Soal Pencapaian

Beberapa waktu lalu terlibat percakapan seru dengan anak kantor, pas banget sebelum Vanya ulang tahun ke-30. Vanya merasa galau, hihihi … umur sudah 30 tapi, kok, pencapaian sepertinya gitu-gitu saja. Langsung, deh, disambut dengan koor pengakuan. Saya sendiri … nggak pernah, sih, merasakan galau sebelum ulang tahun tapi kalau lihat atau dengar cerita tentang teman se-level suka terbersit memang pertanyaan, “Kok gue masih begini aja, sih?” -___- . Namanya juga manusia, ya, kebiasaannya suka membandingkan diri dengan yang lain padahal situasi dan kondisinya nggak sama.

Lalu setelah koor pengakuan selesai, mulailah kata-kata mutiara nan bijaksini keluar dari mulut masing-masing. Haha. Kalau dirangkum kira-kira seperti ini: kalau lagi galau begitu, kuncinya adalah bersyukur. Jangan lupa kalau kondisi tiap orang itu berbeda, tentu saja hasil akhirnya berbeda pula. Dan jangan menghukum diri karena nggak mencapai target, bisa jadi target itu bukannya terlalu besar untuk kita tapi kita yang salah “menanganinya”. Target, tuh, mesti di-breakdown lagi jadi poin-poin yang lebih sederhana jadi achieve-nya lebih mudah. Benar juga, ya?🙂

Setelah ber-“ya, juga, ya” … lanjut lagi dong bahas soal pencapaian yang selama ini sudah kejadian dan yang belum. Haha teteup, ya, balik lagi. Nah, sekedar share saja ini beberapa poin yang saya anggap sebagai pencapaian hidup saya di usia 31 tahun ini:

Jadi ibu

Gila … big deal banget buat saya yang superegois ini. Dari awal pacaran sampai serius mau menikah dengan Febri, kami tidak pernah membahas soal anak :p Saya bisa membayangkan diri saya jadi pasangan hidup Febri tapi nggak ada, tuh, bayangan saya jadi ibu dari anak-anak kami. Yeah well untuk Renji pasti, tapi itu kasus berbeda🙂. Jadi … buat seorang Manda bisa melalui kehamilan, persalinan (dengan drama err … ya, begitulah), begadang bersama newborn, beradaptasi dengan banyak rencana keluar jalur karena kehadiran anak adalah prestasi spektakuler.

Berdamai dengan masa lalu

Buat saya, bisa berdamai dengan masa lalu itu penting banget. Capek, ya, membawa-bawa kesumat. Akhirnya saya memutuskan kalau sudah cukuplah saya marah. Toh nggak akan mengubah situasi. Dia akan tetap menjadi dirinya sampai entah kapan tapi kewajiban saya untuk menghormatinya tidak kenal waktu bahkan semakin lama saya marah, semakin bertambah dosa saya. Rugi banget, ya🙂 Saya lupa tepatnya kapan, saya memutuskan untuk let go of the past. Dan saya merasa nikmat hidup bertambah setelah mengambil keputusan itu. Alhamdulillah.

Keluar dari zona nyaman

Biasa berkutat dengan lembaran-lembaran kertas dan menatap monitor untuk menyunting teks membuat saya “nyaman” dengan kondisi nggak-perlu-ketemu-banyak-orang-dan-harus-berbasa-basi😀. Tapi, nggak disangka, hal itu malah membuat saya mandek. Namanya kertas sama teks, kan, nggak bisa ajak saya diskusi soal pekerjaan, ya :p. Kertas dan teks juga nggak bisa kasih masukan, kurangnya saya di mana … apa yang jadi kekuatan saya dalam bekerja. Jadi masuk ke kantor sekarang dan detik ini bertanggung jawab atas beberapa hal lintas departemen adalah shock therapy buat saya. Lucunya … saya menikmati terapi itu. Banyak terkejutnya tapi juga banyak tertawa. Kayak kuda, ya, kudu dipecut dulu -___- zZzZz. Nggak apa-apa … yang penting sekarang sudah di luar zona itu. Hihihi.

Sekarang ada beberapa target yang ingin saya capai di 2013, mudah-mudahan bisa didapat semua, ya🙂 AMIN. 

I like where I’m standing right now🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s