Managing Expectations

Beberapa tahun lalu, saat mau menentukan akan di mana kami konsultasi kehamilan pertama, kakak ipar memberikan opini yang cukup membuka mata saya. Jadi, ketiga anak kakak ipar lahir di rumah sakit bersalin dengan pertimbangan … kan, hamil itu bukan kondisi badan sakit jadi mereka berpikir lebih baik tidak bersalin di rumah sakit “campur” untuk meminimalisir kontaminasi penyakit. Pemikiran “hamil bukan kondisi sakit” itu kemudian saya terapkan ketika akhirnya diberikan kesempatan oleh Yang Di Atas. Ya, tidak bisa dipungkiri kalau hamil memang lantas menciptakan batasan untuk saya tapi sebisa mungkin saya nggak menodong orang lain untuk memahami apa yang sedang saya jalani kecuali memang ada surat dokter yang pastinya dikeluarkan karena ada alasan logis. Pagi ini saya bangun dan mendapati timeline media sosial diwarnai oleh caci maki orang kepada seorang wanita muda yang Path moment-nya di-capture kemudian disebarluaskan. Di dalam akun Path-nya (yang jumlah temannya dibatasi itu) wanita muda ini menyampaikan kekesalannya pada ibu hamil yang minta pengertiannya untuk memberikan kursinya saat menumpang KRL. Menurut wanita muda itu ibu hamil harusnya paham kondisi juga, sudah tahu penuh, ya, naik dari stasiun awal, dong, biar dapat duduk. Or something like that lah. Pastinya reaksi publik bisa ditebak. Reaksi pertama saya juga kesal … tapi nggak sampai memaki atau menyumpahi, sih.

Waktu hamil Igo, saya mobile dengan menggunakan transportasi umum (bus TransJakarta, angkot, serta ojek). Nggak jarang saya mengalami situasi di mana saya nggak dapat tempat duduk karena bus penuh. Berhadapan dengan mereka yang pura-pura nggak tahu ada ibu hamil dengan beragam cara supaya nggak harus kasih tempat duduknya? Sering. Melihat mereka yang nggak hamil, nggak difabel, bukan manula, terlihat sehat tapi berakting, misalnya masuk angin (karena begitu duduk, wajahnya ceria dan bisa main HP tanpa terlihat pucat lagi) demi dapat duduk? Hihihi pernah banget. Alhamdulillah, selama hamil itu saya nggak pernah berada dalam situasi harus minta pengertian orang untuk memberikan saya kesempatan duduk. Entah, ya, tapi saya merasa kalau nggak perlu-perlu amat saya nggak akan minta orang lain untuk merelakan kursinya buat saya hanya karena saya hamil. Lain halnya jika saat itu saya sedang tidak sehat atau merasa ada yang tidak enak. O, ya, sekedar cerita … saya mengalami, tuh, antre di pintu khusus ibu hamil halte TJ Ragunan. Lalu gimana pendapat saya? Antrean lebih pendek, jelas … tapiiii bukan berarti sesama ibu hamil itu bisa berempati juga, lho. Nggak jarang saya diselak oleh sesama ibu hamil, salah satu modusnya adalah senderan di dekat pintu halte dan begitu bus datang, dia langsung “merosot” ke dalam bus. Hyuk mari.

Contoh lainnya … sekarang, di trimester ketiga, saya kembali merasakan sulitnya bermanuver saat beraktivitas. Boro-boro manuver, wong gerak biasa saja mulai terbatasi. Bisa ditebak tantangan saya, kan? Yup, saat harus bergerak di keramaian atau ruang sempit. Ambil contoh di mal atau trotoar, lagi jalan lalu berpapasan dengan orang … seringkali mereka cuek dengan kondisi saya padahal saya mengalami kesulitan untuk belok. Kesal? Wajar. Atau saat jalan-jalan di mal Jakarta yang ukurannya gadang bana dan harus menggunakan lift untuk mencapai lantai tertentu … begitu pintu terbuka, orang yang menunggu berbondong-bondong masuk tanpa memberikan kesempatan untuk yang di dalam keluar terlebih dulu atau hanya memberikan celah keciiiil untuk keluar. Mana muaaaaat? Gedeg? Banget!

Apakah saya kesal kalau melihat kecuekan orang lain terhadap kondisi hamil saya? Kesal, sih, tapi nggak berlarut-larut. Itu salah satu risiko hamil dan faktanya, empati orang nggak selalu selevel, bahkan walaupun orang tersebut pernah berada dalam posisi yang sama dengan kita. So I chose to manage my expectations. Nggak usahlah berharap orang memahami, saya berusaha untuk jaga diri sendiri saja. Misalnya saat berpapasan dengan orang lain tadi … ya, pahami kondisi diri saja kalau susah bermanuver, jadi lebih baik saya lebih awas dengan keadaan lingkungan dan berhenti untuk mempersilakan lawan untuk jalan melewati saya sebelum saya melanjutkan perjalanan. Bisa jadi juga orang yang bersinggungan dengan kita dalam keseharian walau terlihat sehat sebenarnya kondisinya lagi nggak fit banget tapi dia memilih untuk nggak “pengumuman” untuk diistimewakan.

Soal moment Path yang ramai dibicarakan … menurut saya, dia kurang bijak menyusun kalimat dan mungkin di-post saat emosi masih di ubun-ubun. Pelajaran, ya, kalau lagi emosi, nggak usah buka-buka akun media sosial. Hehe. Lagian, ya, saya malah lihat ada isu lain yang lebih menarik  … Path itu, kan, temannya terbatas … kita bisa pilih dengan siapa kita share akun tersebut artinya seharusnya, sih, privasinya lebih terjaga ketimbang Twitter, misalnya, tapi ada teman si wanita muda itu yang “tega” mengambil screen shot dan menyebarluaskannya. Hmmm ….

 

*zzzz akhirannya nggantung karena mood nulis mendadak babar blas

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s