He’s Only a Child

A woman who can cope with terrible two, can cope with anything

~Judith Clabes~

Bukan tanpa alasan Bu Judith berkata demikian. Sebelum Igo menginjak usia dua tahun, saya sudah sering membaca hal yang dikenal dengan istilah “terrible two”. I know it’s coming and I also know that it will not be as terrible as everyone says if we, as a parent, know what to do when the time comes. Kesimpulan dari baca sana-sini adalah fase ini terjadi karena pada usia sekitar 2 tahun (bisa kurang atau bahkan lebih), anak mulai sadar dirinya punya keinginan dan perasaan. Tapi karena mereka belum bisa mengerem keduanya plus pemikirannya masih “me, me, and me”, jadilah terlihat nakal seperti menantang orang dewasa yang ada di sekitarnya.

Sometimes adult can forget that toddlers doesn’t have common sense (yet) and they can’t reason. Nah, jika pola pikir ini tidak dicamkan, kita akan menjadi superfrustrasi menghadapi fase ini. Kalau saya lihat, Igo (dan juga anak-anak lain), selalu dalam kondisi uji coba. Menguji kesabaran, mencoba cari celah siapa yang akan menuruti kemauannya. It’s what children do best. Orangtualah yang memegang kendali kapan waktu untuk memberikan perhatian pada hal yang baik dan mengacuhkan saat anak melakukan hal yang buruk agar mereka tahu perbedaan benar dan salah.

Kalau diperhatikan, batita hidup dengan prinsip ” Di sini, sekarang juga!” Hal ini tentu saja terjadi juga pada Igo. Kalau mau es krim atau menonton DVD favoritnya di saat kami sedang menonton TV, ya harus saat itu juga dituruti. Ngeselin memang. Kadang sabar ini terasa tebaaal sekali, tak jarang terasa supertipis. Belajar dari pengalaman, kalau hal seperti ini terjadi, yang harus dilakukan adalah berbicara dengan kalimat pendek dan jelas serta konsisten.

For me who often sweat the small stuff, fase ini sangat melelahkan. Jadi apa yang saya lakukan? I learn not to sweat the small stuff. Igo hanya melakukan hal-hal yang wajar dilakukan oleh anak-anak. Dan kalau Igo melakukan sesuatu dengan “salah”, bukan berarti dia tidak bisa melakukannya. Dia hanya perlu belajar. Selama tidak membahayakan dan sopan, saya pun belajar untuk menerimanya walaupun sebenarnya saya gregetan. 

Alhamdulillah Febri adalah teman satu tim yang baik. Kami sangat berusaha supaya apa pun yang keluar dari kami itu satu bahasa supaya Igo tidak mendapat mix signal. Tentu kami sering beradu pendapat bagaimana sebaiknya satu situasi harus diatasi tapi kami berusaha untuk tidak melakukannya di depan Igo. Orangtua memang harus satu suara, karena di luar sana banyak sekali suara yang ingin didengar. Dalam kasus kami, suara si Nenna (nenek Igo) dan Anduang (nenek saya). Nenna cenderung lemah dan tidak tahan dengan rajukan Igo. Kami selalu mengingatkan kalau akibat dari menuruti semua kemauan anak baru akan terasa nanti ketika si anak beranjak besar. Kalau Anduang, hampir selalu bilang kalau Igo sekarang nakal. Mungkin karena beda generasi juga, ya. Kami harus berulang kali mengingatkan kalau yang harus dilihat saat anak melakukan suatu hal yang kita anggap buruk bukan berarti anak itu nakal, yang harus dilihat itu perilakunya bukan si individu anak.

Wew, ternyata tantangan fase terrible two (dan juga fase pertumbuhan lainnya) tidak hanya datang dari anak tapi juga lingkungan. But then again, semua tantangan yang harus dihadapi orangtua akan selalu terbayar dengan pencapaian yang dilakukan anak. Jadi, tak perlu pusing dengan terrible two, akali supaya bisa berubah menjadi terrific two.

Cheers!

4 thoughts on “He’s Only a Child

  1. TOSS bangettt.. dari kmrn tu man gue pgn posting judulnya terrible two, tapi kok ya makin hari makin banyaaaak yang bisa ditulis, akhirnya males. sabar itu ngga cukup, harusnya saaabaaaaarrrrrr…. hahahaha… tp pada akhirnya gue malah jadi sadar betapa gue berhutang ama nyokap gue. surga itu emang ditelapak kaki ibu :’)

    • Intinya kan sebenarnya cuma anak usia mulai 18 bulan sampai 3 th itu sudah punya keinginan sendiri tapi belum tahu cara menyampaikan dng baik. Makanya suka bikin sekelilingnya elus dada. Hehe. Menjadi ibu memang proses belajar yang tidak ada habisnya😀 belajar sabar terutama. Susah bener.

  2. im welcoming the terrific (and challenging) two with open arms😀 songong amat ya..tapi i never like the term “terrible two” ….kayaknya belom apa2 uda ngelabel anak sendiri negatif😦 padahal ya bener kata lo..it’s just a phase….yang mana kesabaran ortu harus lebih ditebelin lagi….hufffhaaa dan masih bakal banyak fase2 lagi abis ini ga kalah challenging….fase abg contohnya ….deg2an abis mikirin hahhahaha *lama aje*

    • Hehe … buat gue cuma masalah terminologi aja, sih. Tapi yg paling penting itu memang mensosialisasikan ke lingkungan supaya tidak memberi label “nakal” pada anak kita di saat mereka sedang mengalami fase ini. Hadeh, ini susah banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s