Saya Masih Belajar ….

Belakangan ini saya sering sekali mendapat pertanyaan seputar perkembangan anak, gaya asuh, sampai perlengkapannya. Dan saya selalu berusaha memberikan jawaban yang “terbaik” … versi saya tentunya. Kenapa versi saya? Karena kebutuhan (dan kemampuan) tiap orang berbeda, saya tidak bisa mengakomodasi semuanya. Saya pun masih belajar … baru juga dua tahun lebih sedikit status berubah jadi ibu.

*mungkin ini blog post pengulangan ya … dulu saya pernah menulis hal yang mirip dengan blog post ini tapi saya merasa poin berikut harus diulang. Mudah-mudahan menjadi poin pengingat bagi kita semua*

Hal terbaik yang bisa saya sampaikan on being a mother adalah percayalah pada insting Anda. Bagaimana caranya? Anda bisa membaca buku pola asuh, perkembangan anak yang pernah diterbitkan semua penerbit di dunia … tapi percayalah, semuanya akan nol besar kalau Anda tidak menerapkan atau terjun langsung menjalani apa yang dianjurkan di dalam buku-buku tersebut. Anda bisa blog walking (atau ikut forum) sampai gempor tapi semua akan sia-sia jika akhirnya, Anda hanya memelototi deretan huruf di monitor tanpa ada praktik. Saya percaya insting seorang ibu sudah ada dari “sananya” … sekarang semua ada di tangan kita, mau mengasahnya atau tidak. Kemahiran melakukan hal-hal yang “ibu banget” seperti memandikan anak, memberi makan, nyebokin akan terasah seiring waktu. Pengalaman memang guru yang terbaik. Nah, ini berlaku pula untuk feeling atau intuisi seorang ibu. Anda boleh saja menerapkan satu gaya pengasuhan (misal: RUM, masakan rumahan) sampai tingkat ekstrem tapi jangan abaikan intuisi sebagai orangtua. There are things that you just can’t learn by reading. Perhatikan reaksi anak. Karena apa pun yang kita kerjakan adalah untuk mereka. Makanan yang dihidangkan boleh saja mengandung sekian kalori yang terdiri dari beragam zat gizi yang dibutuhkan anak, tapi kalau anaknya tidak mau makan karena rasanya tidak enak gimana? What would you do? Memaksa anak supaya menghabiskan jatah makannya? Tega? Perhatikan reaksi anak dan kompromilah.

Siapa yang tidak mau memberikan yang terbaik untuk anak? Coba tanya ini pada diri Anda, apakah yang saya berikan untuk anak merupakan yang terbaik untuk dia … atau untuk memenuhi keinginan saya sebagai orangtuanya? Ada satu kesimpulan mengenai perlengkapan kebutuhan anak yang saya ambil setelah memiliki pengalaman ditanya berulang kali: apa pun perlengkapannya (kereta dorong, tempat tidur, high chair, car seat, dll), semua tergantung pada Anda. Dari mulai dana untuk membeli hingga kesiapan mental untuk mengajarkan atau membiasakan anak menggunakan semua perlengkapan itu. Jadi pisahkan antara “butuh” dan “ingin”. Kalau memang ingin dan ada dananya, silakan saja dibeli. Tapi kalau memang dana mepet, sortir lagilah …

Tidak ada yang bilang menjadi orangtua adalah pekerjaan yang mudah, kadang saya berpikir harusnya ada semacam buku panduan yang disertakan Tuhan pada bayi yang dilahirkan (dapet salam dari susah ngeden), tapi bukan berarti tidak bisa dipelajari. Pertanyaannya adalah mau atau tidak?

8 thoughts on “Saya Masih Belajar ….

  1. Kalo ngeliat emak keukeuh harus nyamain ngurusin anak pake cara dia yang katanya berdasarkan teori pakar A, B,C, gw cuma cengenges aje sambil mikir “untung gw gak se-genk sama die. Kebayang kalo tiap hari gw diceramahin sama die…” wakakak.
    Gw sekarang mikirnya apa yang cucok di orang, belon tentu cocok di kita. Tiap anak kan masalahnya beda-beda.
    Kalo masalah pengen punya stroller, high chair, tapi gak punya duit, solusinya adalah Wish List. Huahaha…
    Kalo masih juga gak ada yang ngasih, ya udah terima nasib. Toh anak tetep bisa makan juga walopun gak pake high chair. Terbukti high chair Athia hasil kado dulu ngejogrok dengan manisnya di pojokan buat narok mainan dia karena anak gw lebih suka makan duduk lesehan. Nyehehehe…

    • Kadang orangtua merasa “harus” punya krn peer pressure juga. Jadi beli bukan melihat fungsi lagi tapi gengsi.

      • Nuruti yg mana nih?😀
        Kl soal perlengkapan anak, wajar sih kl orangtua mau beli utk memperkenalkan anak pd kebiasaan yg baik tapi biasanya hal ini suka kalah dengan gengsi … maksudnya, beli krn gengsi bukan krn fungsi. Ujung2nya barang2 tsb malah mubazir krn ga dipakai.

    • Hihihihi akibat iseng berkepanjangaaaaaan … jadinya gue utak-atik lay out dan background.
      Lumi lah …😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s