Bisa Karena Biasa

Mendadak arah percakapan ngalor ngidul harian saya dan Yana berubah …  kami bahas sedikit soal frugal living. Apa, sih, frugal living itu? Kalau menurut about.com, frugal living means smarter money management, it also means smarter spending. Kalau kita tahu pasti jumlah uang yang bisa digunakan, kita akan lebih bijaksana menggunakannya. Betul? Dan ketika kita lebih bijak menggunakan uang, artinya ada target-target yang semula kita sangka tidak bisa dicapai, ternyata bisa dilakukan. Ya, living better with less.

Saya dan Yana sering sekali membahas kenapa-si-A-bisa-beli-B-kok-kami-belum-bisa-juga. Biarpun faktor penentunya banyak tapi bisa jadi, kan, kami belum bisa begitu karena (sepertinya) kami belum memaksimalkan penghematan anggaran rumah tangga. Pffft.

Awalnya saya nggak ngeh banget soal frugal living ini. Setelah baca-baca … wah, sepertinya beberapa hal sudah saya terapkan dalam keseharian. Misalnya:

Sudah beberapa tahun ini saya membuat catatan detail pengeluaran kami. Jadi kami tahu pasti berapa uang yang masuk dan keluar.  Berapa yang bisa kami “foya-foya” dan kapan harus mengencangkan ikat pinggang. Febri memang memberikan semua penghasilannya kepada saya untuk diatur tapi anggaran untuk semua pos, ya, tetap hasil diskusi kami berdua yang disepakati bersama. Tiap Senin saya pasti melakukan pengkinian di anggaran kami dengan memasukkan angka pengeluaran Sabtu-Minggu sebelumnya. Tiap 6 bulan sekali, saya dan Febri diskusi soal laporan keuangan saya. Apakah ada pos yang anggarannya harus ditambah atau malah bisa dikurangi karena situasi.

Soal makan siang. Kami sepakat saya mendapat jatah uang makan sekian per bulan dan Febri sekian. Bagaimana kami memakainya, itu terserah masing-masing. Saya, si tukang belanja dadakan, awalnya bawa bekal dari rumah karena berpikir irit di pengeluran uang makan bisa menambah pos belanja saya, hihi. Jadi nggak ganggu cash flow. Febri pun ternyata berpikiran sama, dia bawa bekal makan siang karena mau mengalokasikan uang makannya sebagai uang latihan band. Tapi nggak 100 persen juga, sih, karena saya masih ingin pos tersebut digunakan sebagaimana mestinya alias, ya, betul-betul jadi uang makan. Lumayanlah buat makan siang bareng teman-teman kantor kalau lagi mood makan di luar. Itu pun batasannya cukup tegas … kadang saya bawa minum sendiri dari kantor, hahaha, ini sepertinya kelewatan, ya? :p Dan saya biasanya pesan menu yang itu-itu saja karena pertimbangan sudah tahu harga. (hanjirrr kalau ditulis, gue sepertinya merki banget).

Keperluan rekreasi kami mengalami pengorbanan cukup besar. Berawal ketika saya melahirkan Igo, prioritas otomatis berubah. Kongkow nggak bisa sebebas dulu, baik dana maupun waktu. Ini tentu membawa pengaruh cukup signifikan pada anggaran rumah tangga. Konser? Apalagi … biar kata, tuh, band sudah disuka dari balita, buat kami sekarang belum waktunya untuk bisa beli. Kami pun jarang banget kencan nonton bioskop atau makan berdua di luar (baca: restoran) karena merasa anggaran untuk itu lebih cocok digunakan bersama-sama Igo. Lho, kan, butuh waktu berdua, dong? Memang. Tapi saya dan Febri melatih diri untuk harus bisa puas dengan maraton Game of Thrones atau Spartacus hasil mengunduh. Atau … kami pergi makan berdua ke warung tenda pecel lele si ibu di Karang Tengah. Satu jam yang menyenangkan.

Soal baju. Febri paling kesal kalau saya berdiri depan lemari dan berkata, “Ih, mau pakai apa, nih, nggak punya bajuuuu.” Hahahaha. Jadi, suami saya tercinta itu membuat satu kebijakan di mana, tiap kali kami membeli baju, kami harus mengeluarkan baju/celana dalam jumlah sama. Tujuannya adalah supaya kami lebih aware dengan isi lemari. Untuk beli keperluan wajib seperti pakaian dalam dan kaus kaki kerja (untuk Febri), kami memanfaatkan momen sale besar-besaran.

