Tentang Mahkota

Sekian belas tahun kenal Febri, rasanya gaya rambutnya sudah mengalami perubahan berpuluh kali. Dari mulai standar anak SMA pada zaman kami: belah tengah (kalau lihat fotonya pasti ngakak … tapi demi keamanan rumah tangga, saya tidak akan pasang di sini hihi), spike, cepak, sampai botak. Warnanya pun berganti-ganti, hitam … coklat tua, putih ala Eminem (kontras, ya, dengan warna kulit eksotisnya), sampai ala pelawak Mamiek Prakoso akibat salah bleach. Kenyang, deh, saya ditatap banyak pasang mata di jalan tiap kali Febri dalam mood mengubah tatanan rambut. zZzzZz.

Akibat masa jahiliah itu pula sekarang warna rambutnya didominasi putih alami alias uban, hahaha. Belum lagi masalah kulit kepala kering karena terlalu banyak pakai gel rambut. Gonta-ganti sampo supaya ketemu yang cocok dengan kondisinya sudah dilakukan … pokoknya lebih rempong perawatan dia, deh, daripada saya -___- Akhirnya satu hari dia capek dengan kondisi rambutnya, ditambah nggak tahan panas karena harus pakai helm tiap hari membuat Febri memutuskan untuk … botak saja. Jadilah suami saya itu rutin menyambangi barbershop (gaya, ya, istilahnya padahal, sih, cuma tukang potong rambut 7 ribuan dekat rumah) tiap 2-3 minggu sekali. Reaksi saya? Suka banget! Selain lebih rapi, Febri juga jadi lebih nggak bawel soal rambut. Hahahaha. 

Selain di “salon”, biasanya Febri dan Igo, yang bergaya rambut sama dengan ayahnya, potong rambut di rumah kakak ipar yang punya mesin potong rambut sendiri. Setelah beberapa waktu menjalani rutinitas potram seperti itu, kami pun berpikir untuk membeli mesin yang sama. Lebih enak punya sendiri, kan? Dimulailah perjalanan mencari-cari tahu merek dan harga oleh saya. Dasar perempuan … giliran barang yang bukan buat dia, jadi malas browsing.  Eh, tumben-tumbennya Febri telaten dan menemukan satu penjual yang ternyata rumahnya dekat dengan kami. Setelah tanya-tanya kelengkapannya … langsung, deh, transaksi. Ini dia penampakan si mesin:

Jadi, sekarang tiap 2-3 minggu sekali peran saya di rumah tambah satu: jadi tukang potong rambut. Nggak sampai di mesin saja … sebelum lebaran, saya sempat ke Pasar Mayestik sama mama. Di sana, kan, banyak, tuh, toko perlengkapan salon … saya pun membeli sikat (itu, lho, yang buat membersihkan rambut yang jatuh ke badan) dan juga jubah untuk potong rambut. Lumayan … keduanya saya beli dengan harga Rp40.000 saja. Potong rambut Igo juga jadi lebih gampang … sat set, selesai bisa langsung mandi. Memang, sih, di beberapa salon anak juga begitu tapi, kan, harganya mahal. Dari segi waktu juga fleksibel … kapan pun mau potong langsung bisa dilakukan. Begini, nih, gaya Igo kalau lagi dipotong rambutnya … sambil nonton Power Rangers Samurai di laptop:

Untung nggak di bawah pohon, ya😛

One thought on “Tentang Mahkota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s