Sayktya Saswih Dipya

When I say “I love you,” it’s not because I want you or because I can’t have you. It has nothing to do with me. I love what you are, what you do, how you try. I’ve seen your kindness and your strength. I’ve seen the best and the worst of you. And I understand with perfect clarity exactly what you are. You’re a hell of a man.”

Joss Whedon (with minor adjustment)

Kalau ada yang tidak percaya ajang perjodohan, bolehlah baca kisah saya dan Febri. Kami adalah contoh suksesnya dijodohkan teman (shout out to @DyahWirawati). Dyah, dulu (zaman SMA) gemas sekali karena saya susah move on dari mantan pacar … katanya, “Buat apa buang waktu mikirin orang yang udah gak mau sama lo?” #jleb Febri satu-satunya calon yang dia punya untuk saya. PD banget, deh, nawarinnya … “Anaknya gokil, Man … seruuu banget, cocok, deh, sama lo. Ganteng pula! Gue aja naksir!” (err …)

Tahap awal perjodohan, pergilah kami beramai-ramai ke Lamborghini (ihiy, dapet salam dari Taman Ria) lihat /RIF manggung. Dua hari setelahnya saya sempat GR karena Febri titip salam … eh, ternyata yang dia titipi salam itu teman saya yang lain, yang dia kira namanya Manda. Hahaha. Nasib berpenampilan pas-pasan, tidak ada kesan yang mendalam saat pertemuan pertama.

Dibantu Dyah, kami pun akhirnya saling balas pager (ealah tahun berape?) dan tiap hari teleponan. Senang? Pasti. Sudah naksir? Belum. Padahal bisa dibilang obrolan kami saat itu mirip orang pacaran, saling cerita aktivitas hari itu. Lalu setelah beberapa waktu, saya diberitahu teman satu sekolah (Febri beda sekolah dengan saya) kalau Febri sudah punya pacar sekelas. Kecewa? Ya, karena saya merasa bodoh sudah berpikir ada seseorang yang (menurut saya) oke menaruh perhatian pada saya. Biasalah perempuan … GR full force atau mungkin diam-diam saya memang sudah suka. Saya tanya langsung dan dia menjawab kalau berita itu benar.

Nyesek.

Saya berusaha menjaga jarak tapi sulit ternyata. Hihi. Jadi saya memutuskan untuk tetap menjalani pertemanan kami seperti biasa. Menurut beberapa sumber yang bisa dipercaya, Febri lebih banyak cerita mengenai hubungannya dengan saya pada teman-temannya. Aneh tapi fakta bagus untuk saya.

Fast forward to prom night. Ada kejadian tidak enak di antara Febri dan (mantan) pacarnya yang menyebabkan mereka ribut besar lalu akhirnya putus beberapa hari setelah prom night. Saya? Tentu saja siap menyodorkan bahu in untuk Febri nyender dan curhat. Hahaha. Murah amat, ya?😀 Sepuluh hari setelah mereka putus … kami cekikikan di telepon dan pembicaraan bodoh berujung pada saya (ya, saya) bertanya padanya, “Lo mau ga jadi pacar gue?” Jawabannya tidak disangka … “Taeeee harusnya gue yang tanya. Diulang aja, ya?” LoL. Dan itu terjadi … hampir 12.5 tahun lalu.

Selama sekian lama pacaran masalah kami bisa dibilang tidak banyak tapi besar-besar dan semuanya berkesinambungan. Salah satunya menyangkut masa lalu Febri. Intinya kami harus membuktikan kepada keluarga kalau hubungan ini serius dan inilah jodoh yang disiapkan Allah. Dan tepat di tahun ke-8, kami pun menikah dengan acara sederhana sesuai impian kami. Alhamdulillah.

I love you, Mbep. Forever. 

13 thoughts on “Sayktya Saswih Dipya

  1. udah pernah mendengar cerita ini secara langsung, tapi tetep aja pas baca bikin cekikikan, terutama bagian elo yg nembak duluan. bahagia dan rukun2 selalu yaaaaa. titip cium buat Igo :-*

    • Haha … krn gemes aja, sih, Mir … lelet bener. LOL. Terima kasih, yaaa. Begitupun juga dirimu dan Mahe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s