To Grow or Not To Grow

Tempo hari di BBG keluarga Febri lagi bahas soal salah satu keponakan yang baru tahu kalau dirinya hamil anak ketiga. Sudah bisa diduga setelahnya ada pertanyaan “Kapan nambah?” yang ditujukan ke kami. Awalnya saya jawab diplomatis, doakan saja diberikan oleh-Nya di waktu tepat. Tapi … hehe, sepertinya jawaban ini nggak memuaskan khalayak yang ada. Bermunculanlah “Kasihan Igo nggak ada temannya” dan “Igo sudah besar, sudah waktunya dikasih adik”, hadeuh.

Gini … kalau boleh jujur, saya nggak pernah membayangkan saya punya anak lebih dari satu. Heck, I never imagined myself as a mom let alone raising two (or more) kids. Kalau membayangkan jadi istri orang, sering. Jadi ibu … nggak pernah terbersit sama sekali. Bukannya saya nggak mau punya anak, tapi memang nggak terpikir saja. Ketika akhirnya dikaruniai Igo, saya yang egois dan suka keteraturan ini belajar banyak hal dari nol. Saya belajar kalau dengan adanya anak, you gotta have planS tetapi di saat yang sama juga harus bisa legowo, superikhlas kalau semua rencana babar blas. Ya saya tahu, tanpa adanya anak sebenarnya dunia berjalannya seperti itu … kita berencana, Tuhan menentukan. Tapi sebelum ada anak, saya bisa keras kepala sekali mewujudkan rencana yang sudah disusun. Memang agak kurang bisa ikhlas. Hihihi. 

Saat Igo menginjak usia 2 tahunan, Febri sudah tanya, kapan saya siap tambah anak. Waduh. Boro-boro siap … wong obrolan soal jumlah anak saja belum pernah kami lakukan. Akhirnya saya kompromi dengan Febri, kami diskusi banyak hal soal anak misalnya mau tambah atau tidak, kalau mau … tambah berapa, dan kapan waktu yang pas untuk kami (lebih giat) berusaha. Kami sepakat akan tambah satu anak. Sebenarnya Febri mau tambah dua, tapi saya berhasil menyampaikan argumen soal biaya pendidikan, dll, yang bisa diterima oleh Febri yang memang JAUH lebih bisa ikhlas daripada saya. Soal kapan … Febri secara penuh menyerahkan keputusan itu pada saya. Saya sendiri nggak mau menargetkan apa-apa tapi dalam hati, saya berdoa … saya minta pada Allah supaya saya diberikan keyakinan akan waktu yang pas. Ketika itu, hati ini memberikan masukan agar kami punya rumah dulu.

Sekarang, Alhamdulillah, rumah sudah ada walau belum kami tempati karena masih butuh tambahan ruangan. Igo juga tambah besar. Saya berkaca pada pengalaman sendiri, kalau boleh pilih, saya ingin jarak usia saya dengan adik-adik tidak sejauh sekarang (10 dan 15 tahun). Kemudian ada juga pertimbangan kesiapan tubuh untuk hamil anak kedua. Pernah baca di mana gitu kalau sebaiknya melahirkan anak kedua jangan lebih dari usia 35 tahun. Jadi … berangkat dari beberapa pemikiran di atas, saya mulai bertanya pada hati, kapan waktu yang pas? Saya mau hati ini siap dulu, supaya tambah yakin kalau Allah akan kasih di waktu tepat. Doakan saja, ya.

Kembali ke BBG, saya bilang saja apa adanya. Tiap keluarga punya prioritas masing-masing. Kebetulan prioritas keluarga kami bukan tambah anak dulu tapi beli rumah. Lagipula … saya ingin keluarga kami lebih siap secara finansial sebelum menyambut kedatangan yang kedua. Masa sudah mau anak kedua tapi pemikirannya masih ah-gampang-tiap-anak-bawa rezekinya-sendiri dan akhirnya sedikit merepotkan orang terdekat? But of course I didn’t type this to the group…I still want to be consider family by them. LoL.

Kalau Igo gimana? IGO IS SUPER EXCITED TO BE A BIG BROTHER! Sumpah … asli … heboh minta adik. Pesannya dua, perempuan dulu baru laki-laki. *menelan ludah*

Anak yang supersiap jadi kakak :-*

8 thoughts on “To Grow or Not To Grow

  1. Ehm, itu jg pertanyaan standar yg diberikan oleh keluarga ke gue, “kapan nambah (anak) lg?” Dan gak mungkin jg kan gue jawab sinis”situ mau biayain??” Hahahaha. Jadilah gue blg “pingin fokus sama 1 anak aja, teman bs berbagi sama sepupu2 dan teman sekolahnya”.
    Seriusan, i am blessed being a mother, tapi untuk pengalaman dari mulai sakit ngelahirin, bergadang, cari pengasuh yg bs dipercaya, dan nyuapin makanan ke anak aktif, gue rasa kesabaran dan toleransi gue cuma cukup 1 kali aja hahahhaa…
    *btw, dont mind my thoughts ya, ayoooo (terus) berusahaaaa!!!🙂

    • Sebenarnya gue kesal dengan pertanyaan2 basa-basi ngeselin seperti itu tp nggak bisa menghindar juga, ya. Biasanya gue jawab lempeng soal biaya tapi, ya, dibalikinnya seakan-akan gue nggak ikhlas dan nggak percaya kalau anak bawa rejeki sendiri. Haha. Anyway, no worries. Like I said, tiap keluarga punya prioritas masing-masing.

  2. halo mbak, salam kenal ya🙂
    pertanyaan dari keluarga besar itu memang ga akan ada habisnya ya mbak, teruuuss aja ditanya kapan ini kapan itu hehehe. tapi tetap semangat ya mba😉

  3. man, lo kan tau itu pertanyaan standart 5 menit pertama. tapi yah kalo ama lo dibahas mulu, gw mah curiganya sih lo yang mau.. *nembak. hihihih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s