“Bapak”

Saya nggak punya hubungan ayah-anak yang “normal” dengan papa. Terlalu banyak drama dalam path kami. Tapi in shaa Allah hati ini sudah tertata lebih layak dari sebelumnya, jadi hubungan yang ada saya usahakan terjalin baik-baik dan mudah-mudahan kualitasnya bertambah. Dengan kondisi tersebut, tentu saja saya tidak punya sosok ayah yang bisa dijadikan panutan. Tapi Allah memberkahi saya dengan dua sosok laki-laki yang mengiringi pertumbuhan saya; almarhum kakek (saya memanggil beliau dengan sebutan “ayah) dan Pak No. 

Pak No dulunya adalah sopir ayah waktu masih aktif di AL lantas lanjut ikut keluarga kami biarpun ayah sudah pensiun dan kerja sebagai sipil. Pak No ikut ayah dari sejak masih bujang sampai akhirnya berkeluarga dengan dua anak. Dia punya panggilan kesayangan buat saya, “Non”. Sekian puluh tahun ikut keluarga kami tentu hubungan dengan Pak No lebih dari sekedar pemberi kerja-pekerja, ya. Kami sudah seperti keluarga. Pak No tahu seluk-beluk, sejarah keluarga kami. Pak No itu tempat sampah curhat saya soal keluarga. Pak No pula yang jadi jembatan komunikasi antara saya dan nenek ketika kami membahas soal situasi Febri waktu awal saya dan Febri pacaran. Saking dekatnya kami, keluarga suka bercanda kalau sebenarnya saya adalah anak sulungnya Pak No.

Beberapa tahun belakangan, Pak No bikin usaha sendiri. Dia jadi kontraktor rumah. Pak No hanya datang ke rumah jika ayah atau nenek saya memanggilnya, biasanya mereka minta diantar wira-wiri. Mereka cuma mau diantar sama Pak No. Atau karena ada urusan pertukangan yang harus dikerjakan. Pas kemarin kami beli rumah, Pak No super excited. Dia tanya semua rencana perombakan kami, lalu sibuk kasih usul A, B, C supaya tahan lebih lama dan menekan anggaran. Saya merasa kalau dia bangga, seakan-akan anaknya sendiri yang berhasil nabung beli rumah :’)

Beberapa hari setelah lebaran lalu, Pak No main ke rumah. Silaturahmi ke nenek sambil menyampaikan kalau dia sudah memutuskan untuk menetap di kampung saja. “Capeklah di Jakarta, sudah puluhan tahun,” begitu katanya sebelum pamit. Dan ternyata benar …. Sabtu kemarin, kami dapat berita mengejutkan … Pak No meninggal dunia. Mendadak banget, jatuh di kamar mandi. Mungkin serangan jantung, mungkin stroke. Pak No memang punya riwayat darah tinggi. Pagi itu saya seperti tidak berfungsi. Saya nangis melulu. There’s a giant hole in my heart. [sampai menulis post ini pun mata saya hangat oleh air mata :'(]

Pak No, selamat jalan. Terima kasih atas kebersamaannya selama ini.

Pardi, Jarman … bapak kalian orang baik. Be proud of him.

10 thoughts on ““Bapak”

  1. 😥 Gak nyangka ending tulisan ini sedih banget. Turut berdukacita atas berpulangnya Pak No. Beliau pamit di saat yang tepat, setelah sekian puluh tahun tinggal di Jakarta dan melihat si ‘non’ (dan keluarganya) tumbuh dengan baik2.

  2. *berkaca-kaca pagi hari* tersirat ‘tugasku sudah selesai’ semoga almarhum diberikan tempat yg terbaik di sisiNya..turut berduka ya Maaan😥

    • T__T pas tahu ternyata jatuhnya di Jakarta, gue jadi mewek lagi. Kenapa tahunya telat. Padahal, sih, nggak akan mengubah keadaan juga. *sekarang pun berkaca-kaca huhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s