Pengalaman Baru

Kalau ditanya mau liburan kemana, kok, urus paspor … jawaban saya adalah … belum ada rencana sama sekali. Hihihi. Sebenarnya yang butuh bikin dalam waktu dekat itu Febri, tapi ternyata saya diharapkan punya oleh kantor, siapa tahu ada liputan ke luar negeri. Okelah kami bikin … lalu Igo? Tanggung rasanya kalau bikin berdua saja, jadi kami memutuskan untuk bikin paspor sekeluarga. Mudah-mudahan bisa memancing rezeki supaya bisa liburan ke LN, ya. (Mana aminnya, pembaca? :D)

Febri, si pemalas, maunya pakai calo. Saya, si medit, langsung menggunakan hak veto. Kan sekarang proses pembuatannya mudah. Ibaratnya modal kita cuma berkas data yang lengkap saja. Nggak berbelit-belitlah. Apalagi masih ada waktu cukup untuk mengurus sendiri, kenapa mesti pakai calo? Lagian, ya, kita seringkali misuh-misuh soal layanan publik yang katanya ribet, tempat nggak nyaman, dan banyak pungli. Ini sudah dikasih sistem yang lebih baik, kok, masih juga lari pakai calo? Karepe opo? Jadilah saya, sudah tentu, mencari tahu syarat pembuatan paspor. Ternyata hanya bawa berkas asli dan foto kopi KTP, akte lahir, kartu keluarga, ijazah, surat nikah, dan surat pengantar dari perusahaan. Untuk paspor Igo, dibutuhkan juga surat permohonan pembuatan paspor oleh orangtua bermaterai yang bisa didapat di koperasi kantor imigrasi.

Kami go show saja datang membawa berkas di atas. Nggak pakai unggah berkas secara online. Ambil nomor antre lalu beli map, formulir, dan surat bermaterai di koperasi. Saat menunggu giliran, saya mengisi formulir. Datang pukul 08.30-an dapat  no. 77, yang sedang diproses di loket no. 46. Begitu selesai mengisi formulir, ternyata pemanggilan sudah sampai no. 75. Cepat, kan? Berkas dicek petugas di loket, semua langsung oke, dan kami pun dapat surat panggilan foto dan wawancara untuk 2 hari kerja setelahnya. Mantap. O, ya, memang, sih, lebih ringkas lagi kalau kita sudah langsung bawa foto kopi masing-masing dokumen tapi khusus untuk pembuatan paspor anak kalau tidak salah foto kopi KTP orangtua harus dijadikan satu dalam kertas A4. Kalau nggak yakin, lebih baik foto kopi di sana saja, petugasnya sudah tahu.

Hari foto dan wawancara … datang bersama Igo lalu dapat nomor antre 111-113. Sementara yang diproses di loket baru no. 60-an. Kedodolan berawal saat saya bertanya pada petugas, apa yang harus dilakukan setelah dapat nomor antre. Dia menjawab duduk menunggu panggilan foto. Ya, sudah … kami langsung duduk di dekat ruang foto. Ketika giliran kami tiba, baru tahu kalau kami harus membayar dulu baru bisa difoto dan wawancara. DHUENG. Febri pun tunggang langgang ke loket pembayaran, untungnya tidak lama. Proses foto juga cepat … petugasnya memperbolehkan kami mengecek foto, lho. Hihi. “Cantik, kok, Bu … rambutnya nggak berantakan.” Oke, deh. LOL. O, ya, saya disarankan untuk menambah nama (maklum, nama cuma terdiri dari satu kata saja) ayah di belakang … siapa tahu ada rezeki ke Timur Tengah. Kalau ke sana, nama di paspor harus minimal tiga kata. Baiklah, saya turuti saja.

Sekarang kami tinggal tunggu paspornya jadi, deh. Paspor baru jadi empat hari kerja setelah foto dan wawancara. Awalnya kami mau coba jasa antar paspor (gratis, lho) tapi ternyata yang menerima di rumah harus si empunya paspor dan proses pengiriman memakan waktu 2 minggu. Lama dan tidak praktis. Sebenarnya yang harus diperhatikan saat mengurus dokumen seperti ini sendiri adalah mental. Benar, lho. Saya tipe cepat emosi, kemarin sempat kesal mendapat tanggapan khas petugas layanan publik yang asal jeplak. Tapi, ya, untung Febri bisa menenangkan saya. Haha. Ada beberapa orang bilang kalau salah satu yang diproses adalah manula dan anak-anak biasanya didahulukan … tidak terjadi pada kami. Antre sampai nomor dipanggil. Nggak masalah juga, toh memang harusnya begitu, kan? Ya, begitulah … kalau layanan publik sedang membenahi diri, kasih kesempatan dong, ya. Kalau kita lagi-lagi menyerah dan mengandalkan calo, kapan sistemnya bisa berjalan dengan baik?🙂

Febri sibuk balas email kantor, Igo tidur di pangkuan

PS: Total biaya pembuatan paspor per orang adalah Rp260.000 (termasuk map + formulir di koperasi sebesar Rp5.000). Kalau untuk  anak-anak, totalnya Rp267.000 (termasuk map, formulir, dan surat permohonan orangtua bermaterai). Kalau mau tambah cover plastik, beli di koperasi seharga Rp3.000 per buah.

2 thoughts on “Pengalaman Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s