Teganya … Teganya … Teganya

Satu hal terberat yang harus dilakukan orangtua dalam mendidik anak itu adalah di saat harus tega. Ya, tega. Tega mendengar anak nangis jejeritan (dan tak jarang sampai guling-guling di lantai) karena keinginannya beli mainan tidak dituruti untuk tidak memanjakannya, tega melihat anak merengek minta botol susu di saat dia sedang dalam proses “penyapihan”, hingga tega melihat kondisi anak jatuh-bangun saat dia berusaha mandiri. Semua dilakukan demi membentuk pribadi anak.

Tak jarang orangtua tidak bisa mengalahkan perasaannya (baca: tidak tega) demi mendidik anak. Biasanya orangtua punya pemikiran seperti ini: “Ah, sudahlah belikan saja mainan itu. Toh lagi diskon.” atau “Uang jajannya pasti sudah habis, kasih lagi deh. Kasihan.” Padahal hal “sepele” seperti kedua contoh itu bisa membawa dampak serius. Di keluarga besar saya dan suami, tega-dalam-mendidik-anak ini sudah menjadi masalah yang berlarut-larut. Tak usah saya jelaskan detil tapi yang jelas bermacam contoh itu membuat saya dan suami terpacu untuk melawan arus. Tega dalam mendidik anak itu perlu.

Terakhir bertandang ke rumah kakak ipar, Igo merengek minta makanan punya keponakan yang suka pamer tapi pelit. Kami jelaskan pada Igo kalau itu bukan miliknya dan dia harus minta kepada si empunya barang jika dia mau. Rupanya dia benar-benar mau, hahaha. Dia datangi sepupunya dan mengulurkan tangannya tanda nyuon. Ditolak mentah-mentah. Igo pun kembali merengek pada saya. Akhirnya saya beri dia penjelasan. Bisa ditebak reaksi Igo … manyun. Adik ipar, ibu si anak, lantas membujuk anaknya untuk membagi makanan itu. Dia kasihan melihat Igo manyun. Hahaha. Saya bilang, “Percaya deh manyunnya itu hanya akan bertahan dua menit … tapi tindakan lo barusan bisa membuat dia terbiasa dibela. Biar saja.” Eh, bener … baru juga selesai ngomong, Igo sudah berlari-lari mengejar bola dengan sepupunya yang lain.

Lucunya … banyak orangtua menggunakan tidak tega sebagai alasan ketidakbecusan mendidik anak tapi nyuekin anak karena sibuk (atau “sibuk” (baca: tak lepas dari telepon selular)) mah tega-tega aja tuh. Nah, sekarang keputusannya ada di tangan kita … mau jadi orangtua yang tega dalam mendidik untuk menuai hasil manis di depan atau tega di bidang lain yang pasti hasilnya bakal sepet?

2 thoughts on “Teganya … Teganya … Teganya

  1. Ganesh sekarang kalo keinginannya gak dipenuhin juga suka begitu. Nangis pake acara jatuhin badan, kadang pake guling-guling. Gw sebenarnya gak tega juga sih, tapi emang harus nguatin hati biar gak dijadiin senjata makan tuan. Hani biasanya suka gak tega, tapi kami sepakat kalo salah satu membuat keputusan, yang lain harus dukung.
    Tapi bener kok, gw biasanya cuma butuh kekuatan untuk tiga 2-3 menit doang. Abis tuh, anak gw udah sibuk perhatiannya sama yang lain. :p

    • Kerjasama antara orangtua memang kunci penting juga. Supaya anak ga melihat good cop-bad cop. Biasanya kl Igo berusaha ngadu ke gue setelah dikasih tahu Febri soal sesuatu, gue jelasin lg ke dia kl ya dia diksh tahu ada alasannya. Ga guna ngadu2. Mudah2an kita bs tega terus xD hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s