Generasi Peralihan

Ada pepatah Afrika yang saya rasa cocok banget dengan situasi kami sekarang: “It takes a village to raise a child”. Yup, benar banget kan? Sekarang ini Igo lagi tahap meniru segala sesuatu yang orang dewasa lakukan (termasuk omongan) jadi kerja sama dengan semua orang yang ada di rumah sangat diperlukan supaya hal-hal yang ingin dihindari tidak terjadi. Paling rawan itu adalah omongan, karena kadang asal nyeplos kan? Tapi kami cukup beruntung karena para ART dan Mbak Ika (pengasuh Igo) cukup bisa bekerja sama dalam hal membantu “mendidik” Igo. Kami tinggal mengarahkan dan memberikan rambu-rambunya pada mereka.

Pernah sih beberapa kali terjadi “kecelakaan”. Igo, yang kami biasakan menyebut “pup”, tiba-tiba berkata, “Ibu, ada t*i tikus … kotor.” Kaget? Pasti. Tapi berusaha tenang dan menjelaskan kalau istilah yang kami gunakan itu adalah “pup”. Para ART dan Mbak Ika kembali kami ingatkan supaya lebih berhati-hati berucap di depan Igo. Sejauh ini mereka mengerti dan bisa mengikuti arahan kami.

Kalau dipikir-pikir, generasi kami ini adalah generasi peralihan ya. Peralihan dari gaya asuh lama ke gaya asuh baru. Sebagai orangtua muda, kita pasti update dengan isu pola asuh masa kini dan mencoba menerapkannya di rumah … itu kita, lalu bagaimana dengan keluarga besar dan kelompok pendukung (ART, pengasuh anak)? Padahal … ya itu … it takes a village to raise a child. Kami sih pantang mundur ya … kalau memang harus kami yang memulai gerakan pola atau gaya asuh baru di lingkungan (dalam hal ini keluarga besar), so be it. Sosialisasi ke orang di rumah dulu tentang pola atau gaya asuh kami, untuk keluarga besar … biarlah mereka melihat sendiri cara kami menangani situasi yang berkaitan dengan Igo.

Sejauh ini … yang dianggap sedikit nyeleneh dari pola asuh kami adalah cara kami menjelaskan segala sesuatu pada Igo dan pandangan kami terhadap prinsip “anak itu harus punya sosok yang ditakuti”. Dari awal, kami sepakat untuk jujur pada Igo. Jujur? Ya, jujur. Anak itu jangan dibohongi, jangan ditipu hanya karena kita ingin menyembunyikan sesuatu yang dianggap tabu, atau malas menjelaskan karena berpikir, “Ah, panjang nih pasti urusannya”. Mertua saya sempat kaget saat mendengar Igo menyebut “penis” waktu mandi sore di rumahnya. Saya diamkan beberapa waktu, kemudian saya jelaskan padanya kalau kami memang mau Igo mengenal anggota tubuh dengan istilah yang benar. Dan tidak ada yang salah kan dari paham itu? Lalu beliau tanya, kalau sampai Igo bertanya tentang seks bagaimana? Haha … belum lah, itu masih beberapa tahun lagi. Dan kalau saat itu datang, Insya Allah kami siap dengan jawabannya (yang tentu saja disesuaikan dengan usia saat Igo bertanya).

Soal sosok yang ditakuti: seorang kakak ipar (secara tidak langsung) telah menjadi korban bully dari saudaranya, hihihihi. Kenapa? Karena dia dijadikan sosok untuk menakuti anak-anak hanya karena perawakannya yang tinggi, besar, dan berkumis tebal. “Eh, makannya harus habis lho nanti Pakde Bambo mau ke sini … hiiii, kalau tidak habis, nanti dimarahin dia!” atau “Pakde Bamboooo, nih si A ga mau mandi ….” pusing deh kalau sudah mendengar dua kalimat itu. Lucunya si kakak ipar kok ya pasrah saja dijadikan sosok menakutkan tadi (-__-)”. Kami tidak pernah menerapkan pola asuh seperti ini pada Igo. Dan ini dianggap aneh oleh keluarga suami. Padahal prinsip itu justru mengajarkan anak untuk berpikir tidak logis. Ah well, biarkan saja.  Kadang mertua suka keceplosan bilang, “Igo, jangan ke sana ya … gelap, hiiiii” tapi selalu bisa kami koreksi (dan untungnya, beliau bisa berbesar hati menerima kritikan kami). Haha … cobaan generasi masa peralihan.

