Afirmasi dan Ikhlas

Jangan pernah bilang kalau kita tidak punya. Kita suka lupa kalau kita punya.

Tweet itu saya buat setelah terlibat dalam family intervention di keluarga Febri. Yep, perjalanan saya ini masih berlanjut. Perlahan tapi pasti saya menuju titik bisa menjalani hidup dengan ikhlas. Memang ikhlas itu susah ya? BANGET. Kalau hanya sekedar ikhlas di mulut sih, satu sampai dua detik setelah sesuatu terjadi juga bisa tapi ikhlas di hati…butuh latihan lama (paling tidak untuk saya ya).

Pelan-pelan saya juga mengubah beberapa kebiasaan kecil yang tanpa disadari membuat diri (saya) susah ikhlas. Sekarang Febri bisa marah kalau saya berkata, “Nanti ya kalau punya duit” atau “Ga punya duit nih”😀. Sederhana banget tapi coba deh perhatiin…kalimat-kalimat sederhana itu sangat sangat sangat berpotensi membuat kita lupa diri. Iya, lupa diri…lupa kalau diri kita ini tuh sebenarnya punya tapi memang tidak berlebihan. Trus kalau lupa, gimana bersyukurnya tuh? DHUER! Jadi sekarang kami mencoba mengubah kalimat itu menjadi “Nanti kalau kondisi sudah lebih lega”. Hehe.

Apa lagi yang mau diubah? Kebiasaan mengeluh. Buat gue, mengeluh itu otomatis keluar dari mulut kalau sesuatu terjadi di luar rencana. Saking seringnya saya mengeluh, saya sampai risih sendiri. Again, kalau mengeluh terus…gimana bersyukurnya? DANG! Febri bilang kami harus mengucapkan hamdalah tiap kali diberikan kesulitan. Kenapa hamdalah? Bersyukur diberikan tantangan oleh Yang Di Atas, bersyukur punya kesempatan untuk membuktikan kalau diri kita mampu melewatinya. Nanti, Insya Allah, kesulitan yang kita rasa besar itu akan mengecil…kok bisa? Karena kita sudah ikhlas.

Waktu pertama kali Febri sharing soal ini ke saya… I was like…dude, you sound like those ustad deh, LOL. Maafkan saya, suamiku. Lantas ada satu kejadian yang membuat saya, si susah-ikhlas-dan-terlalu-logis diam dan bertekad untuk mencoba mengenal “ikhlas” lebih jauh lagi. Kondisi finansial kami menuntut saya untuk  mencatat pendapatan dan pengeluaran bulanan sampai ke detail terkecil. Beberapa waktu lalu kami sedang sedikit sulit karena err…ada perubahan di rumah tangga kami😀 tapi lucunya, saya tidak panik (biasanya saya akan keringat dingin mengutak-atik file Excel itu, sumpah ini ga lebay). Waktu itu saya supersantai…padahal side job juga lagi tidak bisa diandalkan (itu tolong ya klien FF mohon invoice saya dibayarkan segera –curcol-). Ya sudahlah, pikir saya. Dan ternyata, beberapa waktu kemudian, saya baru sadar kalau “Ya, sudahlah” itu berarti saya sudah dalam tahap ikhlas hati. Ajaib! Di akhir bulan, file Excel itu balanced! Dan memang, ketika saya berucap “Ya, sudahlah” dalam hati saya minta pada Yang Di Atas kalau saya minta kondisi kami “dicukupi”. Hasilnya? File Excel itu balanced hingga ke titik sen! Apa yang membuatnya balanced? Saya mendapat side job tak terduga. Febri tertawa-tawa saat saya menceritakan ini padanya. Hingga hari ini, saya masih suka terheran-heran dengan kecukupan waktu itu. Sangat sangat sangat membuktikan kalau ikhlas memegang peran penting dalam menentukan jalan kita. Mudah-mudahan perjalanan ikhlas saya terus berlanjut sampai tingkat selanjutnya. Amin.

Oh ya, soal mengeluh tadi…saya pernah “membela diri” di depan suami dengan berkata, “Ya aku kan hanya sekedar cerita…mengeluarkan uneg-uneg aja supaya tidak pusing sendiri.” Tahu jawabannya? “Kalau sekali tidak masalah, kalau berulang kali ‘curhat’ gimana tuh? Udahlah fokus ke yang positif saja, ke yang kita punya saja.” Ah,  ciamik sekali suami saya itu. Haha.

6 thoughts on “Afirmasi dan Ikhlas

  1. Febri begitu bijak hehe… Tapi kayanya emang kadang-kadang (bukan kadang-kadang sih, kayanya harus terus) kita harus berada di titik “ah ya sudahlah” alias pasrah dan ikhlas, karena justru pas disitu, yang ga diduga-duga muncul… btw, sama bener tiap bulan ngutak ngatik budget biar balance hahaha… believe it or not, am loving it! *freak*😀

    • Gue menyukai perubahan dia ya..tapiiiii kadang2 suka empet juga..hihihi…kl hasrat curhat menggelora (halah) tar bisa tuh dia tanggapannya cuma, “Ya udah, Is…ikhlasin aja.” DHUENG! *ngakak* But then again, apa yang dia bilang memang bener sih..harus belajar ikhlas dari hati…*dewasa kali pembicaraan ini*
      Dan soal utak atik budget supaya balance….sehari gue bisa berulang kali buka file itu lho (-___-)’

  2. mandaaaaa gw juga lagi dalam kondisi yang samaaa banget. belajar ikhlas dan nerima (meski tetep usaha lho yaaa), karena lagi dalam kondisi luar bisa stress masalah keuangan. oh ya, dan nggak helpful banget sama kebiasaan gw yg suka liat kiri-kanan juga sihh…kok mereka bisa udah punya mobil-rumah-jalan ke luar negeri terus ya? kok kariernya ok banget ya?huhu…emang bersyukur itu susah tapi perlu dilatih tiap hari! =)

    • Haha liat kanan-kiri memang setan juga tuh..
      Makanya gue kl udah kebanyakan tolah toleh mendingan nunduk aja deh…hahaha…

  3. I think my MIL should read this posting, Man😀

    Btw gimana sih caranya bikin budget keluarga pake excel? Sumpah lho, gue sampe skrg tipe yang “let go with the flow” untuk financial budget. Gak ada financial planning samsek. Untung udah kenal sama RD. Jadi meski dikit udah bisa invest (tapi dikiiiittt bgt, kebanyakan jajan nih gue). Teach me, master!

    • Excel sederhana aja kok penjumlahan pendapatan, penjumlahan pengeluaran lalu hitung selisihnya.
      Fin plan juga tergantung masing-masing keluarga sih … ya iyalah wong duitnya beda2 xD
      Jadi ya gitu deh … baca2 saran financial planner tp gue terapinnya bertahap sesuai kemampuan. Soalnya, ga tau sih … cuma gue doang atau ga, kl terlalu dihitung sampai sen takut lupa ikhlas bok …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s