Wired

Di zaman digital seperti sekarang, banyak orang punya akun di situs social media. Untuk (mencoba lebih) melindungi, beberapa social media punya fasilitas “gembok” alias akun tidak bisa dilihat oleh mereka yang tidak disetujui oleh si empunya akun. Saya adalah salah satu pengguna fasilitas gembok di social media. Memang ada yang berpendapat “Ya namanya juga social media … kalau digembok, gunanya punya akun tersebut apa?” tapi ya, untuk saya … saya lebih nyaman menggembok akun. Malam ini tiba-tiba muncul ide menulis pengalaman pribadi dengan akun social media … lucu juga. 

Awal Twitter hits di dunia maya, orang-orang sibuk mempermasalahkan “unfollow”. Sakit hati kalau ada “teman” atau teman (pakai kutip biasanya cuma kenal bukan beneran berteman in real life) memutuskan  untuk unfollow. Buat saya, silakan follow … silakan juga unfollow kalau memang nggak mendapatkan manfaat dari mengikuti linimasa saya. Sederhana. Apakah praktiknya saya melakukan “prinsip” di atas? Tentu saja dong … ya, ada satu kejadian yang membuat saya agak mikir, sih. Saya punya pengalaman lucu … lucu-lucu ironis gimanaa gitu. Ada satu follower dua kali unfollow saya. No worries. Serius! Tapi “anehnya” rikues untuk melihat akun social media saya yang lain dari orang itu tetap ada. Lucu, ya😛 saya, sih, berkesimpulan kalau mungkin yang bersangkutan eneg baca linimasa saya tapi tetap mau tahu soal hidup saya (menghindari kata “kepo” (tapi dipakai juga akhirnya)). Ya, biarlah … saya punya hak juga, kan, untuk memilih tidak meluluskan permintaannya?🙂

Masalah lain dari Twitter adalah #nomention keparat yang sering sekali membuat banyak pihak panas nggak jelas. Lagi-lagi saya memilih untuk cuek … mau beneran di-#nomention, ya, biar saja … dia melakukannya di linimasa dirinya sendiri, kok. Kalau saya GR lantas jadi malas baca … tinggal mute atau unfollow sekalian. Kadang hidup nggak sehitam-putih itu … ada rasa nggak enak kalau mau unfollow orang, wajarlah itu … hitung-hitung melatih kesabaran.

Kalau pengalaman diblok orang pernah nggak? Pernah🙂 sakit hati nggak? Jujur … awalnya ya … karena saya pikir kalau sampai saya harus blok seseorang berarti dia sudah merugikan saya sampai sebegitunya. Apakah saya sudah merugikan orang tersebut sampai sebegitunya? Ah, tapi lantas saya mikir lagi … itu, kan, pemikiran saya saja. Again, apa pun yang dilakukan orang dengan akun atau linimasanya adalah hak dia. Oke, deh … santai malih!

Soal blog … saya  termasuk orang yang menulis apa pun yang ada di otak saya tanpa maksud apa-apa selain menumpahkan emosi. Jadi saya memang tidak punya pemikiran soal “mengembangkan” citra diri blogger … apalagi to monetize this blog. Memang, sih, beberapa tahun lalu tanpa disangka saya berhasil membangun “CV” dari blogging. Tapi sekarang beda banget … siapa juga yang mau baca cerita random perempuan 30 tahun dengan kehidupan biasa banget? Kiat parenting nggak ada, how to- nggak ada juga … DIY? Boro-boro, bok, menggambar saja saya sulit. Haha. Begitulah.

Hani benar sekali … dunia digital itu sangat membantu kehidupan kita. Tapi … menurut saya … kita juga harus bisa santai menghadapinya. Sama seperti tiga ratus juta hal lain, pasti ada sisi minusnya … jadi, ya, harus bijak saja menyikapinya.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s