Santai

Saya bukan tipe perempuan yang suka beraktivitas luar ruang. Apalagi badan ini termasuk ringkih alias mudah sakit, hehe. Nah, kalau Febri kebalikannya saya, (dulu) dia suka pergi naik gunung bersama teman-temannya. Karena tahu dari awal, kami berdua tidak pernah berusaha saling ‘meracuni’ alias saya tidak pernah melarang dia beraktivitas luar ruang dan dia pun tidak pernah berusaha memperkenalkan alam pada saya. Saya juga kesadaran, sih, tahu diri sajalah daripada menyusahkan dan jadi party pooper, lebih baik saya tidak ikut.

Begitu ada Igo … otomatis harus bertoleransi dong. Masa iya saya tidak mau mengajaknya beraktivitas luar ruang, misalnya ke Ragunan? Dengan bermodalkan Neuralgin untuk menghalau sakit kepala yang kerap datang tiap kali saya kepanasan, saya berhasil jalan-jalan dengan Igo di Ragunan. Hahaha. Aduh, cemen banget, ya, saya ini. Ck ck ck.

Saya juga bukan tipe orangtua yang membuat rencana budaya dan tambah ilmu untuk anak dari mereka piyik banget. Misalnya mau memperkenalkan museum A, B, dan C dengan gaya backpacker alias naik angkutan umum atau pergi ke area wisata “hits” di kalangan orangtua anak-anak. Yaelah ke Sea World saja baru terealisasi libur lebaran kemarin. Itu juga Igo lempeng tanpa ekspresi melihat ikan. Senang tapi tidak antusias. Dia lebih antusias ketika kami mengajaknya naik kereta gantung di Ancol. Tapi, ya, bukan berarti saya tidak mau memperkenalkan museum dan sejenisnya pada Igo, lho. Hanya saja setelah melihat minat dan antusiasme Igo, menurut saya, sekarang belum waktunya. Sekarang biar saja Igo menikmati waktunya bermain tanpa harus memuaskan ego orangtuanya belajar. Naik Choo-choo Train (iya yang di mal itu … ga dosa kan ke mal?), guling-gulingan di rumput halaman depan, ngebut dengan sepeda roda empatnya, dan main gasing (bukaaan … bukan yang tradisional gitu … Beyblade, gasing modern) sama para sepupunya saja sudah bisa membuat matanya berbinar.

“Tapi kan alah bisa karena biasa … siapa tahu kalau dari kecil diperkenalkan, anak jatuh cinta pada budaya dan ilmu pengetahuan” ini mungkin ada di benak banyak orangtua. Well, di satu sisi memang ada benarnya tapi sekarang orangtua punya kecenderungan untuk memaksakan proses belajar seru yang biasanya berakhir dengan ironis karena tak lagi bisa mempertahankan “keseruannya”. Kalau sudah begini, nggak salah dong kalau saya berpendapat di dalam belajar-seru itu ada ego orangtua bukan murni untuk kebaikan anak?

Saya mau anak saya banyak belajar dari kecil tapi terlampau dini memperkenalkan sesuatu rasanya juga tidak bijak. Seperti ketika kami pergi ke TMII … buat apa saya memaksa Igo melihat anjungan propinsi demi propinsi kalau anaknya belum paham? Lebih baik saya ambil sisi lain TMII yang lebih seru dijelajahi olehnya seperti kereta mini atau museum transportasi. Sama seperti makanan pendampinglah … kita memperkenalkannya di usia yang wajar dan dengan porsi yang sesuai usianya, kan?

One thought on “Santai

  1. This posting reminds me of my trip to Bali deh Man. Udah jauh-jauh ke sono, eh bocahnya cuma sumringah pas ketemu 4 hal: burung, kolam ikan, mainan koin dan playground yang isinya boneka😀

    Kata laki gue (yang emang gak doyan traveling dan jalan-jalan itu): “Tuh kan anaknya aja cuma seneng main begituan. Ini mah di Jakarta juga ada.” Yah emang gue akui sih, gue kan ke Bali bareng keluarga supaya bisa liburan tanpa feeling guilty. Bisa jalan-jalan, tapi juga bisa deket sama anak😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s