Kapan Harus Berhenti?

Kemarin seorang teman curhat di support group kalau dia curiga suaminya bergenit ria (sebenarnya lebih parah, sih, tapi rasanya tidak pantas disebut di sini) sama mantan teman SD-nya. Lalu dibahaslah kasus itu ramai-ramai. Maklum ini bukan kali pertama kami mendengar cerita seperti ini dari orang yang sama. Teman lain lantas bertanya, “Apa yang akan kalian lakukan kalau suami kedapatan selingkuh?” Masing-masing tentu punya pendapat berbeda dan tentunya lagi pendapat itu dilontarkan dengan menggunakan logika bukan hati karena tidak mengalami hal tersebut *AAJB*.

Ada teman yang lantang berkata, “Bakal gue tinggal kalau dia berani selingkuh.” Lantas diralat, “Kalau tidak sampai berhubungan seks, mungkin gue bisa maafkan.” Ada lagi yang bilang, “Dulu sebelum ada anak-anak, gue bakal dengan mudah angkat kaki tapi melihat si sulung akrab banget sama ayahnya … mungkin gue akan lebih lunak. Entahlah.” Lalu apa jawaban saya? 

Sama sekali tidak terbayang kira-kira apa yang akan saya lakukan jika hal di atas terjadi *AAJB lagi*. Tapi mengingat saya tipe orang yang mengalah untuk menang … mungkin saya akan introspeksi dulu. Mungkin nggak pasangan berlaku begitu karena dipicu oleh kelakuan saya? (Ya, saya tahu tidak ada alasan yang membenarkan perselingkuhan … I’m just saying). Ketimbang menyalahkan orang lain penuh emosi, saya memilih untuk ngaca dulu. Dan dengan berpikir seperti itu, artinya … jawaban saya terhadap pertanyaan di atas adalah saya akan coba untuk mempertahankan rumah tangga.

Tapi saya juga bilang kalau kita harus punya titik puncak. Sampai di mana sebuah rumah tangga sepadan dipertahankan? Jika ditanya batas maksimal saya apa … saya tidak tahu. Saya tidak mau tahu🙂 Kalau kasus teman itu, di mana sang suami njeblos ke sekian kalinya di lubang yang sama … saya hanya bisa memberi masukan … pikirkan juga dengan akal, jangan hanya dengan hati. Easier said than done…I know. Mungkin karena saya produk dari pasangan yang bercerai setelah sekian lama bertahan dan saya lihat sendiri proses mereka jadi sama-sama capek … jadi saya paham sekali titik puncak itu ada … harus ada.

 

Untuk dua teman saya … kalian yang pegang kendali, bukan dia.

6 thoughts on “Kapan Harus Berhenti?

  1. gue sih nganggepnya itu salah satu ujian perkawinan…
    it always takes two to tango, selama kedua belah pihak masih mau bersama dan fix their flaws, lebih baik tetap bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s