He’s A Cup of Joe For My Soul

Beberapa tahun lalu saat booming buku Chicken Soup For The Soul saya sempat membaca salah satu serinya. Ada satu cerita yang menarik perhatian saya yaitu cerita seorang istri yang mempertanyakan sisi romantis suaminya. Perempuan itu selalu dibelikan barang yang jauh dari kata romantis, salah satunya adalah sekop salju. Belakangan baru dia ketahui bahwa alasan suaminya membelikan barang-barang tersebut adalah agar dia bisa mandiri.

Sejak pertama kali memutuskan pacaran lebih dari satu dekade lalu, suami saya sudah menegaskan kalau dirinya bukan termasuk pria romantis. Jadi sebaiknya saya buang jauh-jauh harapan dibelikan bunga atau merayakan hari jadi dengan makan malam ditemani temaram cahaya lilin (not my style anyway. LOL).  Kalau ditanya kenapa dia tidak pernah membelikan saya bunga, pasti jawabannya adalah “Kamu kan tidak suka dibelikan sesuatu yang bakal mati..sayang uangnya kan? Mending aku belikan barang yang sudah pasti bisa kamu pakai.” Ah, suami yang pintar. Tahu saja kalau saya berpikir berdasarkan azas ekonomi. Haha.

Kalau soal bunga atau makan malam romantis, saya masih bisa terima deh. Soal jemput ke kantor…nah, ini sering kali jadi bahan berantem kami. Suami selalu punya 1001 alasan untuk tidak menjemput saya di kantor. Dulu waktu kantor saya berlokasi di Kebon Kacang (status kami masih pacaran), dia hanya mau mengantar saya sampai halte TransJakarta Al-Azhar. Pulangnya? Ya pulang sendiri. Alasannya sederhana: jauh. Baiklah, saya bisa mengerti apalagi jam kerja dia dulu tidak beraturan. Lalu apakah ketika pindah kerja ke Kemang dia lantas rajin menjemput saya? Tidak juga. Alasannya: terlalu lelah. Minta disantet banget kan? Hahaha. Dan ketika saya berkantor di area Kuningan, alasan yang dia kemukakan adalah “Tidak masuk akal kan? Kantorku lebih dekat ke rumah, masa aku harus mutar jemput kamu dulu?” (-_-)’ Akhirnya saya menyerah. Terserah dia lah mau jemput atau tidak wong saya bisa pulang sendiri juga naik bus. Cih!

Setelah tiga bulan berkantor di Kuningan, saya positif hamil. Salah satu hal yang terlintas di pikiran saya adalah ” Cihuuuy! Diantar jemput dong pastinya. Masa tega sama istri yang lagi hamil.” Oh oh oh ternyata tega saudara-saudara. Tiap pagi saya diantar ke halte TransJakarta Ragunan (“Ada pintu khusus ibu hamil kan? Pasti antriannya tidak terlalu panjang. You can do it!” –> kalimat penyemangatnya) dan malam kembali dijemput di lokasi yang sama. Pernah sekali waktu di saat hujan mengguyur Jakarta cukup deras dan jalanan macet luar biasa, saya (kala itu hamil 4-5 bulan) dan seorang teman memutuskan untuk berjalan kaki ke Balai Kartini (dari Gran Melia) untuk bertemu tante si teman yang bersedia ditebengi. Hasilnya…saya didera kontraksi dini keesokkan harinya dan harus beristirahat beberapa hari (sisi positif: mendapat surat dokter yang menyatakan saya harus pulang kantor jam 16.00 (biasanya jam 18.00) hingga waktu melahirkan tiba). Tanggapan suami? Nampak raut sesal di wajahnya tapi lagi-lagi dia bilang kalau saya akan menunggu lebih lama lagi jika dia pergi menjemput. I hate to admit it but he’s right.

Ketika Dr. Aswin berkomentar soal cepatnya proses pembukaan saat saya melahirkan, beliau menyelipkan kalimat, “Ibu banyak jalan sih..kalau tidak salah, ibu naik turun jembatan dan pergi-pulang kantor naik bus kan? Kalau dilakukan pelan-pelan dan rutin, bagus banget untuk wanita hamil.” (-_-)’ Hidung suami pun kembang kempis karena merasa ikut andil dalam proses “olahraga” saya itu . Hadeh.

Pernah saat kami berdua lagi santai, saya bertanya soal kekeraskepalaan dia tidak mau menjemput saya ke kantor. Jawabannya di luar dugaan. Mirip seperti cerita di dalam Chicken Soup for the Soul, suami saya ingin saya menjadi pribadi yang lebih mandiri. Dia bilang dia tahu betul karakter saya yang harus digas terus karena lepas gas sedikit saja akan membuat saya melambat dengan cepat alias manja. Memang sih…dalam kasus saya hamil kemarin, walaupun dia keukeuh tidak menjemput ke kantor, di rumah dia rajin sekali memijat dan menyediakan air hangat untuk saya rendam kaki. Ah, ternyata suami saya bukan termasuk kelompok nonromantis…dia romantis dengan gayanya sendiri.

12 thoughts on “He’s A Cup of Joe For My Soul

    • Bener kok..cuma kurang “e”. Haha.
      “A cup of Joe” artinya secangkir kopi. Istilah gitu deh.
      Ada sejarahnya..tapi masa mau gue ceritakan di sini😀

  1. 😀 ah manda ah…

    some how i feel u, *walo not entirely hahahaha* i long for a romantic husband, but the thought of dias giving me flowers and having a candle light dinner send shivers down my spine HAHAHAHA rasanya sisi romantisme gw uda rada meluap ditelan….umur dan waktu deh hahahahah *komen ga jelas* #maap nyampah #nyapu2

    • Tapi gue juga ga pengen suami yg terlalu romantis sih. Hahaha banyak maunya. Yg biasa2 aja lah…yg mau jemput ke kantor *tetep*

  2. TOSSS dulu mandaaaa!!!
    sepertinya sejenis sama suami gw deh😀 adaaaaaa….aja alasannya kalo jemput/ nganter. heran😦
    maunya minta jemput selalu daerah tebet *daerah yg dia kuasai*, karena beberapa kali (tuh sering artinya) minta jemput di lokasi yg lebih deket kantor malah salah tempat.
    misalnya : “jemput di hero mampang dong” (itu yang sebrangnya pasar mampang, skg jadi giant)
    dia nungguinnya di hero pancoran -_-‘
    atau “jemput di gramedia pancoran dong, yg ada heronya tuh”
    dia jemputnya di gramedia matraman -_-‘

    • kl laki gue sih lebih karena malas aja plus kondisinya selalu kantor dia memang lebih dekat ke rumah, zZzzzZ.
      lama2 gue kebal juga sih😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s