Ubu Ucil Pt. 2

Ih,  gila … rasanya lama betul nggak isi blog. Nggak tahu, nih, rasa ingin nulis, kok, nggak ada sama sekali. Ahaha, sebenarnya belakangan nggak ada keinginan buat ngapa-ngapain selain tiduran di rumah. Yes, I have news.

Igo mau jadi kakak *nyengir.

Buat yang belum tahu, kami memang berencana mau tambah satu anak lagi. Tapi yang belum kami sepakati adalah kapan, ya, mulai usahanya. Biasalah … saya terlalu realistis. Beberapa bulan lalu, saya terbangun tengah malam … lalu susah tidur lagi … sambil nonton TV tiba-tiba saja saya berpikir, realistisnya saya ini normal atau sudah di batas terlalu sulit ikhlas? Lalu saya reminiscing perjalanan kami setahun belakangan … betapa Allah sudah sangat bermurah hati memberkahi kami. Alhamdulillah. Kemudian saya merasa, kalau saya keukeuh beberapa poin dalam daftar kami harus berhasil dicoret dulu baru kasih adik buat Igo apa nggak kurang ajar, ya? Plus, tanpa saya sadari, waktu berjalan cepat sekali. Tahun depan Igo 5 tahun dan saya 33 tahun. Mau tunda berapa tahun lagi, Man? Lalu malam itu saya memutuskan, selesai siklus pil KB yang saat itu sedang dilakoni, saya tidak lagi mau meneruskannya. Toh, biasanya juga akan ada masa penyesuaian lagi, kan?

Bismillah … saya pun berhenti konsumsi pil KB.

Reaksi Febri waktu saya kasih tahu saya nggak KB lagi? “Ah, bohong.” Hahaha. Lantas dia malah balik bertanya, “Kalau hamil gimana?” Lah, gimana, sih, kemarin dia yang super-PD mau tambah anak, sekarang malah begitu. Woy! Haha. Saya bilang saya percaya Allah akan kasih di waktu-Nya bukan waktunya kita. Jadi kapan pun itu, ya, disyukuri dan diyakini itulah saat paling tepat. Kami juga nggak ngoyo, kok. Nggak lantas tancap gas macam nggak ada hari esok, hehe. Santai kayak di pantai. Setelah berhenti KB, saya sempat haid sekali kemudian “telat” sampai 2 mingguan. Feeling, sih, bilang kalau nggak hamil tapi karena penasaran, ya, tes kehamilan di rumah. Sesuai intuisi, memang negatif. Lantas siklus berikutnya si bulan datang seperti biasa. Kecewa? Biasa saja. Nggak ngoyo, kan?

Siklus setelahnya … saya malah nggak ngeh kalau belum kunjung haid, hahaha. Tahunya karena dapat peringatan dari aplikasi yang saya pasang di HP untuk mencatat siklus. “Apakah Anda lupa memasukkan hari pertama haid bulan ini?”–begitulah kira-kira. Eh, betul juga, ya … lalu saya lupa lagi. LoL. Satu pagi, saya bangun dengan feeling yang sama ketika saya “telat” pas Igo dulu … sepertinya ya, deh, nih. Kalau bulan sebelumnya saya niat luangkan waktu beli tes kehamilan, kali ini saya cuma Whatsapp Febri yang lagi ke bengkel, “Kamu dekat apotek, kan? Belikan tes kehamilan, ya.” Dasyar pemalas, haha. Besok paginya, hampir lupa mau tes, astagaaa … untung pas bangun tidur si Febri sigap, “Heh, itu mau ke kamar mandi bawa dulu alat tesnya.” LoL.

Dan, ya … begitulah hasil  tesnya, yang dipegang Igo dalam foto di atas. Febri supersenang. Igo apalagi. “Bu, nanti kalau adiknya sudah lahir, aku maunya dipanggil ‘Mas Igo’, ya.” Siap, deh, Mas. Back to our beloved, dr. Aswin. Beliau langsung kaget, kok, berbondong-bondong amat konsulnya (ada Febri dan Igo) … maklumlah, konsul terakhir itu beberapa bulan sebelumnya waktu siklus saya agak aneh dan lantas berganti merek pil KB, saya pergi sendiri. Begitu dicek, Alhamdulillah, waktu itu 6 minggu, sudah ada detak jantungnya walau terlihat masih keciiiil sekali. *mata ada gambar hati

Bedanya dengan hamil Igo dulu ada nggak? Ih, semua bedaaa. Memang, deh, kehamilan itu berbeda tiap waktunya. Nggak ada yang sama plek. Waktu Igo, saya gagah perkasa. Nggak pakai mual! Paling banter hidung saja yang jadi supersensitif. Makan nggak ada masalah. Sekarang? Mual! S.E.P.A.N.J.A.N.G H.A.R.I. Lemas. Lebih cepat capek. Makan juga jadi pemilih banget. Maunya yang gurih dibanding manis. Minum harus superdingin. Puncaknya, waktu kontrol lagi … tensi naik, BB turun, muka (menurut dr. Aswin) kuyu dan capek. Akhirnya saya disuruh istirahat di rumah, nggak ke kantor. “Kalau kerja dari rumah, boleh?” tanya saya. Boleh tapi sambil rebahan. #okesip

“Jangan stres!”, “Jangan kepikiran gitu, dong.”–pesan banyak orang. Ya, agak susah, sih, ya. Hehe. Easier said than done. Tapi harus diterapkan, kasihan juga si ubu ucil part 2. Ya, begitulah update-an dari saya … doakan sehat dan lancar sampai waktu melahirkan nanti, yaaaa …

PS: Eh, mosok tanggal saya tes kehamilan itu pas banget dengan 27. Angka kami. Haha.

10 thoughts on “Ubu Ucil Pt. 2

  1. aaahhh Maaak, baru ke sini lagi dan membaca berita bahagia iniiii :)). Barokalloh yaaa, smoga sehaaat terus ibu n bayi nyaaa. lancar n mudah hingga persalinan nantiiii *ikutan seneeeeeeng* hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s