#WBW2013

1 Agustus. Perayaan “World Breastfeeding Week” dimulai. Saya turut larut dalam semangat teman-teman di Mommies Daily tweet dan juga published artikel mengenai WBW2013. Ada rasa turut bangga saat baca tweet-tweet berbagi pengalaman menyusui. Sampai mata ini tertuju pada satu tweet yang “menuduh” Mommies Daily hanya RT followers yang bisa kasih ASI anaknya padahal di bio tertulis jelas kalau Mommies Daily itu “non-judgmental”, ibu itu bilang kasih juga, dong, apresiasi untuk para ibu yang gagal ASIX. Oh, man ….

Berkutat dengan komunitas digital (sering) membuat saya mengelus dada (yang sudah tipis ini #eh) karena beragam komentar para ibu di luar sana. Wajar kalau banyak yang bilang para ibu itu kompetitif. Bahas proses melahirkan, nggak ada habisnya. Ibu yang melahirkan normal mencibir ibu yang harus sectio. Semacam belum resmi jadi ibu kalau nggak ngengkes dan ngeden saat mengeluarkan anak. Padahal operasi juga belum tentu karena si ibu itu takut, bisa jadi karena kondisi kehamilannya. Soal ASI? Jangan ditanya … ada yang share pengalaman menyusui murni karena ingin berbagi tapi ada juga yang share karena ingin dilihat kalau dirinya mampu. Lalu yang gagal ASIX? Ada yang supersantai seperti saya, karena sudah berdamai dengan kondisi tersebut sejak lama, ada juga yang #gagalmoveon. Gagal move on-nya seperti apa? Kalau yang saya perhatikan, biasanya mereka akan terbaca (namanya juga di forum dan socmed) defensif, selalu ingin dipuk-puk juga ingin dapat pengakuan kalau mereka juga ibu yang baik. Lha …

Sudahlah … gagal ASIX, so what? Dunia nggak berhenti hanya karena ada yang gagal kasih ASIX. Saya bukan mengecilkan arti ASIX, ya. Maksud saya, kalau kita sudah usaha maksimal tetapi kondisi tetap tidak berpihak pada kita, mau bilang apa? Diulang, ya … “sudah usaha maksimal”. Jadi kalau ada yang terlalu berkoar-koar soal perlunya pengakuan/dukungan terhadap ibu gagal ASIX, jangan salahkan saya yang membatin, “Jangan-jangan dulu gagalnya karena dirinya malas, kok, haus pengakuan amat?” I know it sucked BIG time but life goes on. Rapor kita sebagai ibu nggak dilihat dari normal-sectio atau ASIX-tidak.

Gimana orang mau berhenti memberikan label kepada para ibu kalau perilaku para ibu sendiri yang membuat label-label itu tetap ada?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s