Gone Too Soon

Nggak banyak yang tahu kalau saya pernah punya sosok laki-laki yang kehadirannya sudah bisa mengisi kekosongan hati Mama. Nggak, saya nggak mau bilang beliau itu “ayah tiri” … kesannya gimana gitušŸ™‚ Proses masuknya Om B–begitu kami, anak-anak Mama memanggilnya–ke dalam keluarga kami bisa dibilang cukup mulus. Mama nggak pernah mendeklarasikan Om B itu pacarnya, tapi kami tahu. Kami sering pergi bareng-bareng … entah itu makan atau saya, yang waktu itu berkantor di Kuningan, pulang nebeng Mama dan Om B lalu kami mampirĀ ngopi. Om B itu sosoknya kaku … butuh waktu buat tahu selah becandanya. Tapi begitu tahu … langsung, deh, bisa ketawa-ketawa terus. Bukan tipe yang bawel juga … jadi tiap percakapan itu pasti meninggalkan kesan :)Ā 

Waktu saya tahu rencana pernikahan Mama dan Om B, saya restu banget. Om B kompatibel sama Mama. Mereka saling isi. Dan yang penting juga, kedua adik saya merasa cocok dengan beliau. Kami banyak menghabiskan waktu bersama, apalagi waktu mereka menikah saya lagi hamil muda jadilah si Mama dan Om B langsung ada di fase heboh-sambut-cucu. Di mobil, kalau lagiĀ mellow *yang mana cukup sering hahaha* Om B suka pasangĀ Truly-nya Lionel Richie, katanya buat si Mama :’) Waktu saya melahirkan, Om B hadir menemani, lhošŸ˜€ Duduk manis di ruang tunggu padahal itu tengah malam. Waktu sudah bisa dijenguk, dia cium saya dan bilang kalau dia bangga karena saya kuat. Sayangnya ke Igo? Jangan ditanya lagi … supersayang!

Semua indah sampai 16 Juli 2009 …Ā he passed away.Ā Serangan jantung di pangkuan Mama, di rumah mereka. Mama, betapa hebatnya, Ā memandu Om B denganĀ Laillahaillallah tanpa panik dan minta adik saya untuk telepon ambulans. Mama telepon saya ketika sudah ada di RS dan Om B dinyatakan meninggal dunia, Mama minta saya menyiapkan semuanya di rumah. Saya cuma bisa tertegun. Betapa pendeknya jodoh mereka. Sesampainya di RS, Mama sibuk urus administrasi sambil telepon sana-sini. Ketika mata kami bertemu, saya bisa melihat kehampaan di sana. Pelayat yang datang nggak habis-habis … menunjukkan kalau sosok Om B begitu baik di mata kerabat dan teman-temannya. Mama masih biasa saja, sampai ketika beliau dengarĀ Truly dan kemudian menangis diam-diam. Bisa ditebak lagu itu lantas terus menerus diputar si Mama di rumah, sekadar melepaskan rindunya pada Om B. Saya sendiri baruĀ ngeh … terakhir saya dengarĀ Truly itu, ya, sekitar 2009. Semalam nggak sengaja lihat kalau ternyata saya punya di HP. Saya pasang dan nangis aja gitu.

Sudah 3 tahun lebih, ya, Om B :)Ā We miss you a lot, you know.Ā 

gathering Sudiro terakhir bersama Om B

3 thoughts on “Gone Too Soon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s