Terbaik Buat Siapa?

postingan random minggu ketiga April 

Beberapa hari belakangan ini banyak dihadapkan pada situasi harusnya-bisa-lebih-berempati. Kadang kita suka lupa, main berpendapat atau mengemukakan prinsip hidup ke publik tapi nggak melihat situasi dan kondisi. Misalnya, nih, waktu kejadian Lion Air Minggu kemarin ini. Banyak yang komentar, “Lha, lagian masih mau aja naik Lion.” Kadang, dalam hidup, kita harus melakukan sesuatu karena harus atau mengambil keputusan tertentu yang sebenarnya kalau ada pilihan lain pasti nggak akan dikerjakan. Siapa, sih, yang nggak mau dapat yang lebih baik, apa pun itu? Kalau disuruh pilih, pasti banyak yang memilih untuk menaiki maskapai Garuda ketimbang budget airline tapi, ya, istilah itu muncul juga karena ada pasar untuk maskapai yang anggarannya (lebih) terbatas, kan? Lagian … biarpun anggaran nggak berbatas juga, kalau memang rencana-Nya kita apes saat perjalanan, mau apa?

Dengan pengetahuan dan informasi kita punya dua pilihan; jadi lebih “pintar” atau jadi keminter. Termudahnya adalah mengasah empati. Soal urusan maskapai, misalnya, tunjuklah maskapainya, bukan malah “menghakimi” penumpang atas pilihan yang mereka ambil. Mengerjakan sesuatu itu bukan berarti kita setuju soal hal tersebut, bisa jadi karena itu pilihan terbaik yang saat itu ada di hadapan kita. Kondisi tiap orang, kan, berbeda.

Beberapa komentar yang saya dapat ketika menyebut lokasi rumah kami adalah, “Buset! Jauh amat?” Ya, memang🙂 Memang kemampuan kami masih jauh bangetlah dari prime location. Tapi itu yang terbaik yang bisa kami miliki saat ini. Dari semua tempat yang kami kunjungi, kompleks itulah yang berjodoh dengan kondisi kami. Kami hanya bisa bersyukur, karena masih banyak teman lain yang belum diberi jodoh rumah.

[tambahan setelah “disentil” Yana, saya dulu termasuk orang yang kasih komen buset-deh-jauh-amat (ke dia pula dan sekarang kami sekomplek! Kemakan omongan!). Hihihi. Maaf, ya, saya memang asal jeplak. Belum lihat realita. Kalau sekarang, Alhamdulillah sudah sadar😀. Terima kasih sentilannya, Yana🙂 *peluk]

Poin yang bisa saya ambil untuk diri sendiri dari postingan ini adalah untuk selalu mencoba melihat sesuatu dari perspektif orang lain. Mulut jangan asal jeplak, jari jangan asal ketik.

 

27 thoughts on “Terbaik Buat Siapa?

  1. heuheu, emang yang namanya komentar orang tuh suka tak terduga ya…
    sama Mand, gue juga dikomentarin melulu pas ambil rumah di tempat sekarang. yang jauhlah, macetlah, dsb. but what did they know? dulu gue sama suami ngayal bisa tinggal on the very same road tempat kita ngekos dulu, eh ternyata bisa kesampean.

    lagi-lagi, selamet ya untuk rumah barunya. semoga barokah dan jadi surga kecil di dunia🙂

    • Thank you🙂 Eh, lo baru pindah rumah, kan, ya?

      Ahaha sebenarnya postingan ini bukan soal itu, sih, tapi lebih ke “menempatkan diri di posisi orang lain dulu sebelum komentar” :p

  2. Kadang emang kepekaan dalam berkomunikasi seseorang itu rendah banget, masih mending kalau lawan bicara/komunikasi emang orang yang sudah dikenal lama (itupun harus tetap menjaga omongan), nah kalau lawan bicaranya orang yang tidak dikenal baik, ditambah mudah tersinggung pula? Selain orang tsb dapet image buruk, juga bikin drop orang yang tersinggung.

