Ketika Sumbu Sedang Pendek

Saat beberapa waktu lalu berurusan dengan kantor layanan publik, saya merasa gemas sekali. Sistem pelayanannya sudah lumayan oke. Calo masih ada tapi tidak terlalu mengganggu karena antrean tertib menggunakan nomor otomatis. Satu hal yang membuat darah berdesir *lagi … pemakaian istilah ‘aneh’* dan naik ke ubun-ubun adalah sikap para karyawan instansi tersebut. Bagaimana tidak … pengetahuan mereka akan prosedur dan produk nggak sama. zZzzZZz. 

Awalnya kami ingin menggunakan jasa pengantaran dokumen yang memang termasuk ke dalam layanan instansi tersebut. Saya pun bertanya ke bagian informasi … tahu jawabannya saat saya bertanya soal biaya? “Uhm, kayaknya gratis, deh, Bu.” Oke, nggak yakin dan sudah pasti nggak tahu jawaban benarnya. Ish. Di bagian loket penerimaan berkas lain lagi. Saking mereka sudah pahamnya … malah jadi songong ke kami-kami yang ingin membuat dokumen. Di bawah ini contoh percakapan yang beneran terjadi:

Satu

Saya tergopoh-gopoh menghampiri loket sesuai nomor yang tercantum di nomor antrean dan menjelaskan kepada petugas kalau berkas asli saya masih ada di loket sebelah alias Febri yang memang nomor antrenya hanya beda satu dengan saya.

Petugas: “Lho … Ibu mau buat berbarengan dengan suami?”

Saya: “Ya, suami dan anak.”

Petugas: “Yailah, Bu … satu nomor saja untuk bertiga. Nggak usah masing-masing ambil satu nomor.”

Saya: *siap lempar molotov*

Dua

Ibu di loket sebelah: “Mbak, saya tadi sudah dari sini … ini surat yang diminta, tadi masih belum lengkap. Mbak yang di sini mana, ya?” — ibu itu bertanya ke petugas yang melayani saya

Petugas: Mbak yang di situ lagi ke belakang. Lama, deh, dia ngetik.

Ibu itu lantas menghampiri petugas di sebelah kanan saya …

Ibu di loket sebelah: “Mbak, saya tadi pagi sudah ke sini ….”

dipotong oleh petugas dengan nada sok dan merendahkan 

Petugas: “Haha … saya juga dari tadi pagi di sini, Bu!”

*siap-siap bantu Ibu tadi cari parang*

Sedih banget, lho, melihat dan merasakan pelayanan publik seperti itu. Mencengangkannya lagi para petugas yang terlibat percakapan di atas itu masih muda! Bukan PNS angkatan lama … bahkan saya curiga … mereka usianya di bawah saya. Sangat nggak sopan, padahal mereka, kan, garda depan, lho. Kalau ingin menuruti emosi, saya mau banget jabanin omongan mereka. Tapi, ya, nggak perlulah … nanti nggak ada bedanya dong saya dan mereka?🙂

Semua orang yang kenal saya pribadi pasti bilang kalau muka saya itu jutek by nature. Haha … dan mereka memang benar. Tapi bukan lantas saya memang termasuk orang yang jutek, ya. Kalau diperlukan, bisa saja saya jutek. Mungkin in my line of work, saya pernah secara nggak sadar melakukan hal yang sama kepada orang lain … entah karena hari itu suasana hati lagi nggak enak atau PMS (standar banget alasannya) … tapi untungnya masih ada filter. Masih bisa berpikir batasannya. Kalau kita bete melakukan satu pekerjaan berulang kali (menerima dan memeriksa kelengkapan berkas misalnya), ya, bersyukur saja kalau kita punya pekerjaan. Ya, nggak? Lagian bersikap sopan dan baik ke orang lain, tuh, nggak ada ruginya, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s