Good Parenting Starts From Setting Good Examples

Menurut saya, perbuatan atau memberikan contoh adalah cara mendidik anak paling ampuh. Kita bisa saja sampai berbusa menerangkan mana yang baik dan mana yang buruk tapi anak tetap akan meniru perbuatan orangtuanya (yang kadang bertolak belakang dengan apa yang diajarkan). Ini adalah salah satu tantangan besar menjadi orangtua.

Semalam kami pergi jalan-jalan ke PIM dan terjadi sebuah insiden cukup bikin saya ‘panas’.  Saat kejadian, Igo digendong oleh Febri dan posisi saya kira-kira 2-3 meter di depan mereka. Entah kenapa saya merasa harus menoleh ke belakang. Ketika saya menuruti perasaan itu, DHUENG, Febri sedang telentang sembari melindungi kepala Igo di depan salon Rud* H. Ternyata saat Febri jalan melewati salon tersebut, ada anak kira-kira berusia 4-5 tahun lari melesat ke dalam salon. Karena tak sempat mengelak, Febri (dan Igo) pun terjatuh. Untung reaksi Febri cukup sigap, dia putar badannya sehingga posisi jatuh tidak menghadap depan dan menjaga agar kepala Igo tidak terbentur. Anak tadi tidak diawasi oleh siapapun. Otomatis saya bertanya di mana keberadaan orangtua anak itu dengan suara cukup kencang. Tapi Febri meminta saya untuk bersabar. Sekilas saya melihat ibu si anak di dalam salon getting her hair done sembari mengusap-usap anaknya. Terlihat sekali kalau si ibu menghindari kontak mata dengan saya.

Saya tidak akan minta ganti rugi kok. Alhamdulillah Febri dan Igo tidak apa-apa. Satu kata sudah cukup lho, bu … “maaf”. Dengan satu kata tersebut, tanpa disadari ibu itu sudah mengajarkan si anak untuk bertanggungjawab atas perbuatannya. Tapi sayang sekali, dia lebih memilih untuk pura-pura bodoh dan mengajarkan ignorance pada anaknya.

Pleh!

12 thoughts on “Good Parenting Starts From Setting Good Examples

    • Menurut gue sih tergantung penyampaian lo aja sih. Kl lo marah yg lebayatun juga contoh kurang baik untuk anak sendiri.
      Singkat, padat, dan kena sasaran aja. Hehehe.

  1. serius gue jg gengges sama ibu2 yang ga ngajarin kata “maaf” ke anak nya. Pas lamaran gue, anak si queen bee narik kebaya gue sampe sobek, dan si anak bingung harus bereaksi apa..dan si ibu malah ngasih justifikasi kalo dulu waktu dia married kebayanya jg lebih fragile lagi dan sobek juga.. padahal cukup bilang ke anak nya, ayo minta maaf dulu, ga sengaja, pun sudah cukup..maap panjang, gue esmosi nih kalo urusan beginian hehehe..

    • Ah, kamuuuh … itu dendam kesumat sm queen bee aja kali? xD
      Tapi bener deh … kenapa ya orangtua itu suka lalai menularkan kebiasaan kecil yang baik seperti mengucapkan maaf, terima kasih, dan tolong.

  2. Duh gemes! bilang ‘maaf’ sbenernya gampang banget kok asal mau berbesar hati ngaku salah.
    *sambil berdoa mudah-mudahan gw bisa selalu ngasi contoh yang baik buat anak2 gw, amin. *

  3. hihi beneran bukan dendam kesumat kok..setelah kuperhatikan, sang anak ternyata tidak terbiasa bilang “terima kasih” dan “maaf” . Alhasil sekarang gue berhasil ngajarin keponakan gue untuk ngucapin maaf, terima kasih dan tolong… semoga ntar anak gue jg bisa kuajari hehe..

  4. Iiihh.. Gemes gue bacanya Untung Igo gpp ya Manman. Kalo bapake sih, ya sudahlah. Kan udah gede ini, hehehe..

    Btw, gue sering heran sama orang dewasa yang gak bisa minta maaf. Contohnya kalo lagi di angkot or transportasi umum deh. Kan sering tuh kejadian orang yang injek kaki or mendorong orang lain, tanpa sengaja. Begitu diliatin, bukannya minta maaf, malah lempeng aja gitu. Gimana anak-anaknya mau santun kalo emak bapaknya kayak begitu bukan?

    • Kl yg dewasa sih gue rasa (mungkin) akibat salah asuh juga atau pola asuh udah bener tapi keegoisan/ignorance mereka terlampau besar untuk ingat apa yg diajarin orangtuanya. Hihihi. *sotoy*
      Menurut gue sih, yg paling sulit dilakukan orangtua itu adalah mengajarkan anak2 dengan memberikan contoh.

  5. ckckckck… bener2 bukan contoh yang baik😦
    buat gw, hal utama yang harus diajarkan anak adalah sopan santun, prilaku yang baik. Membiasakan diri untuk mengucapkan “maaf” apabila berbuat salah, dan berkata “terima kasih” ketika menerima sesuatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s