Ikhlas Pikiran dan Hati

Saya termasuk orang yang egois. Tidak bangga tapi harus mengakui. Parahnya lagi saya berjodoh dengan orang yang nrimo. Hahaha. Well, parah kalau saya tidak mawas diri dan suami juga terima-terima saja. Untungnya, suami (dengan caranya sendiri yang suka ajaib) bisa mengingatkan saya akan sifat jelek yang satu itu. Anak tidak pernah disebut di dalam percakapan kami, ya sesekali ada sih tapi tidak pernah dibicarakan serius. Tanpa harus saya jelaskan panjang lebar (yang mana dulu saya juga masih burem alasan kenapa obrolan anak tidak pernah mencuat ke permukaan), suami tahu duduk perkaranya. Karena saya egois.

Apa sih yang biasa jadi sasaran keegoisan saya? Semua hal yang bersinggungan dengan keteraturan hidup saya. I like to do things my way pokoknya it’s my way or no way at all. Dan anak akan mengubah segalanya. Saya harus bertoleransi dalam skala mega super besar (gimana coba tuh?) karena bayi itu kan tidak mau tahu situasi pengasuhnya, yang penting dirinya kenyang dan nyaman. (dulu) Saya merasa tidak siap.

Untuk menambah penderitaan suami saya, selain egois saya juga termasuk orang susah ikhlas. Hihihi. Ini berhubungan juga dengan sifat teratur tadi. Saya biasa merencanakan segala sesuatu sampai detil untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Karena juga selalu logis, saya jadi berpikir harusnya kalau segala sesuatu direncanakan dengan baik juga akan berjalan lancar. Lupa kalau yang memutuskan segala sesuatu kan Yang Di Atas.

Perjalanan spiritual saya soal egois-ikhlas-logis seringkali membuat kami cekcok. Tak apa namanya juga belajar, toh itu artinya saya terus ditantang untuk bisa lebih ikhlas, lebih pasrah lagi. Beberapa waktu lalu seorang teman baik (yang super logis) merekomendasikan sebuah buku tentang ikhlas pada saya dan saya merekomendasikan buku itu pada suami yang kebetulan sedang gundah gulana (halah). Teman itu bilang semua yang tertera di dalam buku itu made sense. Suami saya yang antibuku itu hanya membutuhkan waktu dua hari untuk membabat habis isinya dan menerapkan poin yang disarankan termasuk “meditasi” dengan mendengarkan rekaman yang terdapat di dalam CD paket buku tersebut. HEBAT! Hasilnya? Saya merasa suami menjadi pribadi yang super positif dan super ikhlas (lebih dari biasanya), sabarnya gimana? Beuh bertambah 100 persen!

Hebat dong? Hebat banget. Lalu apa kabarnya saya yang direkomendasikan pertama kali? Apakah saya sudah membaca habis buku itu dan ikut bermeditasi tiap hari? Belum. Hahahaha. Eh, bukunya sudah saya baca seperempat dan sudah sekali meditasi. Hasilnya cukup oke lah. Suami bilang saya lebih tenang jika ada sesuatu keluar jalur, seperti kasus…ya itu lah. Hehe. Mudah-mudahan kondisi tenang yang suami maksud bisa bertahan lama dan bertambah lagi. Salah satu “nasihat” penulis buku itu yang kena banget di saya adalah ucapkan dan visualisasikan cita-cita lalu ikhlaskan dalam hati bukan pikiran. Kenapa yang penting hati? Karena hati adalah suara terdalam dari diri kita…kita harus yakin dengan hati bukan pikiran. Misalnya cita-cita beli rumah, jangan berteriak “Saya pasti bisa beli rumah” lalu melanjutkan dalam hati dengan “tapi gimana ya cicilnya?” Yang terjadi biasanya yang terucap di dalam hati. Tidak masuk akal ya? Hihi mungkin karena saya belum membaca habis bukunya jadi penjelasannya masih meracau. Nanti ya kalau sudah selesai, saya akan bagi pengalaman tambahannya.

PS: Lalu bagaimana sampai akhirnya ikhlas punya anak? Tak ada proses, saya memilih untuk bungee jumping langsung! No pain, no gain! Dan punya anak menjadi pengalaman terpenting (plus terindah) dalam hidup saya. Yes, Igo…you taught me to accept life as it is. Thank you.

4 thoughts on “Ikhlas Pikiran dan Hati

  1. Pingback: Afirmasi dan Ikhlas |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s