Gerilya Pengasuh Pt. 1

Akhirnya pecah telor juga nih. Telor apa yang pecah? Telor punya masalah dengan ART yang menjaga anak. Hahaha. Dua bulan lalu Igo punya mbak baru sebagai pengganti Mbak Siti yang pulang kampung karena sakit. Mbak baru ini didapat dari Mbak Ida, ART kepercayaan yang sekarang sudah resign karena mau melahirkan di kampung. Awal si mbak baru ada di rumah, Igo terlihat akrab banget…bahkan mbak baru ini langsung bisa nyuapin dia. Lega? Lumayan.

Ternyataaaaa…jreng jreeeeng…masalah dengan mbak baru baru muncul setelah Mbak Ida pulang kampung sekitar dua-tiga minggu lalu (T__T) rupanya selama ini mbak baru terlihat bisa handle pekerjaannya karena tandem dengan Mbak Ida. Menurut saya, mbak baru ini agak nyeleneh tingkah lakunya. Volume suaranya kencang dengan nada seperti selalu melarang Igo melakukan sesuatu. Kalau main dengan Igo juga suka terlalu seru. Lho bukannya main sama anak memang harus seru? OH INI BERLEBIHAN! Seringnya kalau sedang main kejar-kejaran…mbak ini tidak tahu kapan waktunya berhenti mengejar Igo yang terlihat ketakutan. Saya sudah berulang kali menegurnya tapi tetap saja dia lakukan. Singkat cerita, Igo jadi mudah kesal. Tiap kali “dipegang” oleh mbak baru pasti Igo ngedumel terus. Belum lagi mbak baru ini suka bengong dan melongo, jadi kadang Igo sudah lari entah kemana eh dia masih aja di lokasi awal Igo main. Hadeh.

Febri, yang biasanya tidak terlalu ambil pusing dengan urusan ART, tiba-tiba bilang kalau sebaiknya kami mencari mbak baru untuk Igo. Wah, rupanya dia merasakan hal yang sama dengan saya. Ucapan memang doa. Dua hari setelah pembicaraan kami itu, mbak baru menyampaikan niatnya (dengan cara superaneh tapi ya sudahlah) untuk berhenti bekerja awal Desember. Senang sekaligus khawatir. Senang karena tak harus menghadapi awkward moment “memecat” si mbak tapi khawatir karena harus mencari dan melatih mbak baru tanpa kehadiran Mbak Ida (T__T).

Pencarian pun dimulai. Pilihan pertama kami adalah ART biasa dengan pertimbangan usia Igo yang tak lagi bayi dan anggaran tentunya. Pencarian tidak membuahkan hasil. Dan untuk menambah “kepanikan”, si mama tiba-tiba bilang kalau sebaiknya kami mencari babysitter atau pengasuh dari yayasan saja. Beliau berpikir soal asal-usul si pengasuh yang lebih jelas ketimbang kami “asal cabut”. Ya sih, kami berdua kerja dari pagi hingga sore. Di rumah memang ada nenek (buyutnya Igo) dan dua ART tapi mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Setelah mempertimbangkan faktor tersebut (dan juga mengutak-atik file Excel anggaran rumah tangga), kami pun memutuskan untuk bergerilya mencari pengasuh Igo ke yayasan penyalur.

Lantas gimana kelanjutannya? Besok ya dilanjutkan…hihi.

…to be continued…

4 thoughts on “Gerilya Pengasuh Pt. 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s