Di Antara Dua Neng

A friend is one who knows you and loves you just the same.

Elbert Hubbard

Dulu, di saat kami duduk di bangku sekolah menengah, kami berbagi pahitnya pengalaman di-bully. Ya, tidak salah baca kok … saya dulu masuk ke dalam kelompok “nerd” yang sering jadi sasaran bully kelompok “populer”. Tapi alasan kenapa kami di-bully membanggakan: kami masuk ke dalam kelas “pintar” di mana isi muridnya memiliki nilai di atas rata-rata murid satu angkatan di sekolah.

Dan harus saya akui, pengalaman dulu banyak memberikan uhm … pencerahan di masa ABG. Untung kami tidak tumbuh menjadi individu penuh amarah dan melakukan balas dendam, haha. Kami belajar lebih peka terhadap perasaan mereka yang ada di sekitar kami, kami belajar menebalkan muka supaya bisa lebih cuek menghadapi tantangan, dan yang terpenting, kami belajar mengenal beragam karakter orang. 

Dari “geng” kami dulu, yang tersisa akrab sekali, ya, hanya kami berdua. Tiga lainnya masih dekat tapi bisa dibilang tidak seakrab kami. Kami berbagi pandangan pahit dan manis tentang hidup dengan cara pandang yang amat sangat berbeda: dia supersantai, saya superkaku.

Hanya ada dua orang yang saya “izinkan” untuk menghakimi semua perilaku dan omongan saya: Febri dan dia. Saya rela menelan bulat-bulat apa yang dia lempar ke hadapan saya, misuh-misuh? Tentu, tapi saya tahu apa yang dia katakan itu jujur tanpa tendensi apa pun. We’ve had our arguments and some of them are ugly but somehow my road always comes back to her.

6 thoughts on “Di Antara Dua Neng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s