It Paid Off

Semalam ngobrol virtual sama Gita. Ngalor ngidul soal rumah. Kebetulan Gita lagi cari rumah dengan ukuran lebih besar dari yang sekarang ditempati plus mau cek harga tanah juga buat adiknya. Lalu dia bilang kalau dia turut senang waktu tahu kami sudah resmi beli rumah … ya, dia tahulah seberapa ngilernya kami waktu main ke rumahnya. Huhu. Dia tanya pencarian kami menghabiskan waktu berapa lama sampai akhirnya dapat yang sesuai (harga dan luasnya). And then it hit me…

Kami dan H2-28 itu jodoh (ya, pastilah, ya, kalau nggak, ya, nggak bakalan beli). BANGET. Waktu 2010 Yana beli di sana, boro-boro kami  terpikir untuk beli juga … wong sibuk sama hitung-hitungan karena sesuatu hal. Febri pun kalau disinggung soal “Limo” pasti responsnya langsung: “Jauh, ah.” Songong. Bahkan, ketika saya menawarkan diri untuk ikut dia mudik ke Pamulang alias ikhlas kalau beli rumah di sana, Febri menolak mentah-mentah. Ya, maklumlah … beberapa tahun belakangan ini dia sudah ‘maju’ sekian puluh kilometer, kan? Lantas kami nggak pernah bahas lagi, tuh, soal rumah. (tolong jangan ditiru, ya, haha).

Lantas ada satu kejadian yang membuat darah saya mendidih soal rumah. Nggak perlu dijelaskan di sinilah, yang pasti saya jadi terpacu untuk mikir serius soal punya rumah. Again, seriusnya juga nggak seserius itu. Mungkin ini prosesnya, ya. Teruuuuus … sampai kira-kira 4 bulan lalu. Lagi ngobrol santai, lalu kebetulan bisa cek area sekitar Cinere dan Pamulang buat lihat perumahan … jalanlah kami lihat-lihat. Poin pertama yang jadi bahasan … apa lagi kalau bukan DP yang bikin bengek. Lalu entah kenapa, saya ajak Febri untuk lihat perumahan Yana lagi lalu ngobrol cukup lama dengan tim pemasarannya. Ah, DP-nya terjangkau oleh kami TAPI luas rumah yang kami inginkan sudah habis di-tek orang. Ya, sudahlah, ya. Toh kami memang carinya, kan, santai. Eh, beberapa hari kemudian, kami ditelepon! Ada calon pembeli yang KPR-nya tidak disetujui bank, jadi kami bisa tek kalau memang berminat. Kami berdua langsung bilang, “Oke! Kami ke sana!”

Setelah itu, obrolan kami tiap hari hanya diisi dengan bagaimana kami harus mencari kekurangan DP (haha) kalau memang rumah itu jodoh kami. Obrolannya pun lagi-lagi nggak serius. Supersantai. Semua dijalani dengan perasaan positif bangetlah. Sampai akhirnya kami menemukan solusinya … dan lantas kami mengumpulkan berkas untuk keperluan pengajuan KPR. Proses pengumpulan berkas juga nggak lama, Alhamdulillah. Lalu datanglah hari di mana kami wawancara lantas hari-hari penantian keputusan bank soal pengajuan kami itu. Waktu pihak pengembang telepon untuk kasih tahu permohonan kami disetujui bank, saya dan Febri senyum melulu. Memang betul yang dibilang sama hampir semua orang, mencari rumah itu seperti mencari jodoh. Semua mesti serba pas. Dan Alhamdulillah, kami sudah menemukan yang pas. Mungkin belum masuk kategori rumah idaman dengan segala fasilitasnya tapi it’s a start. Kami akan bikin H2-28 jadi rumah idaman kami … pelan-pelan :) 

10 thoughts on “It Paid Off

  1. “Waktu pihak pengembang telepon untuk kasih tahu permohonan kami disetujui bank, saya dan Febri senyum melulu.” :)) tau bgt rasanya, sama! krn pas bli rumah skrg ini, mikirnya klo disetujuin Bank, brarti emang ada rizikinya buat beli rumah, klo ga disetujuin yah emang belum waktunya..

    Barokalloh yaaa, smg mjd rumah rumahku surgaku🙂

    • Ahahaha betul banget. Kemarin juga sebenarnya kebat-kebit karena mikir cicilan juga tapi ah, kalau memang sudah jalan-Nya pasti sudah oke semua, kan?🙂
      Terima kasih doanya.

  2. YAY! Ikutan seneng setiap dengar ada yang sudah beli rumah. Buying a house is one of the biggest step in life,other than marriage and having a kid! Im happy for you. Next step, let’s make a house a home😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s