Hadeh!

Bisa dibilang saya bukan tipe orang yang mudah gonta-ganti gadget. Biasanya karena sebelum membeli gadget saya sudah berpikir masak-masak soal pro-kontra gadget tersebut termasuk masa pakainya. Plus … tentu saja, malas mengeluarkan uang untuk itu dalam waktu yang berdekatan. Sama halnya waktu beralih dari ponsel bersistem operasi Symbian ke Blackberry, butuh waktu nggak sebentarlah untuk saya memutuskan untuk membeli si BB itu karena ponsel lama masih bagus dan berfungsi baik terlepas usianya sudah sekitar 4-5 tahun. Akhirnya memutuskan ganti karena berpikir BB akan mempermudah hidup, standarlah, ya … BBM dan push email. 

Apakah pemikiran saya itu benar terjadi? Apa hidup jadi lebih mudah? Betul, sih. Dan syukurnya nggak sampai membuat “ketergantungan”, yang banyak orang bilang kalau setelah ada BB klien akan bebas membombardir saya dengan pesan tanpa kenal waktu juga tidak terjadi. Kesal karena mendapat broadcast message berisi pesan asal-asalan atau jualan juga jarang banget. Sepertinya ini karena pemilihan teman BBM yang tepat, sih. Hahaha. Apa lagi, ya? Oh, teman-teman yang biasa berkumpul di YM Conference semua tumplek blek di BBG. Tambah asyik lagi. Mau ngerumpi atau konsultasi bisa dilakukan kapan saja.

Tapi … setelah beberapa waktu dipakai mulai, deh, si BB berulah. Pengkinian sistem operasi sudah mentok alias kalau mau pasang yang terbaru lagi, saya harus ganti ponsel. Belum lagi layanan penyedia koneksi selular yang saya pakai kacrut banget. Walaupun lebay tapi “frustrasi” adalah kata yang tepat. Tentu saja frustrasi, tiap beberapa waktu sekali harus restart karena hang. Padahal aplikasi yang ada tidak banyak dan rajin memindahkan data pula. Awalnya, sih, nggak ngoyo ganti ponsel … tapi ketika sudah mulai memengaruhi pekerjaan (Mimin susah update akun karena ganti akun di UberSocial pasti bikin ponsel jadi hang) dan juga terpengaruh oleh Leila, hihihi, akhirnya saya ganti ponsel juga. Usia si BB: 2.5 tahun.

Leila rajin banget kasih informasi soal Android, saking rajinnya saya pun termakan omongan manisnya. *malah nyalahin orang* Kenapa nggak iPhone sekalian? Karena oh, karena … rejekinya baru sampai Android. Hihihi. Ya, masih dalam prinsip yang penting sesuai dengan kebutuhan. Lalu akhirnya datang juga di mana saya harus mengirimkan broadcast message berisi pemberitahuan kalau saya tidak lagi akan memakai BB dan bisa dihubungi melalui cara “tradisional”, telepon/SMS juga cara “modern”, WhatsApp. Dan terjadilah apa yang sudah dialami banyak orang, saya dibombardir pertanyaan, “Kenapa?” yang dilanjutkan dengan “Lalu gimana dong kalau mau menghubungi?” -___-

Heran … padahal sebelum ada BBM (masuk ke Indonesia), orang bisa-bisa saja menghubungi saya. Masih ada opsi lain, kok. Saya, kan, cuma ganti sistem operasi ponsel, bukan pindah ke hutan. Hadeh. Awalnya saya mau mempertahankan si BB, demi BBM. Tapi lama kelamaan saya berpikir itu pilihan bodoh, buat apa buang uang berlangganan sesuatu yang sebenarnya sudah saya dapatkan dari ponsel baru. Mantaplah hati untuk menjual BB … yang disambut riuh rendah oleh teman-teman BBG, maklum Bu KepSeknya mau lengser. Tapi setelah mencoba beberapa aplikasi chatting berjamaah alias yang bisa buat grup, akhirnya “sekolahan” kami pindah ke WhatsApp dan malah “murid” lama yang sudah lebih dulu hijrah ke sistem operasi lain bisa bergabung kembali. Yay!

Perasaan setelah ganti ponsel? Hihihihi hidup damai tanpa restart.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s