Blank Canvas

Buat mereka yang kenal saya dari lama, pasti sudah tahu kalau saya … nggak bisa dandan. Sudahlah nggak bisa, kondisi juga nggak memungkinkan buat eksperimen makeup alias coba beli produk tertentu buat tahu cocok atau nggak. Klop. Oh, belum lagi saya malas dikomentari orang. Tambah-tambahlah malas belajar dandan. Begitu masuk ke kantor sekarang, banyak orang bilang saya beruntung karena bisa “konsultasi” langsung sama suhu dandan Affi dan Amal. Tapi “keberuntungan” itu belum juga menggerakkan hati saya untuk bertanya dan belajar. Nah, waktu kantor mulai menerima banyak anak baru, di mana kebanyakan dari mereka adalah muda-mudi yang baru bekerja, Hani nyeletuk kalau kantor harus adakan Kelas Dandan (signature event Fashionese Daily) sekaligus sharing soal how to dress appropriately for work. Hore! *padahal waktu itu deg-degan

Pas hari H, saya sempat cerita juga ke teman-teman kantor kalau cara pandang orang ke kita kalau kita berpakaian rapi dan wajah cerah (karena makeup sewajarnya), tuh, sangat berpengaruh pada perlakuan mereka ke kita. Mungkin terdengar dangkal, ya, tapi betul, lho. Kebanyakan orang memang menilai kita dari penampilan. Misalnya, nih, saya mendapat perlakuan berbeda di saat meeting dengan menggunakan sepatu hak tinggi. Hihi … bisa gitu, ya? Padahal kalau dipikir-pikir, nggak ada hubungannya antara bahasan meeting dan sepatu. Isi otak dan manisnya hati memang penting tapi paketnya akan lebih komplet jika tampilan luarnya juga enak dilihat … ya, kira-kira beginilah.

Apa saja, sih, yang diajarkan waktu Kelas Dandan? Dari mulai membersihkan muka sampai aplikasi eyeshadow. Lumayan mencerahkan saya, deh. Pelan-pelan saya cicil isi makeup pouch, bukan produk yang “heboh”, yang biasa-biasa saja alias crucial untuk dimiliki seperti foundation, eye shadow warna netral, blush on. Ada teman yang bilang begitu kenal Kelas Dandan, kita nggak bakal bisa berhenti coba makeup ina inu. Dulu saya nggak percaya, sekarang? Percaya banget! Untung dompet belum lega-lega amat, jadi saya nggak celamitan beli macam-macam … paling beli produk yang saya lihat sepertinya bakal cocok sama kondisi saya. Reaksi Febri? Senang … tentulah, wong dia sebenarnya sudah bawel minta saya rapihan dikit. *salim

Eh, ternyata, si Neng disentil sama Tante Yeti soal kucel *ngakak dan jadilah beberapa waktu lalu obrolan kami didominasi soal makeup. Ih, mana sangka, sih, yaaaaaa, kami bisa ngobrolin itu? :p

 

permisiii … numpang foto setelah “keracunan” Revlon Just Bitten Kissable

8 thoughts on “Blank Canvas

  1. wah, iya sih ya mb.. tapi terkadang rasa malas mencoba dan beradaptasi dengan make up itu kadang bisa ngalahin pendapat orang ya mbak.. hehehe…

    • Sebenarnya kalau dalam kasus saya, malasnya itu karena merasa nggak bisa dan “takut” dikasih komentar, hehe. Lingkungan juga pengaruh, sih.

  2. woww, bright red lipstick! it looks good on you for sure😀
    kayaknya gue harus coba ikut kelas dandan juga nih, soalnya belum berani bereksperimen sama warna-warna di luar netral *alesaann*
    adain lagi dong, Mand… hehe.

  3. Gw mulai belajar dandan gara-gara FD (thanks FD hahaha) dan konsul sama suhu widi haha. Dulu gampang banget rasanya keracuan tapi untung sadarrr penggunaan make up ya biasanya gitu-gitu saja.

    BTW itu lipennya bagus dielo! Sial jadi penasaran sama lipen revlon ini haha

    • Haha jijay lo, Han😛
      Ho-oh, nih, ternyata cocok. Hehe. Cuma tinggal nebelin kuping aja sama komentar “Kok, tumben?” atau “Ade ape?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s