menghilangkan salah satu…(dan bukan 2 di depan ya ehhehe)

  3. suka tulisan loe man, mungkin karna lagi ngalamin sekarang =) dilematis tiada akhir, hahaha…tapi somehow gw kok tetap berpikir bekerja itu emang penting ya? atau anything that could express who you are deh. gw salut sama perempuan yang memilih jadi IRT, for the sake of that’s who they are. jadi bukan karna terpaksa, bukan mengeluh, dan emang memilih seperti itu.

    • Penting atau tidaknya, butuh atau tidaknya kembali ke kita lagi sih. Karena ibu bekerja (di kantor) itu kan tidak hanya mempertimbangkan pemasukan tambahan untuk keluarga saja. Ada aspek2 lain yg tak kalah pelik untuk dipikirkan. Dan begitu juga sebaliknya. Menjadi IRT dengan semua risikonya sangat tidak mudah tapi kl memang sudah memutuskan ya risiko apapun kudu dilibas toh?😀
      *kiss kiss untuk Yofel!

  4. Jadi inget temen gue,

    dulu dia keukeuh berenti kerja karna mau konsen sama anaknya. begitu ga kerja, bingung, iri sama gue yang kerja karena gue punya kegiatan.

    oh life…

    • Sebenernya kan urus anak juga kegiatan, LOL.
      Kudu pinter2 cari selah sih..bisa jadi freelancer (kl bidangnya memungkinkan) atau ya kl memang segitu “bosannya” ya kembali ke kantor aja. Tp ya itu…kembali ke kantor juga perlu tebal kuping dan kuat hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s