Investasi Terbaik

Saya termasuk dalam kelompok orang yang bersyukur nggak punya masalah kelebihan berat badan, kalau kurang malah pernah😀 Dulu, sebelum menikah, berat badan standar saya 42-45 kg dengan tinggi badan 160 cm. Cungkring. Mana nggak punya curve sama sekali -__-. Setahun setelah menikah, berat badan melonjak 10 kg jadi 55 kg. Febri senang karena menurutnya berat sekian cocok dengan tinggi istrinya. Akhir kehamilan, berat badan ada di angka 69-70 kg lalu sekarang stabil (naik-turun) di angka 57-60 kg. Kalau ditanya, saya lebih merasa PD dengan berat badan segini karena memang badan lebih terlihat berisi … tapiii … perut ini, kok, susah diatur, yaaaa. 

Seperti yang saya sebut di atas, Febri justru senang dengan kondisi saya sekarang. Sesekali dia gangguin soal perut yang masih bak hamil trimester pertama atau love handle tapi nggak pernah mengeluhkan. Keluhan keluar justru karena saya, yang memang nggak terbiasa, jarang olahraga plus pola makan juga lama kelamaan berantakan banget. Harus diakui memang beda, sih, bawa badan yang pola makannya lumayan bener sama yang nggak. Sekitar sebulan lalu, Febri syok lihat timbangan … hihi, beratnya hampir menyentuh angka 90 kg walaupun tidak terlihat buncit atau gemuk. Dia memang tipe yang melebar jika berat badannya naik. Lalu dia mencanangkan mau gantikan nasi makan malam dengan havermut. Saya pun berpikir, kenapa saya nggak melakukan hal yang sama, ya.

BB & TB ideal, perut nggak ideal. Di sini terlihat ideal karena pakai shapewear.

Dimulailah perjuangan (padahal mah nggak berat) kami mengganti makan malam dengan havermut. Febri biasanya makan havermut dengan tambahan sedikit garam plus lauk biasa, saya malah nggak bisa … saya cuma bisa makan havermut kalau dicampur susu bubuk. Tidak apalah, pikir saya, lebih mengenyangkan juga, kan … mengingat saya mudah masuk angin :p hehe. Kami juga pantang mi instan dan khusus untuk saya, mengurangi drastis konsumsi Teh Botol, hanya boleh saat akhir minggu itu pun saya kebanyakan lebih memilih es teh manis atau air dingin. Febri rajin lari tiap akhir minggu, bininya cuma jalan cepat dan sesekali lari haha. Ya, biarlah namanya juga usaha. Dalam waktu 10-14 hari, berat badan Febri turun 4 kg dan saya, dalam waktu 3-4 minggu, turun 2.5 kg … dari 60 kg jadi 57.5 kg.

Bukan, lho, ya, saya nggak meributkan soal berat badannya. Saya sadar betul kalau berat badan dan tinggi badan cukup ideal. Saya bukan tipe yang berteriak-teriak bilang dirinya gemuk padahal badan sudah sebesar lidi. Saya melakukan program di atas murni karena mau memperbaiki pola makan saja, saya nggak mengurangi porsi makan juga, kok. Tapi memang belakangan porsi makan mengecil, mungkin karena sudah ada penyesuaian. Disyukuri saja. Biar bagaimanapun investasi terbaik yang bisa kita lakukan untuk keluarga adalah investasi dalam hal kesehatan tubuh, kan?🙂

 

 

2 thoughts on “Investasi Terbaik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s