Stronger Middle Class Indonesians

Sebagai istri yang (berusaha) baik dan sudah diamanatkan untuk mengurus pos keuangan rumah tangga, saya pun “berguru” ke sana kemari soal hal tersebut. Nah, kita semua paham kan kalau banyak baca itu berimbas ke banyak tahu … dan biasanya, banyak tahu bisa berujung pada sakit kepala. Haha.

Bagaimana tidak sakit kepala, wong saya jadi tahu seberapa parah kondisi keuangan kami. Eits … parah bukan berarti banyak utang kartu kredit lho. Amit-amit deh. Parah yang saya maksud di sini adalah belum memenuhi poin-poin yang sering dijabarkan perencana keuangan andal. I literally feel ill every time I see those points. Kalau sudah begitu, saya terbayang-bayang biaya sekolah Igo … lalu berjanji untuk bisa mengatur keuangan lebih baik lagi … lalu sadar kalau yang selama ini dilakukan sudah yang terbaik … lalu melirik pos-pos lain yang mau tidak mau harus dipenuhi … dan biasanya diakhiri dengan meratapi pemasukan kami. Argh!

Luckily, Febri always remind me to see the glass (as) half full not half empty. Okelah kami belum punya A, B, C (rumah, asuransi jiwa term life, dana darurat yang harus sekian kali pengeluaran bulanan, dll) tapi paling tidak kami bisa menghindari hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan menurut perencana keuangan seperti punya utang kartu kredit. Dan kami mulai mengarahkan dana yang ada ke bentuk investasi yang lebih jelas seperti reksadana. Biar lambat asal selamat. LOL.

Quote favorit Febri tiap kali kami membahas soal keuangan:

Detail boleh tapi jangan lupa ikhlas.

Berhati-hati dan parno itu beda tipis lho.

PS: Setelah membaca tweet Ira (“yg termasuk gol menengah: punya rumah (KPR), mobil/motor, jaminan pendidikan anak, jaminan pensiun, perlindungan kesehatan, liburan..”) ternyata kami bukan termasuk golongan menengah.

4 thoughts on “Stronger Middle Class Indonesians

  1. gw juga selalu cenat-cenut kalo dapet link soal rencana keuangan darimu, Man. bisa gak sih mikir kayak orang-orang dulu tuh, “ah, nanti juga pasti ada rezekinya sendiri-sendiri.” *ngarep*

    • Harusnya pemikiran dulu itu diterapkan juga pas kita bikin rencana keuangan … jadi prepare tapi ikhlas juga …
      Terlalu dipikirin juga ga akan cukup … tp kl dijalani ternyata cukup-cukup aja …
      *ga bantu hahaha*

  2. setuju banget mannn! hahaha, gw juga suka pusing tujuh keliling kalo udah mikirin ini. mau hemat, tapi ya emang udah segitu aja sih pemasukannya =p apalagi sekarang super ngetrend banget ya financial planning tuh. mudah2an bisa lebih smart, tapi juga ikhlas deh. ngga ngoyo sampe jadi materialistik (tapi emang, uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang!haha)

    • Kadang2 ya gue merasa “dituntut” harus segera bisa memenuhi poin2 yg dijabarkan para financial planner itu.
      Udahannya gue merasa sesak dan kesel krn pemasukan kok ga cukup … haduh, berbahaya kl udah gitu.
      Jadi ya … sekarang gue coba mengatur sebaik2nya dengan dana yg ada … kl memang gue atau suami berjodoh dengan pekerjaan yg bisa mendatangkan pemasukan lebih … bersyukur banget. Kl ga, ya masa sih udah usaha tapi ga ada hasil sama sekali? Ga mungkin juga lah. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s