    Ini ngomong opo sih panjang bener muter-muter.. hehe, salam kenal!🙂

    • Semakin besar (menghindari kata “tua” tapi disebut juga, haha), semakin ngeh, ya, dengan omongan orang dulu … “Kalau ngomong, mbok, ya, dipikir dulu.” dan “Lebih baik diam.” :p

      Kadang-kadang gue lihat orang, tuh, asal jeplak karena mau memerlihatkan mereka ada “di mana”, prinsip hidupnya apa :p hehe.

      Salam kenal juga.

  3. Reblogged this on -ndutyke- and commented:
    Kata mbak Sanetya: “Poin yang bisa saya ambil untuk diri sendiri dari postingan ini adalah untuk selalu mencoba melihat sesuatu dari perspektif orang lain. Mulut jangan asal jeplak, jari jangan asal ketik.” ->> dicatet, mbak. semoga bisa aku terapkan juga🙂 tfs.

  4. betul.. intinya jangan judgemental. karena setiap orang/keluarga pasti punya pertimbangan masing2 untuk mencari apa yang terbaik buat mereka. dan yang terbaik buat satu orang belum tentu terbaik buat orang lain kan…

  5. Iya mbak, terkadang komentar orang ditengah musibah orang lain malah suka nyakitin hati korban musibahnya😦.
    Salam kenal mbak🙂

  6. jangan diladeni mba orang2 sakit jiwa kaya gitu, sebagian mereka sakit jiwanya dan hanya bisa bahagia manakala liat orang lain dalam kondisi yang kekurangan atau kesusahan ….

  7. lah kalau kayak dari baubau sini.. adanya cuma lion ama merpati..
    secara harga lebih murah merpati sih..
    tapi secara pelayanan dan ketepatan waktu, ya sejelek2nya lion masih mendingan
    jadi saya ya mau ga mau ambil lion juga klo mau pulang..

    • Hehe … sebenarnya menaruh contoh soal maskapai karena memang baru ada kejadian saja, sih, bukan bermaksud jadi membahasnya panjang lebar😀

      Ya, itulah … kurang peka saja, sih, sepertinya.

  8. Di era ini kan yang penting berkomentar seolah-olah paling pintar, pokoknya komentar dulu. Kalo enggak komentar nanti enggak up to date. Dan kalau sudah komentar, langsung merasa hebat😀 padahal yang baca pengen nampar.

  9. LOVE this post!
    Bener! Terbaik dan engga itu kan juga state of mind, kalo menurut gue terbaik belum tentu terbaik untuk lo dan begitu juga sebaliknya.
    Postingan yang simple dan bijaksana. Thumbs up! =)
    Salam kenal sekalian!

  10. rumah gw juga jauh di BSD, jauh banget kata beberapa orang apalagi dr rumah mertua di Mampang, ortu gw di Bogor dan kantor di pusat Jakarta. Untung Bapak Ibu kami yg lebih mendukung, bagi gw sama suami asalkan ortu kami memberi restunya kepada cucu2x tinggal “agak” jauh, omongan negatif adalah mari dilewatkan saja🙂. Lagipula dg harga rumah kami skrg sudah dpt lingkungan dg halaman yg lumayan, anak2x bisa bebas main di jalanan kompleks. Maksain beli di Jakarta saat ini malah dapat anak nonton TV melulu di rumah krn depan rumahnya jalan raya (gak bisa main di luar). Salam kenal ya.

    • Hehe. Ya, masing-masing punya pertimbangan pribadi. Baik secara finansial maupun tidak. Salam kenal juga🙂

  11. Aaah…berkunjung ke sini jg akhirnya, setelah visit blog celeb😀
    Setuju lah ama postingan lu Man..
    IMO, rasa empati itu butuh dipelajari juga, sama kayak kesabaran..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s