Pemakaian kartu kredit kami betul-betul dipantau. Alhamdulillah kami tidak punya utang kartu kredit. Amit-amit jangan sampai ada. Kami memakai kartu kredit murni karena kemudahan yang ditawarkan, misalnya belanja tanpa tunai untuk grocery shopping bulanan, penawaran khusus makan di restoran atau bayar biaya medis yang sistemnya reimburse ke kantor. Jadi nggak ganggu cash flow. Memang, sih, kartu kredit punya risiko kepleset alias beli hal yang nggak perlu dengan pemikiran ah-bayarnya-bulan-depan-ini tapi so far kami baik-baik saja.

Walau sepertinya sudah lumayan frugal (beti sama merki, sih, ya, kalau saya, LOL) tapi masih ada beberapa hal yang ingin saya terapkan seperti:

Menurunkan anggaran TV berlangganan. Biasalah, yaaaaa, termakan bujuk rayu mbak CS yang menawarkan promo. Pertimbangan mengambilnya, selain lebih murah dari paket normal adalah kami jarang nonton bioskop jadi boleh, dong, kalau anggaran TV berlangganan agak naik sedikit? (kok, ini malah jadi mencari pembenaran)

Mengatur alokasi pemasukan tidak terduga. Bersyukur saya bekerja di bidang yang memungkinkan untuk dapat pemasukan tambahan alias punya side job. Biasanya, sih, dari honor tersebut saya sudah alokasikan sekian untuk foya-foya alias untuk bebelian barang yang di luar kebiasaan. Febri pun ada tambahan pemasukan dari bonus kantor. Nah, inginnya, dengan adanya rencana renovasi rumah, pemasukan ini lebih ketat lagi perencanaannya. H.A.R.U.S B.I.S.A.

Lebih aware soal waktu pembayaran biaya tahunan kartu kredit. Huuuh, suka terlewat. Jadi ditagih terus, deh. Mudah-mudahan selanjutnya semuanya bisa tanpa biaya tahunan!

Beberapa teman yang tahu kebiasaan saya mencatat detail pengeluaran (juga hal-hal yang kami lakukan untuk lebih hemat) berkomentar, kok, saya kami tahan, sih, melakukan itu semua. Ya, kalau pernah mengalami akun bank sangat sangat sangat tiris … bahkan untuk mengeluarkan 5 ribu rupiah untuk beli lauk makan siang saja sulit, past bisa, kok, melakukannya. Hanya butuh pembiasaan saja.

Menghemat sekian rupiah nggak akan bikin kita bangkrutlah, malah bisa membuka peluang untuk kita mendapatkan hidup yang lebih terencana, yang akhirnya berujung pada meningkatnya kualitas hidup. Ya, nggak? Who’s with me?

  

3 thoughts on “Bisa Karena Biasa

  1. hai salam kenal, Sanetya. Aku sukaaaa semuanya ini. DI sini juga lagi berjuang buat ngebenerin keadaan keuangan. Bener banget yg beware of little expenses itu. Trus pas belanja soal mempertimbangkan needs and wants itu, aku berusaha templokin kata kata si Warren Buffet yang “If you buy things you do not need, soon you will have to sell things you need,” Kalo gak begitu, semua mau dibeli hanya karena murah, cute atau ..KAYAKNYA perlu.

    • Salam kenal🙂
      Ah, ya, betul sekali Warren itu, hehe. Menurut gue, yang sering ubek-ubek forum perempuan, masih lebih aman beli barang karena “kayaknya” perlu ketimbang beli hanya karena semua orang punya atau beli sesuatu untuk bisa “dianggap”. Bahaya banget, tuh, kalau sudah begitu. Nggak akan ada habisnya.

      • iyes bener. Masalah ikut ikutan kalo udah jadi lifestyle dan mendarah daging emang gak akan ada habisnya. Kalo ‘kayaknya perlu’ masih bisa upgrade kemampuan untuk lebih jeli tau mana kebutuhan mana nggak ya hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s