Membesarkan anak bukanlah perkara mudah. Tantangannya tidak hanya datang dari luar pagar rumah tapi juga dari dalam. Tapi bukan berarti kita harus berdiam diri, pasrah dengan gaya serta pola asuh yang sama seperti beberapa dekade lalu. It takes a village to raise a child … supaya desa itu semakin besar, yuk mari transfer ilmu ke sekeliling kita agar anak-anak bisa dibesarkan dengan pola asuh yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

14 thoughts on “Generasi Peralihan

  1. Setujuuu sama yang jangan menjadikan sesuatu sbg alat menakut2i…wlpun susah diterapkan sama lingkungan selain orgtuanya, soalnya itu dianggep best way out untuk membuat anak melakukan sesuatu yang disuruh sih, misalnya kalo ga makan ditangkep pak polisi *ini cerita sodara gue* oh ya yg menyebut sesuatu dgn nam aslinya *terutama yg agak sensitif* itu ide bagus juga, mudah2an gue bisa menerapkan ntar. salam kenal ya Mandey, udh beberap kali mampir & naro link blog ini di blog gue tp baru ninggalin jejak skrg nih🙂

    • Hai, salam kenal juga🙂

      Ya, salah satu tantangan menjadi orangtua kan juga harus bisa memilah mana gaya asuh yang cocok dengan pola pikir kita. Kadang hal tersebut sering bertolak belakang dengan prinsip/gaya asuh orang lain, tapi bukan berarti kita tidak bisa menerapkannya kan. Hehe.

  2. Setuju banget mbak dengan ungkapan “It takes a village to raise a child”.
    Kadang masih suka kelepasan nakut2in anak ku. Tapi gimana yah mbak untuk minta anak tidak ke tempat yang tidak boleh dia datangi? Misalnya karena tempatnya kotor. Kadang anak ku kalo udah dibilangin alasan2nya , dia malah seperti sengaja untuk selalu kesana. Thanks mbak.

    • Haha … ini kok bertanya seakan-akan gue itu pakar mendidik anak. Padahal masih dalam tahap belajar.
      Gue sih membiasakan mengajak Igo berdiskusi, terlepas dia sudah paham atau belum, jadi dia harus tahu kenapa ada hal yang dilarang.
      Namanya juga anak-anak … semakin dilarang, semakin penasaran, wajar … kita dl juga gitu kan?
      Kalau anak penasaran, coba aja dampingi dia jalan2 ke area yg dilarang … jelaskan pakai contoh kenapa hal tsb tidak diperbolehkan.
      Hihihi memang harus telaten ya …

  3. ada tips g mbak biar ortu lebih kooperatif sm kita dalam menerapkan pola asuh yg kita mau? soalnya ortu saya udah diomongin baik2 susaaaaaahhh banget diajak kooperatif… mana saya orangnya emosian, jd klo ortu malah membolehkan hal yg kita larang ke anak kita saya jadi keseeeeeeelll + uring2an… hehe tq…

    • Hihihihi … tip? Sharing aja ya😀
      Susah-susah gampang sih kl berurusan dng orangtua (dan mertua) soal gaya asuh. Masalahnya ya itu … beda generasi, beda pandangan.
      Apalagi kan anak kita jatuhnya cucu, biasanya orangtua lebih sayang (katanya, “Rasa sayangnya tuh beda.”) ketimbang dengan kita dulu.
      Biasanya sih gue (dan suami) akan tetap lempeng aja, berulang kali menjelaskan ke orangtua soal gaya asuh kami. Capek sih tapi memang harus begitu.
      Emosi? Hihi pastinya ada … ya itulah tantangan generasi peralihan … harus stok sabar yang banyaaaaaaaak. LOL.

  4. yup. membesarkan anak emang bukan hal yang gampang.
    apalagi karena ya itu… ada pengaruh2 lain di luar kita sebagai ortunya itu.
    yah jadinya kita harus mengusahakan supaya ajaran kita harus lebih kuat dibanding ajaran2 di luaran. supaya kalo sampe ada ajaran yang gak baik di luar, tetep ajaran ortu yg menang dan jadi pedoman buat si anak.

    • Gue termasuk beruntung karena orangtua gue ga terlalu turut campur, memang sih kadang ada situasi di mana mereka seperti “memanjakan” Igo tapi ga sering dan masih bisa kami handle. Mertua gue … hahaha, beliau tau betul karakter mantunya yang keras, jadi dr awal memang tidak banyak turut campur.

  5. Eh kemane aje jeng….lama update ahaha *padahal gwpun…*

    Agree. Gw juga dapatin ini dari kk gw kelar dia seminar bersama nanny 911 tersohor ntu😀

    Gw juga ga setuju dengan konsep nakut2in….itu kesannya kita uda mentok dan ga sabaran banget untuk mencoba anak mendengarkan kita. Yang after mathnya justru either bikin anak makin ga dengerin, atau anak jadi penakut. either way ga efektif.

    • Hihihihi baru sempat lagi, boook😀
      Ih, kakak lo ikut ya? Coba dijabarkan deh poin-poin seminarnya di blog lo … hihihihi …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s