Gagal

Buat saya, kegagalan paling besar yang pernah terjadi dalam hidup saya adalah saat saya harus memutuskan untuk kasih susu formula untuk Igo. Usaha sudah maksimal, nggak berhasil sama sekali. Zip. Nada. Saya mencoba berdamai dengan kondisi itu, ikhlas tapi sulit. Awal Agustus adalah salah satu periode yang sering membuat pikiran berkecamuk. World Breastfeeding Week.

Untuk para ibu lain, WBW adalah perayaan, peringatan, pengayaan ilmu … buat saya, penyiksaan. Saya seperti dihadapkan lagi pada situasi dulu … berulang kali. Emosi naik-turun. Mungkin saya belum berdamai 100 persen. Mungkin saya masih menyimpan “What if…” Entah.

Kemarin, seorang kawan baik curhat soal kondisinya sekarang, usia anak hampir 3 bulan. Tambal sulam dengan susu formula karena si ibu sempat dirawat di RS karena diare hebat. Konsultasi dan “kursus” ke konselor laktasi sudah dijalani beberapa kali. Menyusui dengan keras kepala pun sudah dilakoni. Nggak mengeluh sama sekali soal puting lecet, buatnya itu nggak bisa dibandingkan dengan emotional roller coaster yang sedang ia alami. Maju terus pantang mundur … sampai dia ada di titik merasa mau kolaps karena lelah emosi dan fisik. “Man, gue mau kasih susu formula.” Seketika, saya seperti dilempar ke lorong waktu, melihat Igo dikasih susu formula untuk pertama kalinya. Saya harus ngomong apa?

Lantas saya memakai topeng “konselor”. Kalau Bruce Wayne bilang topeng itu bukan untuk melindungi diri kita tapi melindungi orang-orang di sekitar kita. I was trying to protect her. Saya kasih tahu dia, nggak ada yang pernah bilang kasih ASI itu mudah. Semua punya perjuangannya sendiri. “Tapi mertua gue cerita, dulu dia mudah sekali kasih ASI.” Lalu saya bilang mudahnya orang, kan, berbeda. Bisa saja zaman dulu orang kalau mau menyusui, tuh, lebih santai … nggak ada tekanan. Informasi yang masuk juga nggak sederas sekarang. Sekarang ASI itu sudah jadi a way of life … kalau nggak ASIX, berarti aneh, wong ASI itu pasti keluar, suplai tergantung permintaan … dan nggak mungkin dong bayi nggak minta? P.R.E.S.S.U.R.E.

Topeng konselor bertahan sampai detik di mana saya sadar … kalau dia mau tanya soal ASI dan perjuangannya, dia nggak akan tanya saya. Akhirnya, saya bilang … motherhood itu berkaitan banget sama insting. Banyak orang bilang saat melahirkan anak, tuh, harusnya kita dikasih buku panduan alias manual-nya. Padahal sebenarnya buku panduan sudah ada … dalam kita, insting tadi. We just need to learn to trust it. Saya nggak bisa bilang ke teman saya itu apa yang harus dia lakukan, dia sudah tahu jawabannya. Dia pun tahu berat buat saya menanggapi pertanyaannya. Lalu saya bilang … jadi ibu non-ASIX itu nggak mudah, lho. The thought of you quitting keeps coming back, the look you get from people, bombardir informasi soal kebaikan ASI … semua siap menampar ibu non-ASIX setiap saat. Ada perasaan tercabik tiap kali mengaduk susu formula untuk anak. “Lo yakin siap menghadapi semua itu?” tanya saya. Dia diam saja.

Teman, bukannya saya nggak mau kasih jawaban atas kegundahan hati tapi keputusan itu pribadi sekali. Saya hanya bisa berbagi pengalaman dan berharap dirimu bisa mengambil keputusan bijak dari cerita tersebut. I believe you can.

5 thoughts on “Gagal

  1. Aduuuh…gw kayaknya senasib sama loe, Man. Dulu tahun-tahun pertama gw masih suka mellow kalo disinggung soal ASIX. Tapi sekarang mikirnya oh yeah, eranya udah lewat buat gw. Walopun kalo Athia punya adik kelak, semoga bisa ASIX. Dengan catatan : kalo punya emak bapaknya memutuskan nambah adik…

  2. *puk puk* i feel u… gwpun tambal sulam man…tapi i decided to give the best til the last drop sebagai kompensasinya. Awalnya emang sulit nerima. gundah gulana, dilema, penuh drama *halah* Apalagi kalau ada emak2 lain membanggakan anaknya lulus universitas asix (wth) perasaan negatif langsung berkecamuk dalam dada. Gw akui faktor internal menjadi kendala utama gw sukses asi. Mental dan wawasan gw belum seperti sekarang tapi juga, apa yang gw alami kemarin bukan berarti kegagalan semua. Buktinya dari pengalaman gw menjadi diri yang lebih flexible, lebih mendengar insting gw, lebih santai dalam parenting….:)) *beh ini nulis essay atau komen?*

  3. Pingback: *senyum* |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s